- Emas 1 gram Antam masih bertahan di atas Rp2.900.000.
- Liburan tahun baru Imlek tampak meredam pergerakan harga Emas.
- Perundingan AS-Iran terkait nuklir menjadi perhatian para pedagang Emas.
Emas 1 gram Antam dijual di harga Rp2.918.000 yang lebih rendah Rp22.000 dari harga kemarin Rp2.940.000 seperti diinformasikan dalam situs Logam Mulia. Penurunan ini menyusul harga Emas dunia (XAU/USD) yang ditutup turun 0,98% di $4.993 per troy ons pada hari kemarin.
Pergerakan Emas terlihat sepi kemarin karena liburan tahun baru Imlek dan Hari Presiden di Amerika Serikat. Di perdagangan sesi Asia, harga Emas juga diprakirakan tidak menunjukkan pergerakan besar karena berlanjutnya libur tahun baru Imlek di sejumlah negara di Asia.
Ke depan, harga Emas bisa dipengaruhi oleh data dari AS seperti Perubahan Ketenagakerjaan ADP Rata-Rata 4 Minggu, Indeks Manufaktur, Perumahan, dan pernyataan para pejabat The Fed pada perdagangan sesi Amerika Utara hari ini.
Para pedagang Emas juga akan mengamati perkembangan geopolitik di Timur Tengah menyusul Iran yang melakukan latihan di Selat Hormuz menjelang babak kedua perundingan Amerika Serikat dan Iran terkait nuklir pasca AS mengerahkan kapal induk kedua ke kawasan tersebut. Peningkatan ketegangan berpotensi mengangkat harga Emas safe haven dan juga sebaliknya ke depan.
Peristiwa penting lainnya untuk komoditas ini berasal dari Risalah Rapat FOMC yang akan dirilis pada hari Rabu, 19:00 GMT (Kamis, 02:00 WIB) dari pertemuan bulan Januari di mana pada saat itu, bank sentral AS mempertahankan suku bunga tidak berubah. Perincian Risalah Rapat akan diamati secara mendalam untuk mengukur arah kebijakan moneter ke depan, terutama pasca Nonfarm Payrolls Januari yang mengesankan serta penurunan Tingkat Pengangguran yang dirilis pekan lalu.
Pertanyaan Umum Seputar Emas
Emas telah memainkan peran penting dalam sejarah manusia karena telah banyak digunakan sebagai penyimpan nilai dan alat tukar. Saat ini, selain kilaunya dan kegunaannya sebagai perhiasan, logam mulia tersebut secara luas dipandang sebagai aset safe haven, yang berarti bahwa emas dianggap sebagai investasi yang baik selama masa-masa sulit. Emas juga secara luas dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan terhadap mata uang yang terdepresiasi karena tidak bergantung pada penerbit atau pemerintah tertentu.
Bank-bank sentral merupakan pemegang Emas terbesar. Dalam upaya mereka untuk mendukung mata uang mereka di masa sulit, bank sentral cenderung mendiversifikasi cadangan mereka dan membeli Emas untuk meningkatkan kekuatan ekonomi dan mata uang yang dirasakan. Cadangan Emas yang tinggi dapat menjadi sumber kepercayaan bagi solvabilitas suatu negara. Bank sentral menambahkan 1.136 ton Emas senilai sekitar $70 miliar ke cadangan mereka pada tahun 2022, menurut data dari World Gold Council. Ini merupakan pembelian tahunan tertinggi sejak pencatatan dimulai. Bank sentral dari negara-negara berkembang seperti Tiongkok, India, dan Turki dengan cepat meningkatkan cadangan Emasnya.
Emas memiliki korelasi terbalik dengan Dolar AS dan Obligasi Pemerintah AS, yang keduanya merupakan aset cadangan utama dan aset safe haven. Ketika Dolar terdepresiasi, Emas cenderung naik, yang memungkinkan para investor dan bank sentral untuk mendiversifikasi aset-aset mereka di masa sulit. Emas juga berkorelasi terbalik dengan aset-aset berisiko. Rally di pasar saham cenderung melemahkan harga Emas, sementara aksi jual di pasar yang lebih berisiko cenderung menguntungkan logam mulia ini.
Harga dapat bergerak karena berbagai faktor. Ketidakstabilan geopolitik atau ketakutan akan resesi yang parah dapat dengan cepat membuat harga Emas meningkat karena statusnya sebagai aset safe haven. Sebagai aset tanpa imbal hasil, Emas cenderung naik dengan suku bunga yang lebih rendah, sementara biaya uang yang lebih tinggi biasanya membebani logam kuning tersebut. Namun, sebagian besar pergerakan bergantung pada perilaku Dolar AS (USD) karena aset tersebut dihargakan dalam dolar (XAU/USD). Dolar yang kuat cenderung menjaga harga Emas tetap terkendali, sedangkan Dolar yang lebih lemah cenderung mendorong harga Emas naik.