Ditulis berdasarkan analisis dan ditinjau oleh : Iswardi Lingga, CSA, CRP, CTAD
Risiko konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran bukan lagi sekadar pertanyaan apakah perang akan terjadi, melainkan dalam bentuk apa dan seberapa luas eskalasi yang mungkin tercipta. Pengerahan armada militer AS di Laut Arab, insiden di Selat Hormuz, dan retorika keras dari kedua belah pihak menunjukkan bahwa situasi telah memasuki fase kritis yang dapat berkembang ke berbagai arah.
Yang membedakan momentum ini dari ketegangan sebelumnya adalah potensi Iran untuk mengubah konflik bilateral menjadi krisis regional. Teheran telah berulang kali menyatakan bahwa serangan AS tidak akan terbatas pada wilayahnya saja, melainkan akan melibatkan pangkalan militer sekutu AS di kawasan serta infrastruktur energi negara-negara Teluk. Jalur eskalasi inilah yang akan menentukan apakah dunia menghadapi gangguan ekonomi terbatas atau guncangan sistemik yang berkepanjangan.
Peta konflik yang mungkin terbentang dari serangan presisi berdurasi singkat hingga kampanye militer berskala penuh yang melibatkan kekuatan regional. Setiap skenario membawa konsekuensi berbeda bagi stabilitas Timur Tengah dan ekonomi global, dengan faktor penentu utama terletak pada seberapa jauh Washington memutuskan untuk bertindak dan bagaimana Teheran merespons.
Empat Skenario Konflik yang Mungkin Terjadi
Analisis terhadap dinamika konflik saat ini mengidentifikasi empat jalur yang mungkin diambil, dengan probabilitas dan dampak ekonomi yang berbeda-beda. Perang skala penuh memiliki probabilitas tertinggi, mencapai 40-45 persen, dengan dampak ekonomi yang sangat tinggi. Skenario ini akan melibatkan kampanye pengeboman masif terhadap instalasi nuklir dan militer Iran.
Serangan terbatas menempati posisi kedua dengan probabilitas 30-35 persen dan dampak ekonomi tinggi. Opsi ini fokus pada target-target strategis seperti fasilitas nuklir dan markas Garda Revolusi Islam Iran tanpa eskalasi ke operasi darat berskala besar. Skenario ketiga adalah eskalasi bertahap melalui konflik proksi dengan probabilitas 15-20 persen dan dampak sedang, di mana konfrontasi berlangsung melalui kelompok sekutu di berbagai negara kawasan.
Jalur de-eskalasi diplomatik memiliki probabilitas terendah, hanya 5-10 persen, meskipun upaya perundingan di Oman masih berlangsung. Distribusi probabilitas ini mencerminkan realitas bahwa pengerahan militer AS telah mencapai tahap yang sebanding dengan operasi Venezuela pada Januari 2026, mengindikasikan kesiapan untuk aksi militer signifikan.
Skala Serangan dan Intensitas Eskalasi
Perbedaan mendasar antara berbagai bentuk konflik terletak pada cakupan target dan intensitas operasi. Serangan skala luas akan mencakup kampanye pengeboman besar-besaran terhadap jaringan militer, pusat komando, dan instalasi pemerintah Iran. Skenario ini berpotensi melibatkan operasi darat terbatas untuk mengamankan area strategis atau melumpuhkan kemampuan pembalasan Iran.
Kolaborasi dengan sekutu regional seperti Israel dan negara-negara Teluk dapat memperluas jangkauan dan efektivitas serangan. Israel kemungkinan akan memfokuskan pada target-target di bagian barat Iran, sementara AS mengendalikan operasi di wilayah selatan dan timur. Koordinasi semacam ini akan meningkatkan kompleksitas respons Iran dan memaksa Teheran untuk mendistribusikan sumber daya pertahanannya.
Serangan terbatas, di sisi lain, akan berfokus pada target presisi seperti fasilitas pengayaan uranium di Natanz dan Fordow, markas Garda Revolusi, serta infrastruktur rudal balistik. Pendekatan ini bertujuan melemahkan kapabilitas strategis Iran sambil meminimalkan risiko eskalasi regional yang tidak terkendali.
Namun terlepas dari skala kinetik, perang non-konvensional akan diintensifikasikan dalam semua skenario. Sanksi ekonomi yang lebih keras, blokade maritim parsial terhadap pelabuhan Iran, dan serangan siber terhadap infrastruktur kritis akan menjadi pendamping aksi militer untuk memaksimalkan tekanan terhadap Teheran.
Potensi Respons Balasan Iran
Ancaman terbesar dari konflik ini bukan hanya kerusakan yang ditimbulkan oleh serangan AS, melainkan kemampuan Iran untuk membalas dengan cara yang dapat mengubah konflik bilateral menjadi krisis regional. Teheran telah menyiapkan arsitektur pembalasan berlapis yang menggabungkan serangan langsung, gangguan ekonomi, dan aktivasi jaringan proksi.
Serangan langsung akan menargetkan pangkalan militer AS di Qatar, Bahrain, Irak, dan Yordania menggunakan rudal balistik dan drone. Dalam eskalasi yang lebih luas, Iran dapat memperluas sasaran ke wilayah Israel serta infrastruktur energi Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Serangan terhadap fasilitas minyak Aramco atau terminal ekspor gas UEA akan menciptakan guncangan pasokan energi global yang signifikan.
Blokade Selat Hormuz merupakan kartu truf Iran yang paling ditakuti. Melalui penanaman ranjau laut, serangan terhadap kapal tanker, atau blokade parsial menggunakan kapal patroli Garda Revolusi, Iran dapat mengganggu aliran 20 persen pasokan minyak global. Taktik ini pernah diuji dalam insiden 3 Februari 2026 ketika enam kapal patroli Iran mencoba menghentikan tanker AS, dan dua hari kemudian Teheran menyita dua tanker minyak asing di Teluk Persia.
