- Perak naik hampir 3% pada hari Kamis dan kembali menuju ujung atas kisaran mingguannya.
- Para investor menunggu pidato Kevin Warsh di Jackson Hole untuk petunjuk baru tentang prospek suku bunga AS.
- Komentar-komentar hawkish dari beberapa pengambil kebijakan dan inflasi yang persisten dapat membatasi potensi kenaikan logam putih ini.
Perak (XAG/USD) menguat pada hari Kamis dan diperdagangkan di sekitar $69,50 pada saat berita ini ditulis, naik 2,74% pada hari itu. Logam putih ini mendekati ujung atas kisaran yang telah membatasi aksi harga minggu ini, seiring para investor mengalihkan perhatian mereka ke Simposium Jackson Hole.
Katalis utama saat ini adalah pidato Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh, yang dijadwalkan pada hari Jumat. Pasar akan mencari indikasi tentang bagaimana bank sentral AS menilai tekanan inflasi yang persisten dan apa artinya bagi prospek suku bunga.
Pada pertemuan kebijakan moneter bulan Juli, Kevin Warsh tidak memberikan panduan spesifik mengenai langkah The Fed berikutnya tetapi menegaskan kembali komitmen bank sentral untuk membawa inflasi kembali ke target 2%. Pesan serupa pada hari Jumat dapat memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga akan tetap tinggi lebih lama, sebuah lingkungan yang umumnya tidak menguntungkan bagi Perak, yang tidak memberikan imbal hasil.
Data AS terbaru terus menunjukkan tekanan inflasi yang persisten. Indeks Harga Belanja Konsumsi Pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE) yang dirilis pada hari Rabu mengindikasikan bahwa inflasi masih berada di atas target The Fed, meskipun indikator harga terbaru tidak menunjukkan percepatan tajam yang baru. Menurut CME FedWatch tool, pasar saat ini melihat sekitar 62% peluang bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tidak berubah pada bulan September.
Beberapa pejabat The Fed juga mempertahankan sikap hati-hati terhadap inflasi. Presiden The Fed Cleveland Beth Hammack mengatakan pada hari Kamis bahwa sekarang adalah waktunya untuk bertindak mengingat inflasi yang persisten dan mengindikasikan bahwa ia tidak memandang kebijakan moneter saat ini sebagai kebijakan yang restriktif bagi ekonomi AS. Ia juga menyoroti risiko bahwa rumah tangga dapat kehilangan kepercayaan pada kemampuan The Fed untuk membawa inflasi kembali ke 2%.
Sementara itu, Presiden The Fed Kansas City Jeff Schmid mengatakan bahwa guncangan energi mulai berdampak ke ekonomi dan menegaskan kembali perlunya mengembalikan inflasi ke target. Presiden The Fed Chicago Austan Goolsbee, pada bagiannya, mengatakan bahwa kekhawatiran jangka pendek terbesar tetap bahwa inflasi belum sepenuhnya terkendali.
Komentar-komentar ini dapat mendukung Dolar AS (USD) dan imbal hasil obligasi pemerintah AS jika para investor mengurangi ekspektasi terhadap pelonggaran moneter. Dolar AS yang lebih kuat dan suku bunga yang tinggi cenderung membebani Perak dengan meningkatkan biaya peluang untuk memegang aset yang tidak berimbal hasil.
Namun, ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah terus memberikan sejumlah dukungan bagi logam mulia. Ketegangan seputar Selat Hormuz tetap tinggi meskipun ada pembicaraan antara Iran dan Oman, sementara kekhawatiran tentang arus energi menopang permintaan safe haven dan risiko inflasi. Karena itu, Perak tetap didukung pada hari Kamis, tetapi pidato Warsh dapat menentukan apakah logam mulia ini dapat melanjutkan kenaikannya melampaui area $70.
Pertanyaan Umum Seputar Perak
Perak adalah logam mulia yang banyak diperdagangkan di kalangan investor. Secara historis, perak telah digunakan sebagai penyimpan nilai dan alat tukar. Meskipun kurang populer dibandingkan Emas, investor dapat beralih ke Perak untuk mendiversifikasi portofolio investasi mereka, untuk nilai intrinsiknya atau sebagai lindung nilai potensial selama periode inflasi tinggi. Para investor dapat membeli Perak fisik, dalam bentuk koin-koin atau batangan, atau memperdagangkannya melalui sarana seperti Dana yang Diperdagangkan di Bursa, yang melacak harganya di pasar internasional.
Harga Perak dapat bergerak karena berbagai faktor. Ketidakstabilan geopolitik atau ketakutan akan resesi yang dalam dapat membuat harga Perak meningkat karena statusnya sebagai tempat berlindung yang aman, meskipun pada tingkat yang lebih rendah daripada Emas. Sebagai aset tanpa imbal hasil, Perak cenderung naik dengan suku bunga yang lebih rendah. Pergerakannya juga bergantung pada bagaimana Dolar AS (USD) berperilaku karena aset tersebut dihargai dalam dolar (XAG/USD). Dolar yang kuat cenderung menjaga harga Perak tetap stabil, sedangkan Dolar yang lemah cenderung mendorong harga naik. Faktor lain seperti permintaan investasi, pasokan pertambangan – Perak jauh lebih melimpah daripada Emas – dan tingkat daur ulang juga dapat memengaruhi harga.
Perak banyak digunakan dalam industri, khususnya di sektor-sektor seperti elektronik atau energi surya, karena memiliki salah satu konduktivitas listrik tertinggi dari semua logam – lebih dari Tembaga dan Emas. Lonjakan permintaan dapat meningkatkan harga, sementara penurunan cenderung menurunkannya. Dinamika ekonomi AS, Tiongkok, dan India juga dapat berkontribusi pada perubahan harga: bagi AS dan khususnya Tiongkok, sektor industri besar mereka menggunakan Perak dalam berbagai proses; di India, permintaan konsumen terhadap logam mulia ini yang digunakan dalam perhiasan juga memainkan peran penting dalam menentukan harga.
Harga Perak cenderung mengikuti pergerakan Emas. Ketika harga Emas naik, Perak biasanya mengikutinya, karena statusnya sebagai aset-aset safe haven serupa. Rasio Emas/Perak, yang menunjukkan jumlah ons Perak yang dibutuhkan untuk menyamakan nilai satu ons Emas, dapat membantu menentukan valuasi relatif antara kedua logam tersebut. Beberapa investor mungkin menganggap rasio yang tinggi sebagai indikator bahwa Perak dinilai terlalu rendah, atau Emas dinilai terlalu tinggi. Sebaliknya, rasio yang rendah mungkin menunjukkan bahwa Emas dinilai terlalu rendah relatif terhadap Perak.