Serangan militer gabungan AS–Israel pada 28 Februari menewaskan pemimpin tertinggi Iran dan memicu penutupan Selat Hormuz, mengguncang pasar energi, logam mulia, dan bursa saham di seluruh dunia.
Ditulis berdasarkan analisis dan ditinjau oleh : Iswardi Lingga, CSA, CRP, CTAD
Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer gabungan terhadap Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026, dalam operasi berkode Operation Epic Fury (AS) dan Operation Roaring Lion (Israel). Serangan itu menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, sejumlah perwira militer senior, serta warga sipil termasuk atlet dan pelajar. Dampaknya langsung terasa di pasar keuangan global—harga minyak naik tiga hari berturut-turut, emas menembus $5.360 per ons, dolar AS menguat ke level tertinggi lima minggu, dan indeks-indeks saham Asia rontok.
Kronologi Eskalasi: January – 3 Maret 2026
Ketegangan antara Washington dan Teheran mulai memuncak jauh sebelum serangan dilancarkan. Sepanjang Januari hingga 27 Februari, militer AS secara diam-diam mempersiapkan operasi ofensif, sementara Presiden Trump memerintahkan pengiriman kapal perang, tanker, dan kapal selam ke kawasan Timur Tengah. Dua gugus kapal induk beserta armada pesawat tempurnya ditempatkan dalam jarak serang Iran.
Di pasar keuangan, sinyal perang sudah terbaca sejak awal: harga emas melampaui $5.000 per ons akibat lonjakan permintaan safe-haven, merespons pengumuman Trump tentang “armada besar-besaran” yang dikirim menuju Iran. Indeks DXY pun mulai menguat seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik.
Upaya diplomatik terakhir berlangsung di Jenewa pada Kamis, 27 Februari, namun perundingan gagal dan direncanakan dilanjutkan keesokan harinya—sebuah skenario yang tidak pernah terjadi.
Serangan Militer dan Balasan Iran
28 Februari 2026 (Sabtu) — Hari Pertama
Serangan dimulai pada Sabtu dini hari. AS dan Israel menghantam berbagai lokasi secara terkoordinasi, menyasar pejabat kunci, komandan militer, serta fasilitas nuklir dengan tujuan perubahan rezim. Trump mengumumkan bahwa tiga situs nuklir utama Iran telah dihancurkan. Ayatullah Khamenei tewas dalam serangan tersebut.
1 Maret 2026 (Minggu) — Hari Kedua
Serangan berlanjut ke hari kedua. Tiga anggota militer AS dilaporkan tewas dalam aksi di Iran. Teheran membalas dengan menyerang pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah dan menghantam tiga tanker minyak berbendera AS dan Inggris. Bersamaan dengan itu, Israel membuka front baru dengan meluncurkan serangan terhadap Hizbullah di Lebanon.
2 Maret 2026 (Senin) — Penutupan Selat Hormuz
Penutupan Selat Hormuz
Langkah paling mengguncang pasar datang pada Senin, 2 Maret, ketika Iran secara resmi menutup Selat Hormuz dan memperingatkan semua kapal agar tidak melewati jalur pelayaran tersebut. Respons industri bersifat langsung: sebagian besar pemilik tanker, perusahaan minyak besar, dan korporasi dagang menghentikan pengiriman melalui selat itu.
Selat Hormuz adalah arteri energi paling vital di dunia—sekitar 20 juta barel minyak per hari, setara dengan 20 persen konsumsi minyak global, melewati jalur sempit ini setiap harinya. Penutupannya seketika mengubah kalkulasi pasokan energi global.
Pasar global langsung bereaksi keras pada pembukaan perdagangan Senin. IHSG menutup sesi dengan koreksi 2,66% ke level 8.016 poin. Wall Street berakhir variatif namun tertekan: Dow Jones turun 0,15%, S&P 500 hampir stagnan di +0,04%, dan Nasdaq melemah 0,10%.
