- Harga emas Antam 1 gram tetap tinggi di Rp2,584 juta, mencerminkan daya tahan pasar domestik di tengah volatilitas global.
- Ketidakpastian global dan fluktuasi rupiah yang berlanjut masih menopang harga emas.
- Emas dunia bertahan di sekitar USD 4.447, didukung risiko geopolitik dan ekspektasi kebijakan The Fed yang masih cair menjelang data tenaga kerja AS.
Di pasar domestik, harga emas batangan Antam yang dirilis melalui LogamMulia.com menunjukkan ketahanan yang kuat, sejalan dengan dinamika emas global yang masih berada dalam fase penyesuaian. Per Rabu, 7 Januari 2026, harga emas Antam 1 gram dipatok Rp2.584.000, atau Rp2.590.460 termasuk PPh 0,25%, menegaskan posisi harga yang tetap tinggi meski volatilitas eksternal belum sepenuhnya mereda.
Struktur harga yang relatif stabil di berbagai pecahan turut memperlihatkan konsistensi permintaan domestik. Emas 2 gram berada di Rp5.108.000 dan 5 gram di Rp12.695.000 (belum termasuk pajak), mengindikasikan bahwa minat investor ritel masih terjaga. Emas fisik tetap dipandang sebagai instrumen lindung nilai jangka menengah, terutama di tengah ketidakpastian global dan fluktuasi nilai tukar.
Ketahanan harga tersebut selaras dengan pergerakan emas dunia (XAU/USD) yang saat ini diperdagangkan di sekitar USD 4.447 per troy ounce. Meski sempat menghadapi penolakan di area psikologis atas, emas global masih mempertahankan basis penguatan mingguannya, mencerminkan fase konsolidasi alami setelah rally yang agresif dalam beberapa hari terakhir.
Risiko geopolitik global – mulai dari konflik Venezuela hingga retorika keras Amerika Serikat terhadap sejumlah kawasan strategis – terus menjaga premi risiko pada emas. Pada saat yang sama, ekspektasi pemangkasan suku bunga Federal Reserve yang belum sepenuhnya terkonfirmasi membuat dolar AS gagal membangun tren yang konsisten, sehingga memberi ruang bagi emas untuk tetap bertahan meski sentimen risk-on sempat memicu aksi ambil untung jangka pendek.
Implikasinya terasa langsung di pasar domestik. Harga emas Antam relatif tidak tertekan secara signifikan, dengan kecenderungan investor ritel menahan posisi alih-alih melakukan distribusi agresif. Kombinasi antara harga emas global yang masih bertahan di atas USD 4.400 dan ketidakpastian arah kebijakan moneter AS membuat emas fisik tetap diposisikan sebagai penyimpan nilai di tengah pasar yang belum sepenuhnya stabil.
Ke depan, arah pergerakan emas – baik global maupun domestik – akan sangat ditentukan oleh konfirmasi data tenaga kerja AS serta sinyal lanjutan kebijakan The Fed. Faktor-faktor tersebut akan menjadi kunci apakah XAU/USD kembali menguji area psikologis atas, atau memilih memperkuat fase konsolidasinya terlebih dahulu.
Emas Global Konsolidasi Bullish: Ascending Triangle Menahan Laju di Bawah USD 4.500

Dari sudut padang teknis, pergerakan emas global (XAU/USD) masih berada dalam struktur tren naik menengah yang terdefinisi jelas, meski momentum jangka pendek mulai menunjukkan tanda penyesuaian. Harga saat ini bergerak di sekitar USD 4.446-4.447, sedikit terkoreksi setelah gagal mempertahankan dorongan di atas area psikologis USD 4.500.
Secara struktur, harga masih bergerak di dalam pola Ascending Triangle yang terbentuk sejak Oktober. Garis tren bawah channel tetap berfungsi sebagai support dinamis, sementara sisi atas channel – yang kini berimpit dengan zona USD 4.520-4.560 – menjadi area penahan kenaikan. Penolakan berulang di dekat batas atas channel ini mengindikasikan bahwa pasar mulai menakar ulang ruang lanjutan rally, bukan membalikkan tren utama.
Dari sisi moving average, Simple Moving Average (SMA) 200-hari yang berada di sekitar USD 3.976 masih naik stabil dan berada cukup jauh di bawah harga saat ini. Jarak ini menegaskan bahwa bias tren besar tetap bullish, sekaligus memberi ruang koreksi teknis tanpa merusak struktur kenaikan secara keseluruhan. Selama harga bertahan jauh di atas SMA ini, setiap pelemahan masih dapat dibaca sebagai koreksi sehat, bukan awal pembalikan arah.
Momentum osilator memperlihatkan sinyal yang lebih hati-hati. Relative Strength Index (RSI) harian berada di kisaran 60-61, turun dari area overbought sebelumnya. Pelemahan RSI ini mencerminkan pendinginan momentum setelah rally agresif, namun belum memasuki zona bearish. Selama RSI mampu bertahan di atas area netral 50, bias kenaikan masih tetap terjaga, meski dengan kecepatan yang lebih terukur.