Ditulis berdasarkan analisis dan ditinjau oleh : Iswardi Lingga, CSA, CRP, CTAD
Pasar komoditas global mengalami gejolak ekstrem dalam beberapa minggu terakhir, dengan emas, perak, dan minyak mentah mencatat volatilitas tertinggi dalam sejarah modern yang dipicu oleh gelombang spekulasi masif dari exchange-traded funds (ETF) dan hedge funds.
Harga emas sempat menembus rekor USD 5.600 per troy ounce sebelum anjlok 21% ke kisaran USD 4.400-4.700 pada awal Februari. Perak mengalami reli lebih dramatis, menyentuh USD 120 per ounce sebelum terjun bebas 41% dalam dua hari ke level USD 71-75.
Posisi Spekulan di Level Tertinggi Sejarah
Data Commitment of Traders (COT) menunjukkan posisi spekulan besar di pasar futures emas dan perak berada di level tertinggi dalam sejarah, menciptakan kondisi pasar yang sangat crowded dan rentan terhadap aksi ambil untung.
Arus masuk ke ETF emas melonjak dua kali lipat menjadi USD 559 miliar pada akhir 2025, menandakan minat investasi yang tinggi sekaligus mencerminkan dominasi modal spekulatif di pasar logam mulia.
“Pasar sangat overbought dan rentan terhadap aksi profit taking,” ungkap analisis teknikal yang menunjukkan indikator RSI berada di zona jenuh beli sebelum koreksi tajam terjadi.
Margin Call dan Flash Crash Perak
Volatilitas perak yang jauh lebih tinggi dibanding emas memicu aksi jual besar-besaran ketika pasar mengalami koreksi. Flash crash pada perak dipicu oleh kombinasi margin call di bursa berjangka dan likuidasi posisi spekulatif.
Meski harga perak terjun 41% dalam dua hari, secara tahunan komoditas ini tetap mencatat kenaikan lebih dari 120% sepanjang 2025 dan awal 2026, mencerminkan fundamental jangka panjang yang kuat dari permintaan industri teknologi hijau.
Hedge Funds Ambil Posisi Short di Minyak
Berbeda dengan emas dan perak, posisi spekulan di pasar minyak cenderung net short pada awal 2026, mencerminkan ekspektasi harga lemah akibat surplus pasokan dan permintaan stagnan.
Harga minyak WTI sempat melonjak ke USD 66 per barel pada Januari sebelum terkoreksi ke USD 61 per barel di awal Februari, meski ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih tinggi.
Stok minyak global melonjak 470 juta barel sepanjang 2025, dengan OECD industry stocks naik ke 2.838 juta barel, mendekati rata-rata lima tahun terakhir. Buffer besar ini meredam dampak risiko geopolitik terhadap harga.
Katalis Koreksi: Trump dan Warsh
Penurunan tajam harga emas dan perak pada akhir Januari hingga awal Februari dipicu oleh pengumuman Presiden Donald Trump untuk menunjuk Kevin Warsh sebagai calon Gubernur The Fed.
Spekulasi bahwa bank sentral akan lebih hawkish dan menurunkan independensinya memicu penguatan dolar AS secara mendadak, menekan harga komoditas berbasis dolar secara simultan.
Indeks dolar yang sempat turun ke 99,14 pada Januari 2026 menguat kembali, membuat komoditas lebih mahal bagi pembeli non-AS dan memicu aksi jual global.
Fundamental vs Spekulasi
Meski fundamental emas dan perak tetap kuat—didukung permintaan bank sentral yang mencapai 25-30% dari permintaan global dan defisit struktural pasokan perak selama lima tahun terakhir—faktor spekulasi menjadi pendorong utama volatilitas ekstrem.
Pembelian emas oleh bank sentral Tiongkok, India, dan Polandia mencapai rekor baru menurut World Gold Council, namun momentum buying dari investor dan spekulan menciptakan kondisi pasar yang tidak stabil.
Produksi emas global pada 2024 mencapai 3.600 ton dengan pasokan dari tambang tumbuh sangat lambat hanya 1% per tahun, tidak mampu mengimbangi lonjakan permintaan investasi.
Permintaan Industri Perak Tertekan Harga Tinggi
Konsumsi perak untuk panel surya diperkirakan mencapai 200-230 juta ons pada 2026, dengan teknologi sel surya N-type membutuhkan perak hingga 30% lebih banyak dibanding teknologi lama.
Namun, harga yang terlalu tinggi mulai mendorong produsen panel surya melakukan penghematan (thrifting) dan mencari substitusi logam lain untuk menekan biaya produksi. Permintaan dari sektor perhiasan dan peralatan rumah tangga di India juga menurun.
