- Emas Antam turun Rp65.000 setelah naik untuk dua hari berturut-turut.
- XAU/USD mematahkan penutupan positifnya di tengah ancaman Trump kepada Iran.
- NFP dan data tenaga kerja AS lainnya akan dirilis, namun diprakirakan memengaruhi pasar pada Senin depan.
Emas 1 gram Antam dijual di harga Rp2.857.000 hari ini yang lebih rendah Rp65.000 dari harga sebelumnya Rp2.922.000, seperti diinformasikan dalam situs Logam Mulia. Perubahan ini menyusul penurunan harga Emas dunia (XAU/USD) yang ditutup turun 1,72% pada basis harian di $4.676 pada hari kemarin yang pada satu titik turun ke $4.554, mematahkan penutupan positif empat hari perdagangan berturut-turut sebelumnya.
Penurunan itu ditekan oleh penguatan USD setelah Presiden AS, Donald Trump, dalam pidatonya mengungkapkan perang di Iran akan tetap berlangsung hingga dua sampai tiga minggu dan menghantam negara tersebut dengan sangat keras bahkan mengirimnya ke zaman batu jika tidak mencapai kesepakatan.
Yang terbaru, AS menghancurkan jembatan di Teheran dan Presiden Trump mengancam bahwa akan ada serangan lainnya dan mendesak Iran untuk membuat kesepakatan sebelum terlambat.
Di luar konflik di Timur Tengah, AS akan merilis kumpulan data tenaga kerja penting pada hari ini. Data tersebut adalah Nonfarm Payrolls (NFP), Pendapatan Rata-Rata Per Jam, dan Tingkat Pengangguran untuk bulan Maret. Sebagian besar pasar ditutup karena Jumat Agung, sehingga dampak data pada pasar diprakirakan baru akan terlihat pada Senin pekan depan.
Pertanyaan Umum Seputar Emas
Emas telah memainkan peran penting dalam sejarah manusia karena telah banyak digunakan sebagai penyimpan nilai dan alat tukar. Saat ini, selain kilaunya dan kegunaannya sebagai perhiasan, logam mulia tersebut secara luas dipandang sebagai aset safe haven, yang berarti bahwa emas dianggap sebagai investasi yang baik selama masa-masa sulit. Emas juga secara luas dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan terhadap mata uang yang terdepresiasi karena tidak bergantung pada penerbit atau pemerintah tertentu.
Bank-bank sentral merupakan pemegang Emas terbesar. Dalam upaya mereka untuk mendukung mata uang mereka di masa sulit, bank sentral cenderung mendiversifikasi cadangan mereka dan membeli Emas untuk meningkatkan kekuatan ekonomi dan mata uang yang dirasakan. Cadangan Emas yang tinggi dapat menjadi sumber kepercayaan bagi solvabilitas suatu negara. Bank sentral menambahkan 1.136 ton Emas senilai sekitar $70 miliar ke cadangan mereka pada tahun 2022, menurut data dari World Gold Council. Ini merupakan pembelian tahunan tertinggi sejak pencatatan dimulai. Bank sentral dari negara-negara berkembang seperti Tiongkok, India, dan Turki dengan cepat meningkatkan cadangan Emasnya.
Emas memiliki korelasi terbalik dengan Dolar AS dan Obligasi Pemerintah AS, yang keduanya merupakan aset cadangan utama dan aset safe haven. Ketika Dolar terdepresiasi, Emas cenderung naik, yang memungkinkan para investor dan bank sentral untuk mendiversifikasi aset-aset mereka di masa sulit. Emas juga berkorelasi terbalik dengan aset-aset berisiko. Rally di pasar saham cenderung melemahkan harga Emas, sementara aksi jual di pasar yang lebih berisiko cenderung menguntungkan logam mulia ini.
Harga dapat bergerak karena berbagai faktor. Ketidakstabilan geopolitik atau ketakutan akan resesi yang parah dapat dengan cepat membuat harga Emas meningkat karena statusnya sebagai aset safe haven. Sebagai aset tanpa imbal hasil, Emas cenderung naik dengan suku bunga yang lebih rendah, sementara biaya uang yang lebih tinggi biasanya membebani logam kuning tersebut. Namun, sebagian besar pergerakan bergantung pada perilaku Dolar AS (USD) karena aset tersebut dihargakan dalam dolar (XAU/USD). Dolar yang kuat cenderung menjaga harga Emas tetap terkendali, sedangkan Dolar yang lebih lemah cenderung mendorong harga Emas naik.