- Harga emas Antam naik Rp20.000 ke Rp2.940.000/gram setelah koreksi tajam Jumat lalu.
- Permintaan domestik berpotensi seimbang di tengah optimisme konsumen namun belanja lebih selektif.
- Emas global stabil di atas USD 5.000 didukung pelemahan dolar dan ekspektasi pelonggaran suku bunga AS.
Harga emas Antam berbalik menguat pada perdagangan Senin setelah sebelumnya sempat terkoreksi pada akhir pekan lalu. Emas 24 karat tercatat naik Rp20.000 menjadi Rp2.940.000 per gram. Berdasarkan data Logam Mulia Antam, harga emas ukuran terkecil 0,5 gram berada di Rp1.520.000, sementara emas 10 gram dipasarkan sekitar Rp28.895.000 dan ukuran terbesar 1 kilogram dibanderol Rp2.880.600.000.
Sebelumnya, pada perdagangan Jumat, harga emas Antam sempat melanjutkan koreksi dengan emas ukuran 1 gram turun ke sekitar Rp2.856.000 per gram, melemah sekitar Rp100.000 dibanding posisi Kamis. Emas ukuran 10 gram saat itu tercatat sekitar Rp28.055.000, mencerminkan fase penyesuaian harga setelah volatilitas cukup tajam sejak akhir Januari.
Secara tren, pergerakan emas Antam masih berada dalam rentang fluktuatif. Dalam sepekan terakhir harga bergerak di kisaran Rp2.844.000 hingga Rp3.027.000 per gram, sementara dalam satu bulan terakhir berada pada rentang Rp2.577.000 sampai Rp3.168.000 per gram. Pola ini menunjukkan harga emas domestik masih sensitif terhadap dinamika harga emas global, pergerakan dolar AS, serta ekspektasi arah kebijakan moneter internasional.
Rilis data domestik Senin menunjukkan sinyal konsumsi yang relatif beragam dan berpotensi memengaruhi dinamika permintaan emas dalam negeri. Pertumbuhan penjualan sepeda motor yang melambat ke 3,1% YoY dari 14,5% sebelumnya mengindikasikan daya beli untuk barang durable mulai lebih selektif, kondisi yang kerap mendorong sebagian masyarakat mengalihkan dana ke aset lindung nilai seperti emas. Di sisi lain, kenaikan Indeks Keyakinan Konsumen ke 127,0 dari 123,5 menandakan optimisme ekonomi tetap terjaga, sehingga permintaan emas domestik kemungkinan bergerak seimbang — didukung kebutuhan proteksi nilai, namun tidak sepenuhnya dipicu kekhawatiran ekonomi.
Harga emas global bergerak menguat di USD 5.028. Logam ini mendapat dukungan dari berlanjutnya pembelian emas oleh bank sentral Tiongkok yang telah berlangsung 15 bulan berturut-turut, sekaligus meningkatnya ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter AS setelah muncul tanda pelemahan pasar tenaga kerja. Pelemahan dolar dan isu independensi The Fed juga ikut mendorong minat terhadap emas, meski optimisme pasar saham global serta meredanya ketegangan geopolitik menahan kenaikan lebih lanjut. Investor kini cenderung menunggu data ketenagakerjaan dan inflasi AS yang akan datang sebagai penentu arah berikutnya bagi harga emas.
Emas Masih Pulih Bertahap, Uji Area Hambatan Utama

Harga emas global pada perdagangan Senin menunjukkan kelanjutan pemulihan moderat setelah volatilitas tajam pada akhir Januari, dengan harga bergerak di sekitar USD 5.020 per ons. Kenaikan bertahap ini mengindikasikan pasar mulai membangun kembali momentum positif, meski penguatan masih berlangsung hati-hati di tengah fase konsolidasi yang belum sepenuhnya berakhir.
Secara teknis, area USD 4.750-4.800 tetap menjadi penopang penting yang sejauh ini berhasil menjaga struktur kenaikan jangka menengah. Sementara itu, zona USD 5.050-5.100 menjadi hambatan terdekat yang saat ini sedang diuji. Jika harga mampu bertahan di atas level tersebut, peluang penguatan menuju kisaran USD 5.200-5.300 kembali terbuka. Sebaliknya, koreksi lanjutan berpotensi membawa harga kembali menguji area USD 4.850 sebelum menentukan arah berikutnya.
Indikator Relative Strength Index (RSI) yang bergerak di kisaran pertengahan 50 menunjukkan momentum mulai pulih namun belum memasuki fase jenuh beli, menandakan ruang kenaikan masih ada tetapi tetap rentan fluktuasi. Pergerakan emas selanjutnya diprakirakan masih dipengaruhi dinamika dolar AS, ekspektasi kebijakan suku bunga global, serta perkembangan geopolitik yang dapat memicu perubahan minat terhadap aset safe haven.