Ditulis berdasarkan analisis dan ditinjau oleh : Iswardi Lingga, CSA, CRP, CTAD
Pasar komoditas global mengalami gejolak ekstrem di awal 2026, dengan emas, perak, dan minyak mentah mencatat volatilitas historis yang dipicu kombinasi faktor makroekonomi, kebijakan moneter, dan ketegangan geopolitik.
Akhir Januari 2026 mencatatkan lonjakan harga spektakuler sebelum diikuti koreksi tajam dalam hitungan hari, mencerminkan tingginya ketidakpastian di pasar global.
Emas dan Perak Cetak Rekor Sebelum Ambruk
Emas dan perak mengalami reli paling dramatis dalam sejarah sebelum terkoreksi sangat tajam. Harga emas dunia menembus rekor baru di atas USD 5.500 per troy ounce dan mendekati USD 5.600 sebelum anjlok 21% ke kisaran USD 4.400-4.700 pada awal Februari. Di pasar domestik, emas Antam sempat menyentuh Rp 3.168.000 per gram sebelum turun ke Rp 2.860.000 pada 1 Februari 2026.
Perak menunjukkan volatilitas lebih ekstrem dengan harga global menembus USD 120 per troy ounce di akhir Januari, kemudian terjun bebas 41% dalam dua hari ke kisaran USD 71-75. Meski mengalami koreksi brutal, perak tetap mencatat kenaikan tahunan lebih dari 120% sepanjang 2025 hingga awal 2026.
Penurunan tajam dipicu aksi ambil untung besar-besaran setelah pasar mencapai kondisi overbought, penguatan dolar AS yang mendadak, serta kekhawatiran terhadap perubahan kepemimpinan The Fed. Pengumuman Presiden Donald Trump untuk menunjuk Kevin Warsh sebagai calon Gubernur The Fed memicu spekulasi arah kebijakan moneter yang lebih hawkish.
Minyak Mentah Tertekan Surplus Pasokan
Minyak mentah menghadapi tekanan berbeda dengan logam mulia. Harga minyak mentah WTI sempat melonjak ke atas USD 66 per barel pada Januari 2026 sebelum terkoreksi ke level USD 61 per barel di awal Februari, melanjutkan tren penurunan sejak akhir 2025.
Tekanan harga terjadi meski OPEC+ memutuskan menahan kenaikan produksi hingga Maret 2026 dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih tinggi. Pasar minyak dibayangi surplus pasokan dengan produksi global mencapai 108,7 juta barel per hari pada 2026, didorong kontribusi signifikan dari non-OPEC seperti AS, Kanada, Brasil, dan Guyana.
Stok minyak global melonjak 470 juta barel sepanjang 2025, menciptakan buffer besar yang menekan harga. Permintaan global stagnan di tengah perlambatan ekonomi Tiongkok dan penetrasi kendaraan listrik yang terus meningkat.
Fundamental Mendukung Logam Mulia
Fundamental emas dan perak tetap solid meski volatilitas tinggi. Kebijakan moneter global menjadi katalis utama dengan The Fed menahan suku bunga di 3,75% pada Januari 2026 setelah tiga kali pemangkasan di tahun sebelumnya. Inflasi AS turun ke 2,7% yoy pada Desember 2025, membuka ruang bagi pelonggaran moneter lebih lanjut.
Permintaan emas dari bank sentral mencapai rekor baru dengan kontribusi 25-30% dari permintaan global, dipimpin Tiongkok, India, dan Polandia. Arus masuk ke ETF emas melonjak dua kali lipat menjadi USD 559 miliar pada akhir 2025, menandakan minat investasi yang tinggi.
Perak mendapat dukungan kuat dari permintaan industri, terutama sektor panel surya yang diperkirakan mengonsumsi 200-230 juta ons pada 2026. Permintaan dari kendaraan listrik dan infrastruktur kecerdasan buatan juga tumbuh pesat. Pasokan perak mengalami defisit struktural selama lima tahun terakhir karena produksi tambang stagnan.
Dolar AS dan Kebijakan Moneter Kunci Arah Pasar
Pelemahan dolar AS menjadi katalis utama kenaikan harga komoditas berbasis dolar. Indeks dolar turun ke 99,14 pada Januari 2026, didorong ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed dan ketidakpastian kebijakan fiskal AS, membuat komoditas lebih murah bagi pembeli non-AS.
Bank sentral utama dunia cenderung melonggarkan kebijakan moneter pada 2026 untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. The Fed diperkirakan akan memangkas suku bunga setidaknya satu kali lagi pada pertengahan tahun, sementara ECB dan PBoC juga mengadopsi kebijakan akomodatif.
Data COT menunjukkan posisi spekulan besar di pasar futures emas dan perak berada di level tertinggi dalam sejarah, menandakan pasar sangat crowded dan rentan terhadap aksi ambil untung yang memperparah koreksi harga.
Proyeksi Harga: Tiga Skenario Menanti
Proyeksi harga komoditas 2026 terbagi dalam tiga skenario berbeda. Skenario bullish memproyeksikan emas di kisaran USD 5.500-6.000, perak USD 100-120, dan minyak USD 70-80 per barel, didorong lonjakan permintaan safe haven, penurunan suku bunga agresif, atau gangguan pasokan energi global.
Skenario basis memperkirakan emas bergerak di USD 4.500-5.000, perak USD 70-90, dan minyak USD 55-65, dengan tren moderat dan volatilitas tinggi didukung permintaan investasi dan industri yang stabil serta kebijakan moneter akomodatif.
Skenario bearish mengantisipasi emas turun ke USD 3.800-4.300, perak USD 40-60, dan minyak USD 45-55, jika terjadi pemulihan ekonomi global lebih cepat dari ekspektasi, suku bunga naik, dolar AS menguat, dan permintaan industri serta energi melemah.
Dampak Bagi Indonesia
Indonesia menghadapi tantangan sebagai net importer minyak dengan produksi domestik hanya 605.800 barel per hari pada 2025, jauh di bawah kebutuhan nasional 1,63 juta barrel per hari. Fluktuasi harga minyak global berdampak langsung pada beban fiskal dan tekanan inflasi melalui imported inflation.
Harga emas Antam dan minyak dalam rupiah sangat dipengaruhi nilai tukar dan harga global. Volatilitas tinggi membuka peluang akumulasi bagi investor domestik saat harga terkoreksi, namun risiko tetap tinggi jika terjadi perubahan mendadak pada kebijakan global atau nilai tukar.
Pemerintah perlu memperkuat manajemen risiko, mempercepat diversifikasi energi, dan memperkuat koordinasi kebijakan fiskal-moneter untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah volatilitas pasar komoditas yang diprediksi berlanjut sepanjang 2026.
Gejolak ekstrem pasar komoditas awal 2026 mencerminkan tingginya ketidakpastian global yang didorong dinamika kebijakan moneter, ketegangan geopolitik, dan perubahan fundamental permintaan-pasokan. Fundamental logam mulia tetap kuat didukung permintaan investasi dan industri, sementara minyak mentah menghadapi tekanan surplus pasokan dan lemahnya permintaan global. Arah pasar selanjutnya sangat bergantung pada kebijakan moneter bank sentral utama, perkembangan konflik di Timur Tengah, Eropa, dan Asia Timur, serta dinamika ekonomi Tiongkok yang menjadi kunci permintaan komoditas global.