Dalam praktik trading—baik forex, indeks, maupun komoditas—tidak ada strategi yang selalu menghasilkan profit tanpa fase penurunan. Salah satu konsep kunci yang sering disalahpahami oleh trader pemula hingga menengah adalah drawdown. Banyak trader menganggap drawdown sebagai kegagalan, padahal dalam realitas profesional, drawdown justru merupakan bagian normal dari siklus trading yang sehat. Fokus yang keliru pada “menghindari drawdown sepenuhnya” sering kali berujung pada keputusan emosional dan risiko yang lebih besar.
Artikel ini membahas drawdown secara komprehensif dari sudut pandang mindset risiko dan resiliensi mental, bukan sekedar angka. Tujuannya jelas: membantu Anda memahami bahwa keberlanjutan dalam trading tidak ditentukan oleh seberapa sering Anda profit, melainkan seberapa baik Anda mengelola fase rugi.
Apa Itu Drawdown dalam Trading?
Drawdown adalah penurunan nilai ekuitas akun trading dari titik tertinggi (peak) ke titik terendah (trough) sebelum akun tersebut kembali mencetak level tertinggi baru. Drawdown biasanya diukur dalam persentase dan mencerminkan kedalaman kerugian sementara yang dialami trader.
Sebagai contoh, jika akun Anda tumbuh dari USD 10.000 ke USD 12.000, lalu turun ke USD 10.800, maka drawdown Anda adalah sekitar 10% dari peak equity, bukan dari modal awal. Ini penting, karena drawdown selalu berbicara tentang penurunan dari performa terbaik terakhir, bukan sekadar loss per transaksi.
Drawdown Normal vs Drawdown Berbahaya
Salah satu kesalahan umum trader adalah menganggap semua drawdown sebagai sinyal bahwa strategi mereka “salah total”. Padahal, tidak semua drawdown bersifat destruktif.
Drawdown normal biasanya:
- Terjadi dalam batas risiko yang sudah direncanakan
- Konsisten dengan statistik historis strategi
- Tidak mengganggu disiplin eksekusi trading plan
- Masih memungkinkan pemulihan secara matematis dan psikologis
Sebaliknya, drawdown berbahaya muncul ketika:
- Melebihi toleransi risiko awal tanpa evaluasi objektif
- Dipicu oleh overtrading, revenge trading, atau perubahan strategi impulsif
- Menggerus kepercayaan diri hingga trader kehilangan konsistensi
- Membutuhkan recovery return yang tidak realistis (misalnya drawdown 50% membutuhkan 100% gain untuk kembali ke titik awal)
Perbedaan utama bukan pada angkanya semata, melainkan apakah drawdown tersebut masih berada dalam kendali sistem dan mental trader.
Apakah Drawdown Selalu Buruk?
Tidak. Justru sebaliknya, drawdown yang terkelola adalah harga yang wajar untuk memperoleh return jangka panjang. Bahkan dalam penelitian akademik dan praktik hedge fund, strategi dengan performa stabil hampir selalu disertai fase drawdown.
Drawdown berfungsi sebagai:
- Uji ketahanan sistem trading terhadap kondisi pasar yang berubah
- Filter alami untuk menyingkirkan ekspektasi profit yang tidak realistis
- Alat evaluasi apakah risiko yang diambil sebanding dengan potensi return
Masalah muncul bukan karena drawdown itu ada, melainkan ketika trader menolak mengakuinya dan mencoba “melawan pasar” secara emosional.
Dampak Psikologis Drawdown terhadap Trader
Dari sisi psikologi, drawdown adalah salah satu tekanan terbesar dalam trading. Penurunan ekuitas sering memicu bias kognitif seperti loss aversion, confirmation bias, dan overconfidence yang bersifat defensif.
Beberapa dampak psikologis yang umum terjadi:
- Ketakutan berlebihan untuk entry meski sinyal valid
- Dorongan untuk memperbesar lot demi “balik modal”
- Mengubah aturan sistem yang sebelumnya terbukti efektif
- Kelelahan mental (decision fatigue) yang menurunkan kualitas eksekusi
Penelitian di bidang behavioral finance menunjukkan bahwa respon emosional terhadap kerugian sering kali lebih merusak performa jangka panjang dibandingkan kerugian itu sendiri. Oleh karena itu, pengelolaan drawdown sejatinya adalah pengelolaan diri.
