Emas 1 gram Antam dijual di harga Rp2.622.000 yang lebih tinggi Rp17.000 dibandingkan harga Jumat lalu di Rp2.605.000 seperti diinformasikan dalam situs Logam Mulia. Sementara itu, Emas Antam 0,5 gram dijual di harga Rp1.361.000 dan 1 kg di Rp2.562.600.000.
Kenaikan tersebut menyusul harga Emas dunia (XAU/USD) yang ditutup positif 0,09% di $4.053 per troy ons jumat lalu, memangkas hampir semua kenaikan dan penurunan hariannya. Lebih lanjut, pembukaan dengan gap naik pada awal minggu juga memberikan dorongan dan mencatatkan tertinggi harian $4.116.
Hanya ada data Pesanan Barang Tahan Lama dan Indeks Bisnis Manufaktur The Fed Dallas dalam kalender ekonomi AS hari ini. Penggerak untuk harga Emas untuk saat ini diprakirakan berasal dari perkembangan Timur Tengah menyusul AS dan Iran yang memutuskan untuk menghentikan sejenak serangan. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, ingin memberikan ruang untuk melakukan negosiasi. Namun demikian, peristiwa penting untuk komoditas minggu ini adalah keputusan suku bunga bank sentral AS pada Rabu, pukul 18:00 GMT (Kamis, 01:00 WIB).
Pertanyaan Umum Seputar Emas
Emas telah memainkan peran penting dalam sejarah manusia karena telah banyak digunakan sebagai penyimpan nilai dan alat tukar. Saat ini, selain kilaunya dan kegunaannya sebagai perhiasan, logam mulia tersebut secara luas dipandang sebagai aset safe haven, yang berarti bahwa emas dianggap sebagai investasi yang baik selama masa-masa sulit. Emas juga secara luas dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan terhadap mata uang yang terdepresiasi karena tidak bergantung pada penerbit atau pemerintah tertentu.
Bank-bank sentral merupakan pemegang Emas terbesar. Dalam upaya mereka untuk mendukung mata uang mereka di masa sulit, bank sentral cenderung mendiversifikasi cadangan mereka dan membeli Emas untuk meningkatkan kekuatan ekonomi dan mata uang yang dirasakan. Cadangan Emas yang tinggi dapat menjadi sumber kepercayaan bagi solvabilitas suatu negara. Bank sentral menambahkan 1.136 ton Emas senilai sekitar $70 miliar ke cadangan mereka pada tahun 2022, menurut data dari World Gold Council. Ini merupakan pembelian tahunan tertinggi sejak pencatatan dimulai. Bank sentral dari negara-negara berkembang seperti Tiongkok, India, dan Turki dengan cepat meningkatkan cadangan Emasnya.
Emas memiliki korelasi terbalik dengan Dolar AS dan Obligasi Pemerintah AS, yang keduanya merupakan aset cadangan utama dan aset safe haven. Ketika Dolar terdepresiasi, Emas cenderung naik, yang memungkinkan para investor dan bank sentral untuk mendiversifikasi aset-aset mereka di masa sulit. Emas juga berkorelasi terbalik dengan aset-aset berisiko. Rally di pasar saham cenderung melemahkan harga Emas, sementara aksi jual di pasar yang lebih berisiko cenderung menguntungkan logam mulia ini.
Harga dapat bergerak karena berbagai faktor. Ketidakstabilan geopolitik atau ketakutan akan resesi yang parah dapat dengan cepat membuat harga Emas meningkat karena statusnya sebagai aset safe haven. Sebagai aset tanpa imbal hasil, Emas cenderung naik dengan suku bunga yang lebih rendah, sementara biaya uang yang lebih tinggi biasanya membebani logam kuning tersebut. Namun, sebagian besar pergerakan bergantung pada perilaku Dolar AS (USD) karena aset tersebut dihargakan dalam dolar (XAU/USD). Dolar yang kuat cenderung menjaga harga Emas tetap terkendali, sedangkan Dolar yang lebih lemah cenderung mendorong harga Emas naik.