Ditulis berdasarkan analisis dan ditinjau oleh : Iswardi Lingga, CSA, CRP, CTAD
Eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang mencapai puncaknya di awal 2026 membawa implikasi serius bagi perekonomian Indonesia. Meskipun konflik berlangsung ribuan kilometer jauhnya, transmisi dampaknya terhadap ekonomi domestik dapat terjadi dengan cepat melalui jalur pasar keuangan global dan harga energi. Indonesia, sebagai negara dengan ekonomi terbuka dan masih bergantung pada impor energi, sangat rentan terhadap gejolak eksternal semacam ini.
Pengerahan kekuatan militer AS yang signifikan di Timur Tengah, termasuk penempatan kapal induk USS Abraham Lincoln di Laut Arab sejak akhir Januari, telah memicu kekhawatiran akan pecahnya konflik dalam hitungan minggu. Situasi ini bukan sekadar sentimen pasar belaka. Data menunjukkan probabilitas terjadinya serangan militer berskala besar mencapai 40-45 persen, sementara kemungkinan serangan terbatas berkisar 30-35 persen. Angka ini cukup tinggi untuk memicu reaksi preventif di pasar keuangan global, termasuk di Indonesia.
Sebagai negara emerging market, Indonesia menghadapi kerentanan struktural yang khas: ketergantungan pada arus modal asing, defisit neraca transaksi berjalan yang masih perlu dikelola, serta keterbatasan cadangan devisa relatif terhadap kebutuhan impor energi. Kombinasi faktor-faktor ini menempatkan Rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan sebagai instrumen paling sensitif terhadap gejolak geopolitik global.
Tekanan terhadap Rupiah dan Arus Modal
Dolar AS diprediksi akan menguat sebagai respons natural terhadap krisis geopolitik, mengingat posisinya sebagai mata uang cadangan dunia dan safe haven utama. Penguatan USD diperkirakan berada di kisaran 0,25 hingga 0,5 persen dalam jangka pendek, didorong oleh arus modal masuk ke obligasi pemerintah AS dan instrumen berbasis dolar lainnya.
Bagi Rupiah, dinamika ini berarti tekanan pelemahan yang signifikan. Mata uang domestik sangat rentan terhadap volatilitas global, terutama ketika investor global melakukan rebalancing portofolio menuju aset yang lebih aman. Pelemahan kurs akan semakin diperberat oleh lonjakan permintaan dolar untuk pembiayaan impor energi, mengingat harga minyak mentah dunia berpotensi melonjak tajam jika konflik benar-benar meletus.
Cadangan devisa Indonesia juga akan menghadapi tekanan ganda: di satu sisi harus menyerap permintaan dolar yang meningkat untuk impor, di sisi lain harus mengantisipasi potensi arus modal keluar (capital outflow) dari pasar keuangan domestik. Investor asing yang selama ini memegang surat utang dan saham domestik cenderung akan melakukan profit-taking atau bahkan exit strategy ketika ketidakpastian global meningkat. Fenomena ini pernah terjadi pada krisis-krisis sebelumnya dan berpotensi terulang dengan intensitas yang lebih besar mengingat skala konflik yang diproyeksikan.
Risiko Koreksi IHSG
Indeks Harga Saham Gabungan berpotensi mengalami koreksi signifikan pada fase awal konflik. Analisis historis menunjukkan bahwa pasar saham emerging markets, termasuk Indonesia, cenderung terkoreksi ketika sentimen risiko global memburuk. Proyeksi koreksi berkisar antara 2 hingga 5 persen, bergantung pada intensitas dan durasi konflik yang terjadi.
Sentimen global akan menjadi faktor dominan dalam menentukan arah pergerakan IHSG. Kekhawatiran terhadap inflasi yang lebih tinggi, pelemahan mata uang, dan risiko perlambatan ekonomi akan mendorong investor untuk mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, termasuk saham-saham domestik. Arus modal keluar dari pasar modal Indonesia akan semakin memperbesar tekanan jual.
Dari sisi sektoral, saham-saham yang bersifat defensif seperti consumer staples dan utilities diperkirakan akan menunjukkan performa yang lebih baik dibandingkan sektor-sektor yang sensitif terhadap siklus ekonomi. Sebaliknya, sektor konsumen diskresioner, properti, dan industri manufaktur berpotensi mengalami tekanan lebih berat mengingat kerentanan mereka terhadap kenaikan biaya input dan penurunan daya beli konsumen.
