- Emas datar di sekitar $5.190 pada awal sesi Asia hari Rabu.
- Trump mengisyaratkan bahwa konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah bisa segera berakhir.
- Data inflasi IHK AS untuk bulan Februari akan menjadi sorotan pada hari Rabu.
Harga Emas (XAU/USD) tetap stabil di dekat $5.190 selama awal sesi Asia pada hari Rabu. Logam mulia ini stabil setelah periode volatilitas menyusul sinyal potensi de-eskalasi dalam ketegangan di Timur Tengah.
Presiden AS Donald Trump mengatakan pada hari Senin bahwa operasi militer AS di Iran akan segera berakhir tetapi tidak memberikan garis waktu yang jelas untuk menghentikan serangan yang telah mengguncang Timur Tengah dan pasar global. Komentar terbarunya tentang perang di Timur Tengah menyeret harga minyak lebih rendah dan meredakan kekhawatiran inflasi, yang memberikan dukungan bagi logam kuning ini.
Para pedagang akan mengamati dengan seksama perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC) memperingatkan bahwa jika serangan AS dan Israel berlanjut, Iran dapat memblokir ekspor minyak regional. Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa jika Iran melakukan sesuatu yang menghentikan aliran minyak melalui Selat Hormuz, Iran akan diserang oleh AS. Setiap tanda peningkatan ketegangan atau perang berkepanjangan di Iran dapat meningkatkan aset safe-haven tradisional seperti harga Emas.
Rilis data inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) AS untuk bulan Februari akan menjadi pusat perhatian pada hari Rabu. Angka IHK utama diprakirakan akan menunjukkan peningkatan sebesar 2,4% YoY di bulan Februari, sementara IHK inti diperkirakan akan menunjukkan kenaikan sebesar 2,5% selama periode yang sama. Jika hasilnya lebih panas dari yang diperkirakan, ini dapat mengangkat Dolar AS (USD) dan membebani harga komoditas berdenominasi USD dalam waktu dekat.
Pertanyaan Umum Seputar Emas
Emas telah memainkan peran penting dalam sejarah manusia karena telah banyak digunakan sebagai penyimpan nilai dan alat tukar. Saat ini, selain kilaunya dan kegunaannya sebagai perhiasan, logam mulia tersebut secara luas dipandang sebagai aset safe haven, yang berarti bahwa emas dianggap sebagai investasi yang baik selama masa-masa sulit. Emas juga secara luas dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan terhadap mata uang yang terdepresiasi karena tidak bergantung pada penerbit atau pemerintah tertentu.
Bank-bank sentral merupakan pemegang Emas terbesar. Dalam upaya mereka untuk mendukung mata uang mereka di masa sulit, bank sentral cenderung mendiversifikasi cadangan mereka dan membeli Emas untuk meningkatkan kekuatan ekonomi dan mata uang yang dirasakan. Cadangan Emas yang tinggi dapat menjadi sumber kepercayaan bagi solvabilitas suatu negara. Bank sentral menambahkan 1.136 ton Emas senilai sekitar $70 miliar ke cadangan mereka pada tahun 2022, menurut data dari World Gold Council. Ini merupakan pembelian tahunan tertinggi sejak pencatatan dimulai. Bank sentral dari negara-negara berkembang seperti Tiongkok, India, dan Turki dengan cepat meningkatkan cadangan Emasnya.
Emas memiliki korelasi terbalik dengan Dolar AS dan Obligasi Pemerintah AS, yang keduanya merupakan aset cadangan utama dan aset safe haven. Ketika Dolar terdepresiasi, Emas cenderung naik, yang memungkinkan para investor dan bank sentral untuk mendiversifikasi aset-aset mereka di masa sulit. Emas juga berkorelasi terbalik dengan aset-aset berisiko. Rally di pasar saham cenderung melemahkan harga Emas, sementara aksi jual di pasar yang lebih berisiko cenderung menguntungkan logam mulia ini.
Harga dapat bergerak karena berbagai faktor. Ketidakstabilan geopolitik atau ketakutan akan resesi yang parah dapat dengan cepat membuat harga Emas meningkat karena statusnya sebagai aset safe haven. Sebagai aset tanpa imbal hasil, Emas cenderung naik dengan suku bunga yang lebih rendah, sementara biaya uang yang lebih tinggi biasanya membebani logam kuning tersebut. Namun, sebagian besar pergerakan bergantung pada perilaku Dolar AS (USD) karena aset tersebut dihargakan dalam dolar (XAU/USD). Dolar yang kuat cenderung menjaga harga Emas tetap terkendali, sedangkan Dolar yang lebih lemah cenderung mendorong harga Emas naik.