- Harga emas Antam 1 gram naik ke Rp2.880.000, melonjak sekitar 24% dalam tiga bulan terakhir seiring menguatnya minat lindung nilai.
- Emas global mendekati USD 5.000 per ons dan mencetak rekor tertinggi, menegaskan tren bullish yang masih kuat.
- Pasar menanti rilis awal PMI S&P Global AS Januari yang diprakirakan menguat, berpotensi menopang dolar sementara namun belum mengubah daya tarik emas sebagai aset safe haven.
Harga emas batangan Antam pada Jumat, 23 Januari 2026, melanjutkan tren kenaikan dengan harga dasar emas 1 gram tercatat di Rp2.880.000, naik sekitar Rp90.000 dibandingkan posisi sebelumnya. Dengan tambahan pajak PPh 0,25%, harga emas 1 gram berada di Rp2.887.200, sementara ukuran 10 gram dipatok Rp28.365.738. Mengacu pada pergerakan grafik, harga emas telah melonjak sekitar 24% dalam tiga bulan terakhir, dari kisaran Rp2,32 juta pada akhir Oktober, mencerminkan meningkatnya minat lindung nilai di tengah ketidakpastian global dan pergerakan dolar AS yang relatif lebih rendah.
Sejalan dengan itu, harga emas global mendekati level USD 5.000 per ons, menandai kelanjutan tren naik yang masih kuat hingga akhir Januari dan menempatkan logam mulia ini di area tertinggi sepanjang masa. Kenaikan tersebut mencerminkan konsistensi arus permintaan safe haven, di saat pasar global masih menakar arah kebijakan moneter dan geopolitik.
Emas global tetap mendapat dorongan setelah Presiden AS Donald Trump menarik kembali ancaman tarif dan mengumumkan tercapainya kerangka kesepakatan terkait Greenland dengan NATO, yang meredakan ketegangan pasar. Meski data ekonomi AS menunjukkan kinerja yang kuat – dengan pertumbuhan PDB kuartal III sebesar 4,4% dan inflasi inti PCE yang stabil – hal tersebut belum cukup mengangkat dolar secara signifikan. Ekspektasi bahwa The Fed akan menahan suku bunga dalam waktu dekat, sembari tetap membuka peluang pelonggaran ke depan, terus menjaga emas atraktif sebagai aset lindung nilai.
Emas Global Dekati USD 5.000, Tren Bullish Tetap Dominan

Harga emas global berada dalam tren naik yang sangat kuat, dengan harga terakhir di sekitar USD 4.951 per ons dan mencetak rekor tertinggi baru di USD 4.967. Struktur higher high-higher low masih terjaga, sementara harga bergerak jauh di atas Simple Moving Average (SMA) di area USD 4.351 yang kini berfungsi sebagai support utama, menjaga bias naik jangka menengah-panjang tetap utuh meski membuka ruang jeda alami setelah reli tajam.
Momentum terpantau sangat kuat dengan indikator Relative Strength Index (RSI) di kisaran 81, menempatkan pasar dalam kondisi overbought yang lebih mencerminkan dominasi pembeli ketimbang sinyal pembalikan langsung. Di sisi teknis, support lanjutan berada di area USD 4.000-4.100, sementara resistance psikologis terdekat berada di USD 5.000; selama harga bertahan di atas area penyangga kunci, koreksi dipandang sebagai penyeimbangan dalam tren bullish yang masih dominan.
Secara umum, emas global masih berada dalam koridor bullish yang kokoh, terbentuk dari ketidakpastian kebijakan moneter, meredanya dominasi dolar AS, serta meningkatnya kebutuhan lindung nilai global. Setelah rally tajam ke area rekor, pasar cenderung menahan langkah sambil menunggu rilis awal PMI S&P Global AS Januari, yang berpotensi menjadi penentu kelanjutan tren dalam waktu dekat.