- Emas turun meskipun ketegangan geopolitik meningkat karena permintaan baru terhadap Dolar AS membatasi daya tarik logam mulia tersebut.
- Donald Trump mengatakan bahwa memorandum of understanding dengan Iran telah berakhir, memicu kembali kekhawatiran atas eskalasi baru di Timur Tengah.
- Para investor kini menunggu Risalah rapat pertemuan Juni Federal Reserve untuk petunjuk baru mengenai prospek suku bunga.
Emas (XAU/USD) diperdagangkan di sekitar $4.050 pada hari Rabu, turun 1,40% pada hari ini pada saat berita ini ditulis, karena para investor memilih Dolar AS (USD) menyusul memburuknya kembali ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Logam mulia ini tetap berada di bawah tekanan meskipun latar belakang geopolitik semakin rapuh, karena pasar memprakirakan bahwa harga energi yang tetap tinggi dapat membuat kebijakan moneter AS tetap restriktif.
Sentimen pasar memburuk setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa memorandum of understanding yang bertujuan mengakhiri konflik dengan Iran kini telah "berakhir." Trump juga menyatakan bahwa ia tidak lagi ingin berurusan dengan Iran, sambil mengumumkan langkah-langkah perdagangan terhadap Spanyol dan memperbarui kritiknya terhadap North Atlantic Treaty Organization (NATO). Pernyataan-pernyataan ini mendukung Dolar AS, sementara harga Minyak naik di tengah meningkatnya kekhawatiran atas gangguan pasokan global.
Ketegangan meningkat setelah serangan AS menargetkan infrastruktur militer Iran sebagai respons terhadap serangan terhadap kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz. Runtuhnya memorandum dengan Iran telah memicu kembali kekhawatiran atas keamanan jalur perairan strategis ini, yang dilalui oleh porsi signifikan ekspor Minyak global. Para pelaku pasar khawatir bahwa konflik yang lebih luas dapat membuat harga energi tetap tinggi dan memicu gelombang baru tekanan inflasi.
Dengan latar belakang ini, imbal hasil Treasury AS tetap tinggi dan terus membebani Emas yang tidak berimbal hasil. Para investor kini berfokus pada rilis Risalah rapat pertemuan Juni Federal Reserve (The Fed) pada hari Rabu untuk mendapatkan panduan tambahan mengenai arah kebijakan moneter ke depan.
Pertanyaan Umum Seputar Emas
Emas telah memainkan peran penting dalam sejarah manusia karena telah banyak digunakan sebagai penyimpan nilai dan alat tukar. Saat ini, selain kilaunya dan kegunaannya sebagai perhiasan, logam mulia tersebut secara luas dipandang sebagai aset safe haven, yang berarti bahwa emas dianggap sebagai investasi yang baik selama masa-masa sulit. Emas juga secara luas dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan terhadap mata uang yang terdepresiasi karena tidak bergantung pada penerbit atau pemerintah tertentu.
Bank-bank sentral merupakan pemegang Emas terbesar. Dalam upaya mereka untuk mendukung mata uang mereka di masa sulit, bank sentral cenderung mendiversifikasi cadangan mereka dan membeli Emas untuk meningkatkan kekuatan ekonomi dan mata uang yang dirasakan. Cadangan Emas yang tinggi dapat menjadi sumber kepercayaan bagi solvabilitas suatu negara. Bank sentral menambahkan 1.136 ton Emas senilai sekitar $70 miliar ke cadangan mereka pada tahun 2022, menurut data dari World Gold Council. Ini merupakan pembelian tahunan tertinggi sejak pencatatan dimulai. Bank sentral dari negara-negara berkembang seperti Tiongkok, India, dan Turki dengan cepat meningkatkan cadangan Emasnya.
Emas memiliki korelasi terbalik dengan Dolar AS dan Obligasi Pemerintah AS, yang keduanya merupakan aset cadangan utama dan aset safe haven. Ketika Dolar terdepresiasi, Emas cenderung naik, yang memungkinkan para investor dan bank sentral untuk mendiversifikasi aset-aset mereka di masa sulit. Emas juga berkorelasi terbalik dengan aset-aset berisiko. Rally di pasar saham cenderung melemahkan harga Emas, sementara aksi jual di pasar yang lebih berisiko cenderung menguntungkan logam mulia ini.
Harga dapat bergerak karena berbagai faktor. Ketidakstabilan geopolitik atau ketakutan akan resesi yang parah dapat dengan cepat membuat harga Emas meningkat karena statusnya sebagai aset safe haven. Sebagai aset tanpa imbal hasil, Emas cenderung naik dengan suku bunga yang lebih rendah, sementara biaya uang yang lebih tinggi biasanya membebani logam kuning tersebut. Namun, sebagian besar pergerakan bergantung pada perilaku Dolar AS (USD) karena aset tersebut dihargakan dalam dolar (XAU/USD). Dolar yang kuat cenderung menjaga harga Emas tetap terkendali, sedangkan Dolar yang lebih lemah cenderung mendorong harga Emas naik.