Artikel ini ditinjau dan berdasarkan analisa oleh: Iswardi lingga, CSA, CRP, CTAD
Krisis Greenland telah berkembang dari sengketa teritorial menjadi ancaman perang dagang berskala besar antara Amerika Serikat dan Uni Eropa, dengan potensi retaliasi tarif mencapai €93 miliar ($107 miliar) yang mengancam stabilitas pasar saham global dan memicu lonjakan harga komoditas strategis.
Eskalasi konflik diplomatik antara Washington dan Kopenhagen telah memicu rangkaian sanksi dan tarif yang berpotensi menimbulkan spiral kerugian bagi kedua belah pihak, dengan dampak meluas ke rantai pasok global dan pasar keuangan.
Krisis ini telah memicu perang dagang baru antara AS dan UE, dengan potensi retaliasi tarif senilai €93 miliar (USD107 miliar) dari UE terhadap AS, pembekuan perjanjian dagang, serta ancaman terhadap rantai pasok global, khususnya di sektor mineral kritis dan energi.
Eskalasi Tarif dan Retaliasi
Pengerahan pasukan Eropa ke Greenland dalam Operasi Arctic Endurance, yang dipimpin Denmark dan didukung Inggris, Prancis, Jerman, Swedia, Norwegia, Belanda, dan Finlandia, memicu respons keras dari Washington berupa ancaman tarif 10% yang meningkat menjadi 25% pada Juni terhadap delapan negara Eropa dan Inggris.
AS menilai pengerahan pasukan sebagai ancaman langsung terhadap kepentingan nasionalnya, sementara UE dan negara-negara Eropa menegaskan dukungan penuh terhadap kedaulatan Denmark dan Greenland.
Tarif AS terhadap negara-negara Eropa akan meningkatkan biaya ekspor, menekan laba perusahaan, dan memicu inflasi di kedua kawasan. UE merespons dengan ancaman tarif balasan, pembekuan perjanjian dagang, dan pembatasan akses perusahaan AS ke pasar Eropa.
Dampak Sektoral: Pemenang dan Pecundang
Sektor yang paling terdampak meliputi farmasi, logistik, energi terbarukan, dan barang konsumen. Di sisi lain, sektor pertahanan dan pertambangan, khususnya rare earth, justru mendapat keuntungan dari lonjakan permintaan dan kontrak baru.
Sanksi sektor strategis diproyeksikan akan menyebabkan gangguan pada industri farmasi, otomotif, teknologi, dan pertahanan, sementara pembekuan perjanjian dagang akan mengakibatkan penurunan arus perdagangan dan ketidakpastian investasi.
Proyeksi Pasar Saham Global
Ketidakpastian geopolitik mendorong aksi jual di pasar saham global, terutama di sektor yang sensitif terhadap perdagangan internasional seperti otomotif, barang mewah, dan manufaktur berbasis rantai pasok global.
Proyeksi pergerakan pasar saham berdasarkan tiga skenario eskalasi menunjukkan koreksi 1,5% pada skenario moderat dengan retorika saja, koreksi 4,0% pada skenario tinggi dengan pemberlakuan sanksi dan tarif, dan koreksi tajam hingga 10,0% pada skenario ekstrem dengan konflik militer.
Kondisi risk-off, aksi jual masif, dan volatilitas tinggi diperkirakan akan mendominasi pasar, meskipun sektor defensif cenderung lebih tahan terhadap tekanan.
Lonjakan Harga Komoditas Strategis
Mineral dan energi berpotensi menguat karena risiko pasokan yang terganggu. Harga minyak dan gas diproyeksikan mengalami volatilitas tinggi dengan potensi kenaikan 2,0% pada skenario moderat, 5,0% pada skenario tinggi, dan 12,0% pada skenario ekstrem, didorong risiko pasokan, gangguan rantai suplai, dan ketegangan di wilayah Arktik.
Rare earth diperkirakan mengalami kenaikan harga signifikan karena ketidakpastian pasokan dari Greenland, perang dagang, dan nasionalisme sumber daya. Greenland memiliki posisi strategis di Arktik dan kaya akan sumber daya mineral yang menjadi kunci dalam persaingan teknologi dan keamanan global.