Berapa Persen Drawdown yang Masih Aman?
Tidak ada angka universal yang berlaku untuk semua trader, karena drawdown “aman” sangat bergantung pada:
- Timeframe trading
- Gaya strategi (scalping, swing, position)
- Profil risiko dan pengalaman trader
Namun secara praktis, banyak profesional menggunakan kisaran 10–20% sebagai drawdown maksimum yang masih dapat diterima untuk akun ritel, dengan catatan risiko per transaksi tetap terkendali. Lebih dari itu, fokus seharusnya bergeser dari trading aktif ke evaluasi sistem dan kondisi mental.
Yang sering diabaikan: drawdown kecil namun sering, tanpa pemulihan jelas, bisa sama berbahayanya dengan satu drawdown besar.
Cara Pulih dari Drawdown Secara Sehat
Pemulihan dari drawdown bukan tentang “membalas kerugian”, melainkan mengembalikan kualitas pengambilan keputusan. Langkah sehat yang dilakukan trader berpengalaman antara lain:
- Mengurangi risiko per trade sementara, bukan menambahnya
- Kembali ke setup dengan probabilitas tertinggi
- Membedakan apakah drawdown bersifat statistik (normal) atau struktural (strategi bermasalah)
- Memberi jeda psikologis jika diperlukan, tanpa rasa bersalah
Resiliensi dalam trading bukan berarti kebal rugi, tetapi mampu tetap disiplin saat berada dalam fase tidak ideal.
Mindset Risiko: Fokus pada Pengelolaan, Bukan Penghindaran
Upaya menghindari drawdown sepenuhnya justru sering menghasilkan risiko tersembunyi: overfiltering setup, undertrading, atau mengambil risiko besar di satu transaksi. Trader profesional memahami bahwa drawdown adalah biaya operasional dari bisnis trading.
Mindset yang lebih sehat adalah:
- Mengukur risiko sebelum profit
- Menerima drawdown sebagai bagian dari distribusi hasil
- Menilai performa berdasarkan proses, bukan hasil jangka pendek
- Menjaga konsistensi eksekusi di atas segalanya
Dengan pendekatan ini, drawdown tidak lagi dipersepsikan sebagai ancaman, melainkan sebagai fase pembelajaran dan adaptasi.
Drawdown bukanlah musuh trader. Yang berbahaya adalah ketidakmampuan mengelolanya secara rasional dan emosional. Dalam trading yang berkelanjutan, keberhasilan tidak ditentukan oleh seberapa jarang Anda mengalami drawdown, tetapi seberapa cepat dan sehat Anda pulih darinya tanpa merusak sistem dan mindset.
Dengan pemahaman yang tepat, drawdown justru menjadi indikator kedewasaan risiko dan kesiapan mental seorang trader.
Jika Anda ingin membangun mindset risiko dan manajemen drawdown yang lebih terstruktur, mulailah dengan mencoba akun demo gratis di Valbury Asia Futures untuk menguji strategi Anda tanpa tekanan emosional pada modal riil. Anda juga dapat mengakses e-book edukasi trading Valbury yang dirancang untuk membantu trader pemula hingga intermediate memahami risiko, psikologi pasar, dan pengelolaan modal secara profesional sebelum terjun ke pasar live.
Referensi Ilmiah
- Barberis, N., Shleifer, A., & Vishny, R. (1998). A Model of Investor Sentiment. Journal of Finance, 53(1), 307–343. https://doi.org/10.1111/0022-1082.00027
- Kahneman, D., & Tversky, A. (1979). Prospect Theory: An Analysis of Decision under Risk. Econometrica, 47(2), 263–291. https://doi.org/10.2307/1914185
- Lo, A. W. (2004). The Adaptive Markets Hypothesis. Journal of Portfolio Management, 30(5), 15–29. https://doi.org/10.3905/jpm.2004.442611