Stok perak di gudang LBMA dan COMEX sempat terkuras ke level terendah dalam sejarah sebelum mengalami pemulihan pada awal 2026 akibat aksi jual besar-besaran.
Surplus Minyak Tekan Harga
OPEC+ memproyeksikan permintaan minyak global tumbuh 106,5 mb/d (juta barel per hari) di 2026, naik dari 105,1 mb/d tahun 2025. Namun pasokan minyak global mencapai 108,7 juta barel per hari, menciptakan surplus signifikan.
Non-OPEC+ menyumbang 1,3 juta barel per hari dari kenaikan pasokan, didorong oleh produksi AS, Kanada, Brasil, dan Guyana. OPEC+ memutuskan menahan kenaikan produksi hingga Maret 2026, namun surplus pasokan tetap menekan harga.
Perlambatan ekonomi Tiongkok dan penetrasi kendaraan listrik menekan permintaan bensin dan solar, membuat proyeksi permintaan global lebih konservatif.
Proyeksi Tiga Skenario
Analis memproyeksikan tiga skenario harga untuk 2026:
Skenario Bullish: Emas USD 5.500-6.000, Perak USD 100-120, Minyak USD 70-80 per barel—terjadi jika ada eskalasi geopolitik, penurunan suku bunga agresif, atau gangguan pasokan energi global.
Skenario Basis: Emas USD 4.500-5.000, Perak USD 70-90, Minyak USD 55-65 per barel—tren moderat dengan volatilitas tinggi, didukung permintaan investasi dan industri stabil serta kebijakan moneter akomodatif.
Skenario Bearish: Emas USD 3.800-4.300, Perak USD 40-60, Minyak USD 45-55 per barel—pemulihan ekonomi global lebih cepat, suku bunga naik, dolar AS menguat, permintaan industri dan energi melemah.
Risiko Kebijakan Moneter
The Fed memutuskan menahan suku bunga di level 3,75% pada Januari 2026 setelah tiga kali pemangkasan di tahun lalu, dengan ekspektasi pemangkasan lanjutan pada pertengahan tahun jika Kevin Warsh lebih cenderung dovish.
Inflasi AS turun ke 2,7% year-on-year pada Desember 2025, mendekati target The Fed namun masih menyisakan ruang bagi pelonggaran moneter. Pelemahan dolar AS sebelumnya menjadi katalis kenaikan harga komoditas.
Bank sentral utama dunia—The Fed, ECB, PBoC, dan Bank Indonesia—cenderung melonggarkan kebijakan moneter pada 2026 untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, yang dapat mendukung harga emas dan perak meski meningkatkan volatilitas.
Dampak ke Indonesia
Harga emas Antam bergerak di kisaran Rp 2,3 juta hingga Rp 3,1 juta per gram pada Januari 2026, dengan rata-rata Rp 2,56 juta per gram. Harga sempat menembus Rp 3,168 juta sebelum turun ke Rp 2,86 juta pada 1 Februari 2026, kemudian menguat tipis ke Rp 3 juta per gram pada 2 Februari.
Sebagai net importer minyak dengan produksi domestik hanya 605.800 barel per hari jauh di bawah kebutuhan nasional 1,63 juta barel per hari, Indonesia sangat rentan terhadap fluktuasi harga minyak global yang akan terus membebani APBN.
Data Energy Information Administration AS menunjukkan Indonesia memproduksi 605 ribu barel per hari namun mengonsumsi 1,73 juta barel per hari, dengan net import yang lebih besar.
Bank Indonesia menjaga stabilitas rupiah dan inflasi melalui intervensi nilai tukar dan pengelolaan suku bunga acuan, namun tetap rentan terhadap imported inflation akibat fluktuasi harga komoditas global.
Geopolitik Masih Jadi Wildcard
Konflik di Timur Tengah terutama antara Israel-Palestina dan ketegangan Iran sempat memicu lonjakan harga minyak dan emas akibat premi risiko geopolitik, namun dampak jangka panjang terbatas karena pasar minyak kini lebih resilien.
Ketegangan dagang AS-Tiongkok dan isu Laut China Selatan meningkatkan ketidakpastian global, mendorong permintaan aset safe haven seperti emas dan perak.
Perkembangan geopolitik di Timur Tengah (Iran), Eropa (Rusia dan Greenland), dan Asia Timur (Taiwan) akan mempengaruhi dinamika permintaan-pasokan dan menentukan arah komoditas berikutnya—bullish, basis, atau bearish.
Volatilitas pasar komoditas diperkirakan akan berlanjut sepanjang 2026, dengan spekulasi dan aliran modal tetap menjadi pendorong utama pergerakan harga jangka pendek meski fundamental jangka panjang tetap mendukung kenaikan harga emas dan perak.