Emas Antam untuk berat 1 gram dijual di harga Rp2.635.000 hari ini. Harganya lebih tinggi Rp3.000 dari harga kemarin di Rp2.632.000 seperti diinformasikan dalam situs Logam Mulia. Emas Antam 0,5 gram dijual di harga Rp1.367.500 dan 1 kg di Rp2.575.600.000.
Kenaikan harga di atas mengekor harga Emas dunia (XAU/USD) yang ditutup menguat 1,75% di $4077 per troy ons. Emas menindaklanjuti penutupan positif tersebut dengan naik lebih jauh ke area $4.122 di perdagangan sesi Asia Rabu ini, berupaya untuk mementaskan kenaikan empat hari perdagangan berturut-turut.
Kalender ekonomi Amerika Serikat (AS) hanya memuat data Permohonan Hipotek MBA dan Perubahan Persediaan Minyak Mentah EIA yang diprakirakan tidak memengaruhi pergerakan harga Emas secara signifikan pada hari ini. Dengan demikian, para pedagang akan lebih memerhatikan perkembangan di Timur Tengah yang tidak menunjukkan akan mereda sejauh ini. Presiden AS, Donald Trump, mengatakan akan menghantam wilayah Gunung Pickaxe dalam waktu dekat. Sementara itu, komando militer gabungan tertinggi Iran berencana memperluas serangan dan menargetkan kepentingan AS dan sekutu-sekutunya di seluruh kawasan jika Amerika Serikat menyerang lokasi-lokasi nuklir Iran, seperti diinformasikan Xinhua.
Pertanyaan Umum Seputar Emas
Emas telah memainkan peran penting dalam sejarah manusia karena telah banyak digunakan sebagai penyimpan nilai dan alat tukar. Saat ini, selain kilaunya dan kegunaannya sebagai perhiasan, logam mulia tersebut secara luas dipandang sebagai aset safe haven, yang berarti bahwa emas dianggap sebagai investasi yang baik selama masa-masa sulit. Emas juga secara luas dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan terhadap mata uang yang terdepresiasi karena tidak bergantung pada penerbit atau pemerintah tertentu.
Bank-bank sentral merupakan pemegang Emas terbesar. Dalam upaya mereka untuk mendukung mata uang mereka di masa sulit, bank sentral cenderung mendiversifikasi cadangan mereka dan membeli Emas untuk meningkatkan kekuatan ekonomi dan mata uang yang dirasakan. Cadangan Emas yang tinggi dapat menjadi sumber kepercayaan bagi solvabilitas suatu negara. Bank sentral menambahkan 1.136 ton Emas senilai sekitar $70 miliar ke cadangan mereka pada tahun 2022, menurut data dari World Gold Council. Ini merupakan pembelian tahunan tertinggi sejak pencatatan dimulai. Bank sentral dari negara-negara berkembang seperti Tiongkok, India, dan Turki dengan cepat meningkatkan cadangan Emasnya.
Emas memiliki korelasi terbalik dengan Dolar AS dan Obligasi Pemerintah AS, yang keduanya merupakan aset cadangan utama dan aset safe haven. Ketika Dolar terdepresiasi, Emas cenderung naik, yang memungkinkan para investor dan bank sentral untuk mendiversifikasi aset-aset mereka di masa sulit. Emas juga berkorelasi terbalik dengan aset-aset berisiko. Rally di pasar saham cenderung melemahkan harga Emas, sementara aksi jual di pasar yang lebih berisiko cenderung menguntungkan logam mulia ini.
Harga dapat bergerak karena berbagai faktor. Ketidakstabilan geopolitik atau ketakutan akan resesi yang parah dapat dengan cepat membuat harga Emas meningkat karena statusnya sebagai aset safe haven. Sebagai aset tanpa imbal hasil, Emas cenderung naik dengan suku bunga yang lebih rendah, sementara biaya uang yang lebih tinggi biasanya membebani logam kuning tersebut. Namun, sebagian besar pergerakan bergantung pada perilaku Dolar AS (USD) karena aset tersebut dihargakan dalam dolar (XAU/USD). Dolar yang kuat cenderung menjaga harga Emas tetap terkendali, sedangkan Dolar yang lebih lemah cenderung mendorong harga Emas naik.