- Harga Emas diperdagangkan datar di sekitar $4.600 di awal sesi Asia hari Rabu.
- Para pedagang menunggu keputusan kebijakan The Fed yang penting pada hari Rabu nanti.
- Kekhawatiran inflasi dan penghentian siklus penurunan suku bunga The Fed dapat melemahkan harga Emas.
Harga Emas (XAU/USD) bertahan di dekat $4.600 selama awal sesi Asia pada hari Rabu. Logam mulia ini stabil saat para pedagang menunggu keputusan suku bunga penting dari Federal Reserve (The Fed) pada hari Rabu nanti.
Bank sentral AS diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan federal funds di kisaran 3,50% hingga 3,75%, menandai pertemuan ketiga berturut-turut tanpa perubahan. Pertemuan ini mungkin menjadi yang terakhir bagi Jerome Powell, yang penggantinya, sementara Kevin Warsh, sedang mendekati konfirmasi.
Para pedagang akan mengambil lebih banyak isyarat dari konferensi pers tentang bagaimana para pembuat kebijakan menafsirkan dampak kenaikan biaya energi dan apakah hal ini mengubah prospek jangka panjang mereka terhadap suku bunga. Setiap pernyataan hawkish dari para pembuat kebijakan Federal Reserve (The Fed) dapat mengangkat Dolar AS (USD) dan membebani harga komoditas yang berdenominasi USD.
Selain itu, ketegangan yang sedang berlangsung antara AS dan Iran serta penutupan Selat Hormuz dapat memicu ketakutan inflasi dan menaikkan ambang batas untuk pemotongan suku bunga. Emas sering digunakan di tengah ketidakpastian geopolitik, tetapi tidak memberikan imbal hasil, sehingga kurang menarik ketika suku bunga tinggi.
Pertanyaan Umum Seputar Emas
Emas telah memainkan peran penting dalam sejarah manusia karena telah banyak digunakan sebagai penyimpan nilai dan alat tukar. Saat ini, selain kilaunya dan kegunaannya sebagai perhiasan, logam mulia tersebut secara luas dipandang sebagai aset safe haven, yang berarti bahwa emas dianggap sebagai investasi yang baik selama masa-masa sulit. Emas juga secara luas dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan terhadap mata uang yang terdepresiasi karena tidak bergantung pada penerbit atau pemerintah tertentu.
Bank-bank sentral merupakan pemegang Emas terbesar. Dalam upaya mereka untuk mendukung mata uang mereka di masa sulit, bank sentral cenderung mendiversifikasi cadangan mereka dan membeli Emas untuk meningkatkan kekuatan ekonomi dan mata uang yang dirasakan. Cadangan Emas yang tinggi dapat menjadi sumber kepercayaan bagi solvabilitas suatu negara. Bank sentral menambahkan 1.136 ton Emas senilai sekitar $70 miliar ke cadangan mereka pada tahun 2022, menurut data dari World Gold Council. Ini merupakan pembelian tahunan tertinggi sejak pencatatan dimulai. Bank sentral dari negara-negara berkembang seperti Tiongkok, India, dan Turki dengan cepat meningkatkan cadangan Emasnya.
Emas memiliki korelasi terbalik dengan Dolar AS dan Obligasi Pemerintah AS, yang keduanya merupakan aset cadangan utama dan aset safe haven. Ketika Dolar terdepresiasi, Emas cenderung naik, yang memungkinkan para investor dan bank sentral untuk mendiversifikasi aset-aset mereka di masa sulit. Emas juga berkorelasi terbalik dengan aset-aset berisiko. Rally di pasar saham cenderung melemahkan harga Emas, sementara aksi jual di pasar yang lebih berisiko cenderung menguntungkan logam mulia ini.
Harga dapat bergerak karena berbagai faktor. Ketidakstabilan geopolitik atau ketakutan akan resesi yang parah dapat dengan cepat membuat harga Emas meningkat karena statusnya sebagai aset safe haven. Sebagai aset tanpa imbal hasil, Emas cenderung naik dengan suku bunga yang lebih rendah, sementara biaya uang yang lebih tinggi biasanya membebani logam kuning tersebut. Namun, sebagian besar pergerakan bergantung pada perilaku Dolar AS (USD) karena aset tersebut dihargakan dalam dolar (XAU/USD). Dolar yang kuat cenderung menjaga harga Emas tetap terkendali, sedangkan Dolar yang lebih lemah cenderung mendorong harga Emas naik.