Komoditas industri lainnya diproyeksikan mengalami fluktuasi tergantung lokasi konflik dan rantai pasok global.
Supply Shocks dan Nasionalisme Sumber Daya
Ketegangan geopolitik di wilayah kaya sumber daya seperti Greenland dapat memicu kekhawatiran pasokan atau supply shocks, mendorong harga komoditas strategis seperti rare earth, minyak, dan gas naik tajam.
Nasionalisme sumber daya dan pembatasan ekspor oleh negara produsen memperkuat reli harga dan meningkatkan volatilitas pasar global. Langkah AS didorong oleh kebutuhan strategis persaingan dengan Tiongkok dan Rusia, sementara krisis ini membuka peluang pengaruh baru dari kedua negara untuk wilayah Arktik dan Eropa.
Dampak pada Emerging Markets
Ketegangan geopolitik dan perang dagang mendorong arus modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Investor global cenderung menarik dana dari aset berisiko dan memindahkan ke safe haven seperti USD, CHF, JPY, dan emas.
Hal ini menyebabkan depresiasi mata uang negara berkembang, peningkatan volatilitas, dan tekanan pada pasar saham domestik. IHSG dapat mengalami tekanan akibat sentimen global negatif dan potensi penurunan ekspor jika terjadi perlambatan ekonomi global atau gangguan rantai pasok.
Dampak terhadap Indonesia
Sektor manufaktur berbasis impor, transportasi, dan perbankan menjadi yang paling rentan terhadap depresiasi rupiah dan kenaikan biaya input. Sebaliknya, sektor energi, batu bara, perkebunan, dan logam seperti nikel dan tembaga dapat diuntungkan oleh kenaikan harga komoditas global.
Perusahaan eksportir dengan pendapatan USD berpotensi mencatatkan keuntungan selisih kurs. Namun terdapat potensi anomali dimana negara berkembang bisa menjadi tujuan alternatif jika ketegangan terjadi dalam jangka panjang, mengingat krisis ini melibatkan negara-negara yang berada dalam aliansi yang sama.
Perbandingan Historis
Krisis Greenland memiliki kemiripan dengan aneksasi Krimea 2014, yang memicu pelemahan rubel Rusia lebih dari 50% terhadap USD dan EUR, kejatuhan pasar saham Rusia, dan penguatan tajam aset safe haven seperti emas dan CHF. Sanksi ekonomi dari Barat menyebabkan penurunan arus modal, kontraksi ekonomi, dan gangguan rantai pasok global.
Krisis Teluk Persia 1990-1991 juga memberikan preseden penting, ketika invasi Irak ke Kuwait memicu lonjakan harga minyak hingga 100%, inflasi global, dan flight-to-quality ke USD, emas, dan obligasi pemerintah AS.
Perang Rusia-Ukraina Februari 2022 memicu kenaikan harga emas, komoditas, dan saham sektor pertahanan, namun juga memicu inflasi besar di Eropa dan AS serta menekan sektor perbankan.
Rekomendasi Strategi
Untuk investor moderat agresif, peluang terbuka untuk memanfaatkan volatilitas komoditas dan saham di sektor yang sensitif terhadap geopolitik, termasuk energi, pertahanan, dan manufaktur berbasis impor.
Perusahaan dengan eksposur ekspor-impor tinggi perlu memperluas manajemen risiko, terutama risiko volatilitas mata uang dengan lindung nilai, melakukan diversifikasi pasar, dan mengamankan kontrak pasokan. Sektor yang diuntungkan oleh kenaikan harga komoditas harus memanfaatkan momentum untuk memperkuat neraca keuangan dan investasi jangka panjang.
Investor institusional perlu meningkatkan pemantauan risiko geopolitik dan melakukan rebalancing portofolio secara dinamis sesuai perkembangan situasi, dengan penggunaan instrumen derivatif untuk lindung nilai terhadap risiko nilai tukar dan harga komoditas yang semakin penting.
Krisis Greenland tidak hanya mengancam kohesi NATO dan memperkuat aliansi strategis Eropa, tetapi juga menciptakan ketidakpastian tinggi di pasar keuangan global dengan implikasi jangka panjang bagi perdagangan internasional dan rantai pasok strategis.