- Harga emas Antam turun Rp 183.000 ke Rp 2.844.000/gram, setelah sempat mencetak rekor Rp 3.168.000/gram pada 29 Januari 2026.
- Emas global memantul ke sekitar USD 4.930, bertahan di atas zona Fibonacci Extension utama meski rally lanjutan masih tertahan.
- Prospek jangka panjang tetap konstruktif, ditopang ketidakpastian global dan ekspektasi kebijakan moneter AS yang cenderung ketat.
Setelah rally tajam yang membawa harga ke rekor baru pada akhir Januari, emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk mulai menunjukkan fase pendinginan. Pada perdagangan Selasa (3 Februari 2026), harga emas Antam terkoreksi dalam, mencerminkan meredanya dorongan beli setelah lonjakan agresif dalam waktu singkat.
Berdasarkan pembaruan Logam Mulia, harga emas Antam kini berada di Rp 2.844.000 per gram, turun Rp 183.000 dibandingkan perdagangan sebelumnya yang masih bertahan di atas Rp 3 juta per gram. Besarnya koreksi ini menempatkan pelemahan hari ini sebagai salah satu penurunan harian terdalam dalam beberapa waktu terakhir. Sebelumnya, emas Antam sempat mencatat rekor tertinggi sepanjang masa di Rp 3.168.000 per gram pada 29 Januari 2026, sehingga pergerakan terkini merefleksikan proses normalisasi harga pasca-rally cepat.
Di pasar global, emas justru mulai menunjukkan tanda pemulihan. Harga emas dunia memantul dari terendah Senin di USD 4.402,40 dan kini diperdagangkan di sekitar USD 4.931,14, memulihkan pelemahan yang terjadi selama tiga sesi perdagangan berturut-turut. Pemantulan ini mengindikasikan minat beli kembali muncul di level yang lebih rendah, meski volatilitas masih tinggi.
Sentimen global turut dipengaruhi dinamika kebijakan Amerika Serikat, menyusul langkah Presiden Donald Trump yang mencalonkan Kevin Warsh sebagai kandidat Ketua Federal Reserve berikutnya, menggantikan Jerome Powell, mulai Mei dan masih menunggu persetujuan Senat. Rekam jejak Warsh yang dikenal hawkish memperkuat pandangan bahwa bank sentral AS akan tetap waspada terhadap potensi kenaikan ekspektasi inflasi.
Di sisi fiskal, pasar cenderung mengabaikan dampak penutupan sebagian pemerintah AS. Senat telah menyetujui rancangan undang-undang untuk membuka kembali sejumlah lembaga federal, yang kini menunggu persetujuan DPR. Namun, proses ini berdampak pada tertundanya sejumlah rilis data tenaga kerja penting pekan ini, termasuk laporan JOLTS dan Nonfarm Payrolls.
Meski menghadapi koreksi jangka pendek, prospek emas dalam horizon yang lebih panjang dinilai masih positif. Swissquote Bank Ltd melalui analis senior Ipek Ozkardeskaya menilai fondasi bullish emas tetap kokoh, ditopang berlanjutnya ketidakpastian perdagangan dan geopolitik global, serta meningkatnya kekhawatiran terhadap keberlanjutan dinamika utang negara-negara G7 yang berpotensi memburuk ke depan.
Emas Global Masih Bertahan di Atas Fibonacci Extension 78,6%, Pasar Menata Ulang Arah Usai Rally Ekstrem

Dari grafik harian, lonjakan harga sebelumnya membawa emas menembus Fibonacci Extension (FE) 127,2%, sebelum mencatatkan tertinggi sepanjang masa di USD 5.598 dan memicu aksi ambil untung yang tajam. Tekanan jual selanjutnya menyeret harga turun cepat hingga mendekati zona USD 4.400, yang berimpit dengan FE 50% serta Simple Moving Average (SMA) jangka menengah di sekitar USD 4.486 – area yang terbukti efektif menahan laju koreksi awal.
Pemantulan dari zona tersebut mendorong harga kembali naik ke kisaran USD 4.930, mendekati FE 100%, di sekitar USD 4.994. Pergerakan ini menunjukkan pasar tengah menata ulang keseimbangan setelah volatilitas ekstrem, dengan minat beli mulai kembali namun belum cukup kuat untuk melanjutkan rally secara berkelanjutan. Di sisi atas, area USD 5.200-5.300 kini menjadi hambatan teknis utama yang membatasi ruang kenaikan lebih lanjut.
Dari sisi momentum, Relative Strength Index (RSI) yang sempat turun tajam dari wilayah jenuh beli kini bergerak kembali ke area menengah di dekat 50, menandakan tekanan jual mulai mereda meski dorongan bullish belum sepenuhnya pulih. Selama harga mampu bertahan di atas SMA dan FE 61,8%, struktur tren jangka menengah masih terjaga konstruktif. Namun dalam jangka pendek, emas berpotensi bergerak fluktuatif dalam rentang lebar sambil menunggu katalis baru yang dapat memperjelas arah pergerakan berikutnya.