Aktivasi kelompok proksi di Irak, Yaman, dan Lebanon akan memperluas front konflik secara geografis. Milisi Syiah di Irak dapat meningkatkan serangan terhadap pangkalan AS, Houthi di Yaman dapat mengintensifkan serangan terhadap kapal di Laut Merah dan fasilitas energi Saudi, sementara Hizbullah di Lebanon dapat membuka front baru melawan Israel.
Operasi siber dan taktik asimetris melengkapi strategi pembalasan Iran. Serangan digital terhadap infrastruktur kritis seperti jaringan listrik, sistem keuangan, atau fasilitas air di negara-negara sekutu AS dapat menciptakan gangguan tanpa perlu konfrontasi militer langsung. Sabotase terhadap kepentingan AS di luar kawasan juga menjadi opsi yang tidak dapat diabaikan.
Faktor Penentu Arah Konflik
Trajektori konflik akan sangat bergantung pada seberapa jauh Washington memutuskan untuk melangkah dalam serangan awal. Jika AS membatasi diri pada serangan presisi terhadap fasilitas nuklir tanpa mencoba melumpuhkan seluruh struktur komando militer Iran, ruang untuk de-eskalasi masih terbuka. Namun jika operasi meluas ke kampanye untuk menggulingkan pemerintahan, eskalasi regional hampir tidak terhindarkan.
Durasi konflik menjadi variabel kritis kedua. Operasi yang berlangsung beberapa hari hingga dua minggu memberikan waktu terbatas bagi Iran untuk memobilisasi respons penuh, terutama jika serangan awal berhasil melumpuhkan kemampuan komando dan kontrol. Konflik yang berlarut-larut akan memberikan Teheran kesempatan untuk mengaktifkan semua lapis pertahanan dan pembalasannya.
Keterlibatan sekutu juga akan membentuk dinamika konflik. Partisipasi aktif Israel dan negara Teluk dalam operasi militer akan memperluas cakupan serangan tetapi juga meningkatkan jumlah target potensial bagi pembalasan Iran. Sebaliknya, jika sekutu AS memilih keterlibatan terbatas, tekanan untuk menyelesaikan konflik dengan cepat akan meningkat.
Respons dari negara-negara besar seperti China dan Rusia, yang memiliki kepentingan ekonomi dan strategis di Iran, dapat mempengaruhi durasi dan intensitas konflik. Meskipun Beijing dan Moskow tidak akan terlibat secara militer, dukungan diplomatik, ekonomi, atau intelijen dapat memperkuat ketahanan Iran.
Jalur diplomasi yang masih terbuka, meskipun probabilitasnya rendah, tetap menjadi faktor yang tidak dapat diabaikan. Rencana perundingan di Oman yang berfokus pada isu nuklir menunjukkan bahwa kedua pihak belum sepenuhnya menutup pintu negosiasi. Keberhasilan atau kegagalan upaya diplomasi menit terakhir ini dapat mengubah kalkulasi kedua belah pihak.
Implikasi Geopolitik Regional
Konflik AS-Iran berpotensi mengubah lanskap geopolitik Timur Tengah secara fundamental. Eskalasi regional akan memaksa negara-negara kawasan untuk memilih sisi, mengakhiri era ambiguitas strategis yang selama ini dipertahankan beberapa negara seperti Oman dan Kuwait. Pilihan ini akan membentuk ulang aliansi regional untuk dekade mendatang.
Stabilitas Timur Tengah yang sudah rapuh akan semakin terancam. Konflik dapat memicu gelombang ketidakstabilan baru di negara-negara dengan populasi Syiah signifikan seperti Irak, Bahrain, dan Lebanon. Fragmentasi lebih lanjut di negara-negara ini dapat menciptakan ruang bagi kelompok ekstremis untuk bangkit kembali.
Risiko terhadap jalur energi global merupakan implikasi paling langsung dan terukur. Gangguan terhadap aliran minyak dan gas dari Teluk Persia tidak hanya akan memicu lonjakan harga energi tetapi juga dapat memaksa restrukturisasi rantai pasokan energi global. Negara-negara Eropa dan Asia yang sangat bergantung pada energi Timur Tengah akan mencari diversifikasi sumber dengan urgensi tinggi.
Pergeseran keseimbangan kekuatan kawasan menjadi konsekuensi jangka panjang yang tidak dapat dihindari. Jika Iran berhasil bertahan dari serangan AS tanpa mengalami keruntuhan rezim, posisi tawarnya di kawasan dapat meningkat. Sebaliknya, jika Washington berhasil melumpuhkan kapabilitas strategis Iran secara signifikan, vakum kekuatan yang tercipta dapat memicu perebutan pengaruh baru antara Arab Saudi, Turki, dan Israel.
Konflik antara Amerika Serikat dan Iran tidak dapat dipahami dalam kerangka biner perang atau damai. Realitas yang dihadapi adalah spektrum eskalasi yang luas, mulai dari serangan presisi terbatas hingga perang regional yang melibatkan berbagai aktor. Skala serangan yang dipilih Washington dan bentuk respons yang diluncurkan Teheran akan menentukan apakah dunia menghadapi guncangan pasokan energi sementara atau krisis sistemik yang berkepanjangan. Risiko pelebaran konflik menjadi faktor utama ketidakpastian, bukan hanya bagi Timur Tengah tetapi bagi stabilitas ekonomi dan geopolitik global di tahun-tahun mendatang.