Ditulis berdasarkan analisis dan ditinjau oleh : Miftah Faridh Nasir, SE, Ak, MSi, CSA®, CRP®, CIB®
Saham GOOGL adalah sekuritas yang mewakili kepemilikan di Alphabet Inc., perusahaan induk Google asal Amerika Serikat yang dikenal lewat mesin pencari, YouTube, Gmail, Android, dan Google Maps. Alphabet bergerak di bidang iklan digital, cloud computing, kecerdasan buatan, hingga proyek jangka panjang seperti kendaraan otonom.
Google didirikan pada 1998 oleh Larry Page dan Sergey Brin di Mountain View, California, lalu melantai di bursa melalui IPO pada 19 Agustus 2004. Struktur induk Alphabet baru dibentuk pada 2015 untuk memisahkan bisnis inti Google dari proyek-proyek berisiko tinggi yang dikenal sebagai “Other Bets”. Sahamnya diperdagangkan di Bursa Nasdaq, dan kini Alphabet adalah salah satu perusahaan paling bernilai di dunia dengan kapitalisasi pasar sekitar $4,14 triliun.
Bagi investor, membeli saham Alphabet berarti membeli lebih dari sekadar bisnis iklan — termasuk eksposur ke cloud, AI, video digital, software produktivitas, dan proyek jangka panjang seperti Waymo.
Beda GOOGL dan GOOG: Mana yang Dipilih?
Satu hal yang sering membingungkan investor baru: Alphabet punya dua kode saham yang diperdagangkan publik. Keduanya sama-sama mewakili kepemilikan di Alphabet dan sama-sama berhak atas laba serta dividen. Perbedaannya terletak pada hak suara.
Class A (GOOGL) memberikan 1 hak suara per saham, umumnya dipilih investor yang ingin memiliki suara dalam keputusan perusahaan. Class C (GOOG) tidak memiliki hak suara sama sekali, dan harganya biasanya sangat dekat dengan GOOGL. Di luar itu ada Class B dengan 10 suara per saham yang tidak diperdagangkan publik dan mayoritas dimiliki pendiri serta insider.
Bagi investor ritel, beda praktisnya kecil. Pada 25 September 2026, GOOG ditutup di $341,08 dan GOOGL di $343,92 — selisih harga per lembar seperti ini tidak berarti satu saham lebih “murah” nilainya. Yang lebih layak diperhatikan adalah likuiditas dan selisih harga beli-jual saat bertransaksi. Jika hak suara penting, GOOGL lebih relevan, meski perlu diingat suara Class A tetap kalah jauh dari Class B milik pendiri.
Profil Singkat: Dari Mesin Pencari ke Raksasa AI

Perjalanan Alphabet membentuk lanskap internet modern selama lebih dari dua dekade. Setelah IPO pada 2004, Google mengakuisisi YouTube pada 2006, lalu mengembangkan Android sebagai sistem operasi smartphone sejak 2008.
Titik balik struktural terjadi pada 2015 saat perusahaan direstrukturisasi menjadi Alphabet Inc., diikuti penunjukan Sundar Pichai sebagai CEO pada 2019 (yang kini memimpin sekitar 190.820 karyawan). Sejak 2023, Gemini dan Google Cloud menjadi fokus utama strategi AI, dan sepanjang 2026 Google Cloud tumbuh pesat seiring melonjaknya permintaan infrastruktur AI.
Model Bisnis: Tiga Segmen, Satu Mesin Kas Utama
Model bisnis Alphabet bertumpu pada satu fondasi: membantu orang menemukan informasi, lalu memonetisasi perhatian dan aktivitas mereka. Operasinya dibagi menjadi tiga segmen utama.
Pertama, Google Services — mencakup Search, YouTube, Android, Chrome, Maps, Google Play, hardware, dan layanan langganan; inilah mesin kas utama. Kedua, Google Cloud — melayani pelanggan bisnis lewat Google Cloud Platform, Workspace, solusi data, keamanan siber, dan AI; inilah mesin pertumbuhan baru. Ketiga, Other Bets — bisnis tahap awal seperti Waymo dan inisiatif teknologi lain.
Search Masih Dominan, Cloud Makin Besar
Bila dilihat dari sumber pendapatannya pada FY2025, dominasi iklan masih jelas. Google Search & Other menyumbang $224,5 miliar (55,7%), disusul Google Cloud $58,7 miliar (14,6%), Subscription/Platforms/Devices $48,0 miliar (11,9%), YouTube Ads $40,4 miliar (10,0%), Google Network $29,8 miliar (7,4%), dan Other Bets $1,5 miliar (0,4%).

Yang perlu dicermati investor adalah pergeseran bobotnya. Google Cloud tumbuh dari $19,2 miliar pada 2021 menjadi $58,7 miliar pada 2025 — menunjukkan Alphabet perlahan makin tidak hanya bergantung pada iklan. Momentum ini makin nyata pada Q2 2026, saat Google Cloud melonjak 82% YoY menjadi $24,8 miliar dengan margin operasi 35,6%, dan backlog kontrak yang belum diakui sebagai pendapatan mencapai $514 miliar.
Market Insight
Inti dari saham GOOGL adalah bahwa Alphabet jauh lebih besar dari sekadar mesin pencari. Dengan kapitalisasi sekitar $4,14 triliun, perusahaan ini berdiri di persimpangan beberapa tema investasi besar sekaligus: iklan digital, cloud, AI, video digital lewat YouTube, dan kendaraan otonom lewat Waymo.
Struktur pendapatannya memperlihatkan transformasi yang sedang berjalan. Search tetap menjadi mesin kas dominan (55,7% pendapatan FY2025), tetapi Google Cloud yang tumbuh tiga kali lipat dalam empat tahun — dan melonjak 82% pada Q2 2026 — menjadi pilar pertumbuhan baru yang lebih berorientasi enterprise dan berpendapatan berulang. Untuk investor, satu hal praktis perlu dipahami sejak awal: GOOGL (Class A) memberi hak suara sementara GOOG (Class C) tidak, meski keduanya berhak atas laba dan dividen yang sama. Bagi investor ritel, perbedaannya kecil — yang lebih penting adalah memahami bahwa membeli saham Alphabet berarti membeli eksposur ke seluruh ekosistem digital dan AI, bukan hanya bisnis iklan.
Analisis ini bersifat edukasional dan tidak merupakan rekomendasi investasi. Selalu lakukan due diligence mandiri dan konsultasi dengan penasihat keuangan berlisensi sebelum mengambil keputusan investasi.