Emas Antam untuk berat 1 gram dijual di harga Rp2.823.000 hari ini, seperti diinformasikan dalam situs Logam Mulia. Harganya lebih tinggi Rp33.000 dari harga kemarin. Sementara itu, Emas Antam 0,5 gram dijual di harga Rp1.461.500 dan 1.000 gram di Rp2.763.600.000.
Lonjakan harga Emas Antam mengekor harga Emas dunia (XAU/USD) yang ditutup naik 2,93% di $4.691 per troy ons pada hari kemarin. Emas ini naik untuk dua hari berturut-turut dan sedang mencoba untuk melanjutkan kenaikan di perdagangan sesi Asia hari ini.
Kenaikan tersebut terjadi di tengah tumbuhnya optimisme terhadap akhir dari perang AS-Iran, meskipun masih harus ditunggu apakah kabar tersebut berubah menjadi kenyataan. Sambil menantikan kabar terbaru, pasar akan mengamati kalender ekonomi AS hari ini yang memuat data dan peristiwa yang berpotensi menggerakkan harga Emas dalam jangka pendek.
Yang menonjol dalam kalender ekonomi tersebut adalah data PHK Challenger, Klaim Tunjangan Pengangguran Awal, serta pernyataan pejabat The Fed, Kashkari, Hammack, dan William. Setelah itu, data penting selanjutnya untuk pasar Emas adalah Nonfarm Payrolls AS pada hari Jumat.
Pertanyaan Umum Seputar Emas
Emas telah memainkan peran penting dalam sejarah manusia karena telah banyak digunakan sebagai penyimpan nilai dan alat tukar. Saat ini, selain kilaunya dan kegunaannya sebagai perhiasan, logam mulia tersebut secara luas dipandang sebagai aset safe haven, yang berarti bahwa emas dianggap sebagai investasi yang baik selama masa-masa sulit. Emas juga secara luas dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan terhadap mata uang yang terdepresiasi karena tidak bergantung pada penerbit atau pemerintah tertentu.
Bank-bank sentral merupakan pemegang Emas terbesar. Dalam upaya mereka untuk mendukung mata uang mereka di masa sulit, bank sentral cenderung mendiversifikasi cadangan mereka dan membeli Emas untuk meningkatkan kekuatan ekonomi dan mata uang yang dirasakan. Cadangan Emas yang tinggi dapat menjadi sumber kepercayaan bagi solvabilitas suatu negara. Bank sentral menambahkan 1.136 ton Emas senilai sekitar $70 miliar ke cadangan mereka pada tahun 2022, menurut data dari World Gold Council. Ini merupakan pembelian tahunan tertinggi sejak pencatatan dimulai. Bank sentral dari negara-negara berkembang seperti Tiongkok, India, dan Turki dengan cepat meningkatkan cadangan Emasnya.
Emas memiliki korelasi terbalik dengan Dolar AS dan Obligasi Pemerintah AS, yang keduanya merupakan aset cadangan utama dan aset safe haven. Ketika Dolar terdepresiasi, Emas cenderung naik, yang memungkinkan para investor dan bank sentral untuk mendiversifikasi aset-aset mereka di masa sulit. Emas juga berkorelasi terbalik dengan aset-aset berisiko. Rally di pasar saham cenderung melemahkan harga Emas, sementara aksi jual di pasar yang lebih berisiko cenderung menguntungkan logam mulia ini.
Harga dapat bergerak karena berbagai faktor. Ketidakstabilan geopolitik atau ketakutan akan resesi yang parah dapat dengan cepat membuat harga Emas meningkat karena statusnya sebagai aset safe haven. Sebagai aset tanpa imbal hasil, Emas cenderung naik dengan suku bunga yang lebih rendah, sementara biaya uang yang lebih tinggi biasanya membebani logam kuning tersebut. Namun, sebagian besar pergerakan bergantung pada perilaku Dolar AS (USD) karena aset tersebut dihargakan dalam dolar (XAU/USD). Dolar yang kuat cenderung menjaga harga Emas tetap terkendali, sedangkan Dolar yang lebih lemah cenderung mendorong harga Emas naik.