Reaksi Awal Pasar Global
Snapshot Pasar — 3 Maret 2026
| Instrumen | Level / Harga | Perubahan |
|---|---|---|
| WTI Crude Oil | $75 / barel | ▲ +3 hari berturut |
| Emas Spot (XAU) | $5.360+ / troy ons | ▲ +1,04% |
| Perak (XAG) | $85 / troy ons | ▼ dari high $96,40 |
| Indeks DXY | 98,73 | ▲ Tertinggi 5 minggu |
| Rupiah (USD/IDR) | Rp 16.850 | ▼ Melemah |
| IHSG | 7.955 | ▼ Hari kedua turun |
| Hang Seng | — | ▼ -2,1% |
| Nikkei 225 | — | ▼ -1,4% |
| S&P 500 Futures | — | ▼ -0,2% |
| Dow Jones Futures | — | ▼ -351 poin |
Minyak: Tiga Hari Kenaikan Berturut-Turut
Harga WTI crude diperdagangkan dalam kisaran lebar $71–$75 per barel sepanjang 3 Maret, melanjutkan penguatan untuk hari ketiga berturut-turut sejak serangan dimulai. Penutupan Selat Hormuz menjadi katalis utama: dengan 20 juta barel per hari berpotensi terhambat, pasar memperkirakan harga akan terus menguat menuju kisaran $80–85 per barel jika konflik masih terkendali, atau bahkan $100–150 per barel dalam skenario gangguan pasokan berkepanjangan. Saham-saham di sektor energi dan pertahanan mencatat kenaikan seiring memanasnya konflik.
Emas dan Logam Mulia: Safe-Haven Kembali Bersinar
Emas spot diperdagangkan di atas $5.360 per ons pada awal sesi Asia, dengan kontrak Comex tercatat di $5.376,60 per ons, naik 1,04%. Logam kuning ini sebelumnya telah mencapai puncak di atas $5.500 per ons pada akhir Januari ketika Trump pertama kali mengumumkan pengiriman armada besar-besaran ke Timur Tengah. Perak sempat menyentuh level intraday $96,40 sebelum terkoreksi ke $85 akibat resistensi penguatan dolar. Proyeksi jangka pendek menempatkan emas di kisaran $5.200–5.800 per ons dengan volatilitas tinggi, sementara skenario konflik berkepanjangan membuka potensi emas menembus $6.200–6.500 per troy ons, dengan perak di rentang $100–105.
Dolar AS: Safe-Haven Utama
Indeks DXY menguat ke level 98,73 pada sore hari, tertinggi dalam lima minggu, naik sekitar 2% dari sesi sebelumnya. Dolar AS mengambil peran sebagai safe-haven currency utama di tengah eskalasi, dengan tekanan paling besar dirasakan oleh mata uang pasar berkembang. Rupiah melemah ke Rp 16.850 per dolar AS—hasil kombinasi sentimen risk-off global, kenaikan harga minyak, dan penguatan dolar. Proyeksi menempatkan Rupiah berpotensi menyentuh Rp 16.950 jika konflik terus berlanjut. Yen Jepang dan Franc Swiss menjadi pengecualian karena juga menguat sebagai safe-haven alternatif.
Bursa Saham: Tekanan Merata di Asia
Indeks-indeks di Asia menjadi yang paling terpukul. Hang Seng melemah 2,1%, Nikkei 225 turun 1,4%, sementara IHSG mendekati penutupan di level 7.955 poin—melanjutkan penurunan hari kedua berturut-turut. Di Wall Street, futures pagi menunjukkan tekanan lanjutan: S&P 500 turun 0,2%, Nasdaq terkoreksi 0,3%, dan Dow Jones jatuh 351 poin. Sektor yang paling tertekan meliputi penerbangan dan pariwisata, perbankan, teknologi, serta konsumer diskresioner, akibat kombinasi inflasi, sentimen risk-off, dan kekhawatiran gangguan perdagangan global.
Konflik ini diperkirakan akan berlanjut setidaknya hingga April 2026. Selama periode tersebut, volatilitas di pasar keuangan global—khususnya di pasar minyak, emas, dan mata uang—diperkirakan tetap tinggi. Perkembangan diplomatik dan militer dalam beberapa hari ke depan akan menjadi penentu arah selanjutnya.