- Emas Antam stabil di level tinggi pada Selasa, dengan harga 1 gram dipatok Rp2.652.000, mencerminkan minat lindung nilai domestik yang masih terjaga.
- Emas global bertahan di area USD 4.570-4.580 per ons troy, meski terkoreksi tipis, seiring pelaku pasar menahan langkah menjelang rilis inflasi AS dan menakar arah kebijakan The Fed.
- Risiko geopolitik dan isu kebijakan AS menopang sentimen safe-haven, sementara ketidakpastian suku bunga global membuat emas diprakirakan tetap sensitif terhadap katalis makro berikutnya.
Harga emas batangan Antam pada Selasa, 13 Januari 2026, bergerak stabil di level tinggi, seiring pasar global masih menimbang ulang risiko ekonomi dan geopolitik yang memengaruhi logam mulia. Di pasar internasional, emas spot secara umum diperdagangkan di level tinggi pada sesi pagi ini, mencerminkan permintaan safe-haven yang tetap terjaga menjelang rilis data penting.
Di dalam negeri, harga emas Antam relatif kuat di berbagai pecahan. Berdasarkan data LogamMulia.com, emas batangan 1 gram dipatok Rp2.652.000 atau Rp2.658.630 termasuk PPh 0,25%, naik Rp21.000 dibandingkan harga Senin yang tercatat di Rp2.631.000. Sementara itu, emas 5 gram hari ini tercatat di Rp13.035.000 (Rp13.067.588 termasuk pajak) dan emas 10 gram berada di Rp26.015.000 (Rp26.080.038 termasuk pajak). Pergerakan ini menegaskan minat investor domestik yang tetap mengandalkan emas sebagai lindung nilai di tengah volatilitas global.
Di pasar global, harga emas dunia pada perdagangan Selasa bergerak sedikit terkoreksi namun tetap bertahan di level tinggi, dengan emas spot diperdagangkan di sekitar USD 4.570-4.580 per ons troy pada awal sesi Eropa. Meski melemah tipis dibandingkan sesi sebelumnya, posisi harga tersebut masih mencerminkan minat lindung nilai yang kuat, seiring pelaku pasar menahan langkah menjelang rilis inflasi AS dan tetap mencermati dinamika kebijakan serta geopolitik global.
Dari eksternal, pergerakan emas global masih dipengaruhi ketidakpastian arah kebijakan Federal Reserve. Indeks Dolar AS (DXY) bertahan di sekitar 98,90, sementara pelaku pasar menunggu rilis inflasi AS (IHK) bulan Desember yang berpotensi memberi petunjuk lanjutan terkait arah suku bunga The Fed. Pasar masih memprakirakan dua kali pemangkasan suku bunga mulai Juni, meski peluang suku bunga bertahan pada pertemuan 27-28 Januari mencapai sekitar 95%, menurut CME FedWatch Tool.
Tekanan terhadap dolar AS juga dipicu rilis Nonfarm Payrolls (NFP) Desember yang lebih lemah dari prakiraan, meski penurunan tingkat pengangguran dan kenaikan upah menunjukkan pasar tenaga kerja masih relatif kuat. Sejumlah pejabat The Fed menegaskan kebijakan moneter saat ini berada pada posisi yang cukup seimbang, membuat pasar cenderung menunggu konfirmasi tambahan dari data inflasi sebelum membentuk arah baru.
Di luar faktor moneter, sentimen safe-haven tetap terjaga menyusul meningkatnya ketidakpastian politik dan geopolitik. Penyelidikan kriminal pemerintahan Presiden AS Donald Trump terhadap Ketua The Fed Jerome Powell kembali memunculkan kekhawatiran atas independensi bank sentral AS. Di saat yang sama, ketegangan geopolitik meningkat setelah Trump membuka opsi respons keras terhadap Iran, termasuk rencana penerapan tarif tambahan 25% bagi negara yang tetap menjalin hubungan dagang dengan Teheran. Kombinasi faktor ini menjaga daya tarik emas sebagai aset lindung nilai.
Ke depan, pergerakan emas domestik berpotensi tetap sensitif terhadap hasil rilis inflasi AS. Selama ketidakpastian arah suku bunga The Fed dan risiko geopolitik belum mereda, harga emas diprakirakan bertahan di level tinggi, dengan pasar menunggu katalis yang lebih tegas untuk menentukan arah lanjutan.
Emas Global Koreksi Tipis di 4.580, Struktur Ascending Triangle Masih Menjaga Bias Naik

Dari sudut pandang teknis, emas global (XAU/USD) pada perdagangan Selasa terkoreksi tipis setelah gagal melanjutkan dorongan di area atas, dengan harga terakhir diperdagangkan di sekitar USD 4.580 per ons troy, melemah ringan sekitar 0,3% secara harian. Meski demikian, struktur pergerakan masih berada dalam koridor Ascending Triangle, menandakan bahwa koreksi saat ini lebih menyerupai jeda alami ketimbang sinyal pembalikan tren.
Secara struktur, rangkaian higher low masih terjaga, menunjukkan bahwa minat beli belum sepenuhnya surut. Area 4.580-4.600 tetap berfungsi sebagai zona penawaran utama yang menahan laju kenaikan, sementara penurunan harga cenderung tertahan di atas batas bawah Ascending Triangle. Pola ini mengindikasikan bahwa pasar masih berada dalam fase akumulasi terkontrol, dengan pembeli masuk secara bertahap pada setiap pelemahan.
Dari sisi momentum, Relative Strength Index (RSI) harian berada di kisaran 68, sedikit melandai namun masih di area tinggi, menandakan dorongan naik mulai melambat tanpa sinyal pembalikan yang tegas. Sementara itu, harga yang tetap bertahan di atas Simple Moving Average (SMA) 50-hari di sekitar USD 4.025 mengindikasikan tren menengah masih konstruktif, sehingga koreksi yang muncul cenderung dipandang sebagai jeda konsolidasi sehat.
Secara keseluruhan, emas global masih berada dalam fase konstruktif dengan bias naik, meski pasar saat ini tampak menahan langkah menunggu konfirmasi lanjutan. Penembusan bersih di atas area 4.600 diperlukan untuk membuka ruang kenaikan berikutnya, sementara kegagalan menembus resistance berpotensi menjaga pergerakan tetap konsolidatif dalam jangka pendek, dengan pasar yang menunggu katalis makro selanjutnya.