Emas 1 gram Antam dijual di harga Rp2.606.000 yang turun Rp27.000 dari harga kemarin di Rp2.633.000 seperti diinformasikan dalam situs Logam Mulia. Sementara itu, Emas Antam 0,5 gram dijual di harga Rp1.353.000 dan 1 kg di Rp2.546.600.000.
Penurunan harga Emas Antam mengikuti harga Emas dunia (XAU/USD) yang turun 2,06% untuk ditutup di $3.976 per troy ons pada hari kemarin, menembus level penting $4.000. Namun demikian, sejauh perdagangan sesi Asia Jumat ini belum ada tindak lanjut penurunan dengan support terdekat muncul di $3.942 yang merupakan terendah 2026 yang diraih pada 30 Juni.
Data paling menonjol yang berpotensi menjadi penggerak harga Emas dalam kalender ekonomi Amerika Serikat hari ini adalah Indeks Sentimen Konsumen Michigan pendahuluan yang akan dirilis pada pukul 14:00 GMT (21:00 WIB) hari ini. Perkembangan di Timur Tengah juga memiliki peluang untuk menjadi penggerak melalui pengaruhnya pada harga minyak dunia dan Dolar AS. Kabar terbaru menginformasikan bahwa Iran meminta milisi Houthi Yaman untuk bersiap menutup jalur minyak Laut Merah jika Amerika Serikat menyerang infrastruktur energi Iran, seperti diinformasikan oleh Reuters Kamis lalu. Sebelumnya pekan ini, Presiden AS, Donald Trump, mengancam menyerang jembatan dan pembangkit listrik Iran pekan depan jika mereka tidak kembali ke meja perundingan.
Pertanyaan Umum Seputar Emas
Emas telah memainkan peran penting dalam sejarah manusia karena telah banyak digunakan sebagai penyimpan nilai dan alat tukar. Saat ini, selain kilaunya dan kegunaannya sebagai perhiasan, logam mulia tersebut secara luas dipandang sebagai aset safe haven, yang berarti bahwa emas dianggap sebagai investasi yang baik selama masa-masa sulit. Emas juga secara luas dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan terhadap mata uang yang terdepresiasi karena tidak bergantung pada penerbit atau pemerintah tertentu.
Bank-bank sentral merupakan pemegang Emas terbesar. Dalam upaya mereka untuk mendukung mata uang mereka di masa sulit, bank sentral cenderung mendiversifikasi cadangan mereka dan membeli Emas untuk meningkatkan kekuatan ekonomi dan mata uang yang dirasakan. Cadangan Emas yang tinggi dapat menjadi sumber kepercayaan bagi solvabilitas suatu negara. Bank sentral menambahkan 1.136 ton Emas senilai sekitar $70 miliar ke cadangan mereka pada tahun 2022, menurut data dari World Gold Council. Ini merupakan pembelian tahunan tertinggi sejak pencatatan dimulai. Bank sentral dari negara-negara berkembang seperti Tiongkok, India, dan Turki dengan cepat meningkatkan cadangan Emasnya.
Emas memiliki korelasi terbalik dengan Dolar AS dan Obligasi Pemerintah AS, yang keduanya merupakan aset cadangan utama dan aset safe haven. Ketika Dolar terdepresiasi, Emas cenderung naik, yang memungkinkan para investor dan bank sentral untuk mendiversifikasi aset-aset mereka di masa sulit. Emas juga berkorelasi terbalik dengan aset-aset berisiko. Rally di pasar saham cenderung melemahkan harga Emas, sementara aksi jual di pasar yang lebih berisiko cenderung menguntungkan logam mulia ini.
Harga dapat bergerak karena berbagai faktor. Ketidakstabilan geopolitik atau ketakutan akan resesi yang parah dapat dengan cepat membuat harga Emas meningkat karena statusnya sebagai aset safe haven. Sebagai aset tanpa imbal hasil, Emas cenderung naik dengan suku bunga yang lebih rendah, sementara biaya uang yang lebih tinggi biasanya membebani logam kuning tersebut. Namun, sebagian besar pergerakan bergantung pada perilaku Dolar AS (USD) karena aset tersebut dihargakan dalam dolar (XAU/USD). Dolar yang kuat cenderung menjaga harga Emas tetap terkendali, sedangkan Dolar yang lebih lemah cenderung mendorong harga Emas naik.