- Emas Antam membuka pekan baru di Rp1.894.000, lebih rendah dari Jumat lalu.
- Para investor menantikan hasil dari perundingan antara Presiden AS, Donald Trump, dan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskiy, pada hari ini.
- Dalam jangka lebih panjang, XAU/USD masih terperangkap dalam kisaran sideways.
Emas 1 gram Antam dijual di harga Rp1.894.000 pada hari ini, seperti dicantum dalam situs Logam Mulia. Harga Emas hari ini lebih rendah Rp15.000 jika dibandingkan dengan harga Jumat lalu di Rp1.909.000. Sementara harga Emas Antam dengan berat 10 gram dan 100 gram masing-masing dijual di harga Rp18.435.000 dan Rp183.612.000. Harga-harga di atas belum termasuk pajak PPh 0,25%. Harga Emas Antam yang lebih rendah ini terjadi meskipun pasar Indonesia tutup karena cuti bersama untuk merayakan Hari Kemerdekaan Republik Indonsia (RI), mengindikasikan bahwa Emas Antam mengikuti pergerakan harga Emas dunia (XAU/USD).
Emas Antam Mengkuti Kinerja Merah Ringan XAU/USD Jumat Lalu
Emas Antam turun setelah XAU/USD turun 0,02% pada Jumat lalu dan menutup pekan perdagangan terakhir di $3.335 per troy ons. Pada saat berita ini ditulis, XAU/USD berada di area $3.345 naik 0,29% setelah sempat turun ke $3.323, level terendah sejak 4 Agustus 2025.
Penurunan harga Emas menyusul pertemuan antara Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, dan Presiden Rusia, Vladimir Putin, di Alaska pada Jumat lalu untuk membahas akhir dari perang di Ukraina. Meskipun tidak ada terobosan nyata, pasar menilai ini sebagai langkah menunju akhir dari perang. Harapan tersebut meredam permintaan aset-aset yang lebih aman termasuk Emas.
Peristiwa Penting yang Bisa Pengaruhi Harga Emas Antam ke Depan
Presiden AS, Donald Trump, akan bertemu dengan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskiy, pada hari ini. Trump menyebut bahwa Zelenskiy bisa segera mengakhiri perang dengan Rusia jika dia mau, atau dia dapat terus berjuang.
Kemajuan apa pun yang dibuat dalam perundingan tersebut akan menimbulkan sentimen positif di pasar yang pada akhirnya membuat Emas terpukul karena para investor menjual aset-aset safa haven seperti Emas demi membeli aset-aset yang lebih berisiko dan berimbal hasil lebih tinggi.
Produksi Industri Swiss, Neraca Perdagangan Uni Eropa, Laporan Bulanan Buba Jerman, Indeks Pasar Perumahan NAHB adalah data menonjol yang akan dirilis hari ini. Namun demikian, pasar tampaknya akan lebih memerhatikan perkembangan perundingan Trump dan Zelenskiy untuk mencari petunjuk untuk arah pergerakan XAU/USD selanjutnya, yang pada akhirnya memengaruhi harga Emas Antam besok hari.
Grafik Harian XAU/USD
XAU/USD bergerak dalam kisaran sideways 3.245-3.452 sejak akhir Mei 2025 pada grafik harian di atas. Pergerakan sideways ini menyusul XAU/USD yang mencatatkan rekor tertinggi baru di area 3.500 pada 22 April.
Indikator Relative Strength Index (RSI) 14-hari di 48,90 dekat level netral 50, mengindikasikan bahwa Emas tidak memiliki momentum ke atas atau ke bawah yang kuat pada saat ini.
Namun dari sisi tren, XAU/USD tetap bullish karena bergerak di atas Exponential Moving Average (SMA 200-hari), saat ini di 3.080,74.
Penembusan tegas salah satu sisi akan dinantikan oleh para investor jangka panjang sebelum mengambil keputusan pada posisi atau arah XAU/USD dan Emas Antam ke depan.
Pertanyaan Umum Seputar Emas
Emas telah memainkan peran penting dalam sejarah manusia karena telah banyak digunakan sebagai penyimpan nilai dan alat tukar. Saat ini, selain kilaunya dan kegunaannya sebagai perhiasan, logam mulia tersebut secara luas dipandang sebagai aset safe haven, yang berarti bahwa emas dianggap sebagai investasi yang baik selama masa-masa sulit. Emas juga secara luas dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan terhadap mata uang yang terdepresiasi karena tidak bergantung pada penerbit atau pemerintah tertentu.
Bank-bank sentral merupakan pemegang Emas terbesar. Dalam upaya mereka untuk mendukung mata uang mereka di masa sulit, bank sentral cenderung mendiversifikasi cadangan mereka dan membeli Emas untuk meningkatkan kekuatan ekonomi dan mata uang yang dirasakan. Cadangan Emas yang tinggi dapat menjadi sumber kepercayaan bagi solvabilitas suatu negara. Bank sentral menambahkan 1.136 ton Emas senilai sekitar $70 miliar ke cadangan mereka pada tahun 2022, menurut data dari World Gold Council. Ini merupakan pembelian tahunan tertinggi sejak pencatatan dimulai. Bank sentral dari negara-negara berkembang seperti Tiongkok, India, dan Turki dengan cepat meningkatkan cadangan Emasnya.
Emas memiliki korelasi terbalik dengan Dolar AS dan Obligasi Pemerintah AS, yang keduanya merupakan aset cadangan utama dan aset safe haven. Ketika Dolar terdepresiasi, Emas cenderung naik, yang memungkinkan para investor dan bank sentral untuk mendiversifikasi aset-aset mereka di masa sulit. Emas juga berkorelasi terbalik dengan aset-aset berisiko. Rally di pasar saham cenderung melemahkan harga Emas, sementara aksi jual di pasar yang lebih berisiko cenderung menguntungkan logam mulia ini.
Harga dapat bergerak karena berbagai faktor. Ketidakstabilan geopolitik atau ketakutan akan resesi yang parah dapat dengan cepat membuat harga Emas meningkat karena statusnya sebagai aset safe haven. Sebagai aset tanpa imbal hasil, Emas cenderung naik dengan suku bunga yang lebih rendah, sementara biaya uang yang lebih tinggi biasanya membebani logam kuning tersebut. Namun, sebagian besar pergerakan bergantung pada perilaku Dolar AS (USD) karena aset tersebut dihargakan dalam dolar (XAU/USD). Dolar yang kuat cenderung menjaga harga Emas tetap terkendali, sedangkan Dolar yang lebih lemah cenderung mendorong harga Emas naik.