Dampak terhadap Inflasi dan Harga Energi
Lonjakan harga minyak mentah menjadi salah satu risiko paling nyata yang dihadapi ekonomi Indonesia. Harga minyak mentah WTI dan Brent yang telah menembus level USD 65 dan USD 70 per barel di akhir Januari 2026 berpotensi melonjak ke kisaran USD 100 hingga USD 130 per barel jika pasokan dari Selat Hormuz terganggu. Selat ini mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak global, dan Iran telah berulang kali mengancam akan melakukan blokade strategis jika diserang.
Bagi Indonesia yang masih mengandalkan impor untuk memenuhi kebutuhan energi domestik, kenaikan harga minyak global akan langsung menaikkan biaya impor. Kenaikan ini tidak hanya berdampak pada biaya bahan bakar, tetapi juga pada seluruh rantai produksi dan distribusi barang dan jasa. Tekanan pada harga energi akan merambat ke harga pangan dan transportasi, menciptakan tekanan inflasi yang lebih luas.
Inflasi yang lebih tinggi akan menekan daya beli masyarakat dan mengurangi konsumsi domestik, yang selama ini menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dalam skenario terburuk, kombinasi antara inflasi tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang melambat dapat menciptakan kondisi stagflasi yang sulit dikelola oleh otoritas moneter.
Risiko terhadap Stabilitas Fiskal dan Neraca Perdagangan
Kenaikan biaya energi akan memberikan tekanan langsung terhadap anggaran negara, terutama jika pemerintah memutuskan untuk mensubsidi sebagian kenaikan harga untuk melindungi daya beli masyarakat. Subsidi energi yang membengkak akan mempersempit ruang fiskal untuk belanja produktif dan dapat memperbesar defisit anggaran.
Ketergantungan Indonesia pada impor energi dan barang modal juga akan semakin memberatkan neraca perdagangan. Meskipun Indonesia adalah eksportir komoditas, kenaikan harga impor energi dapat melebihi keuntungan dari kenaikan harga komoditas ekspor, terutama jika permintaan global melemah akibat perlambatan ekonomi. Defisit neraca transaksi berjalan yang melebar akan semakin menekan nilai tukar Rupiah dan mengurangi ruang gerak kebijakan moneter.
Risiko pelebaran defisit akan semakin besar jika harga energi tetap tinggi dalam jangka waktu yang berkelanjutan. Hal ini akan memaksa pemerintah untuk melakukan penyesuaian fiskal yang dapat berdampak negatif terhadap program-program pembangunan dan perlindungan sosial.
Outlook Jangka Pendek dan Menengah
Reaksi awal pasar domestik akan sangat bergantung pada sinyal-sinyal yang muncul dari medan konflik dan respons kebijakan otoritas. Jika konflik terjadi namun bersifat terbatas dan berdurasi pendek, pasar dapat pulih dalam waktu relatif cepat seiring normalisasi harga energi dan kembalinya selera risiko investor. Namun, jika konflik berkembang menjadi perang regional yang melibatkan sekutu kedua belah pihak, dampaknya akan jauh lebih dalam dan berkepanjangan.
Kebijakan moneter Bank Indonesia akan menjadi kunci dalam meredam gejolak di pasar keuangan domestik. Intervensi di pasar valuta asing untuk menstabilkan Rupiah dan penggunaan instrumen moneter untuk menjaga likuiditas perbankan akan menjadi pilihan yang tersedia, meskipun efektivitasnya akan terbatas jika tekanan eksternal terlalu besar. Koordinasi dengan kebijakan fiskal juga diperlukan untuk memastikan bahwa respons pemerintah tidak saling bertentangan dan mampu memberikan perlindungan optimal terhadap sektor riil.
Dalam jangka menengah, pemulihan ekonomi domestik akan sangat bergantung pada durasi dan intensitas konflik. Jika konflik berakhir dalam beberapa bulan dan harga energi kembali normal, Indonesia dapat kembali ke jalur pertumbuhan yang stabil. Namun, jika konflik berlarut-larut atau memicu krisis energi global yang lebih luas, dampak struktural terhadap ekonomi Indonesia akan jauh lebih signifikan dan memerlukan penyesuaian kebijakan yang mendasar.
Konflik AS-Iran menempatkan ekonomi Indonesia pada posisi yang rentan melalui jalur eksternal yang kuat, terutama melalui pasar keuangan global dan harga energi. Nilai tukar Rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan akan menjadi kanal transmisi utama dari gejolak eksternal, sementara lonjakan harga minyak global menjadi faktor risiko paling signifikan bagi inflasi dan stabilitas fiskal domestik. Kemampuan Indonesia untuk meredam dampak negatif akan sangat bergantung pada durasi dan skala konflik yang terjadi, serta efektivitas respons kebijakan yang diambil oleh otoritas moneter dan fiskal dalam menghadapi ketidakpastian global yang belum pernah terjadi sebelumnya.