- Emas Antam menunjukkan kenaikan Rp40.000 hari ini.
- XAU/USD menantikan kabar terbaru dari Timur Tengah.
- Dengar Pendapat calon Ketua The Fed menjadi perhatian pasar.
Emas Antam untuk berat 1 gram dijual di harga Rp2.880.000 hari ini yang lebih tinggi Rp40.000 dibandingkan dengan harga kemarin, seperti diinformasikan dalam situs Logam Mulia. Sementara harga untuk Emas Antam 0,5 gram adalah Rp1.490.000 dan 1.000 gram adalah Rp2.820.600.000.
Kenaikan harga tersebut mengekor harga Emas dunia (XAU/USD) yang ditutup positif di $4.820 per troy ons pada hari kemarin, hampir menutup gap bawah pembukaan mingguan. Namun dalam jangka pendek, Emas masih terlihat sideways di tengah penantian perkembangan terbaru untuk penyelesaian konflik AS-Iran. Kedua pihak dijadwalkan melakukan perundingan di Pakistan hari ini. Namun, Iran belum memberikan keputusan yang jelas apakah akan menghadirinya.
Kalender ekonomi AS memuat data dan peristiwa yang memiliki potensi untuk menggerakkan Emas dalam jangka pendek seperti data Penjualan Ritel serta Penjualan Rumah Tertunda. Namun, perhatian utamanya akan tertuju pada Dengar Pendapat calon ketua The Fed, Warsh, yang akan berlangsung selama perdagangan sesi Amerika Utara hari ini.
Pertanyaan Umum Seputar Emas
Emas telah memainkan peran penting dalam sejarah manusia karena telah banyak digunakan sebagai penyimpan nilai dan alat tukar. Saat ini, selain kilaunya dan kegunaannya sebagai perhiasan, logam mulia tersebut secara luas dipandang sebagai aset safe haven, yang berarti bahwa emas dianggap sebagai investasi yang baik selama masa-masa sulit. Emas juga secara luas dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan terhadap mata uang yang terdepresiasi karena tidak bergantung pada penerbit atau pemerintah tertentu.
Bank-bank sentral merupakan pemegang Emas terbesar. Dalam upaya mereka untuk mendukung mata uang mereka di masa sulit, bank sentral cenderung mendiversifikasi cadangan mereka dan membeli Emas untuk meningkatkan kekuatan ekonomi dan mata uang yang dirasakan. Cadangan Emas yang tinggi dapat menjadi sumber kepercayaan bagi solvabilitas suatu negara. Bank sentral menambahkan 1.136 ton Emas senilai sekitar $70 miliar ke cadangan mereka pada tahun 2022, menurut data dari World Gold Council. Ini merupakan pembelian tahunan tertinggi sejak pencatatan dimulai. Bank sentral dari negara-negara berkembang seperti Tiongkok, India, dan Turki dengan cepat meningkatkan cadangan Emasnya.
Emas memiliki korelasi terbalik dengan Dolar AS dan Obligasi Pemerintah AS, yang keduanya merupakan aset cadangan utama dan aset safe haven. Ketika Dolar terdepresiasi, Emas cenderung naik, yang memungkinkan para investor dan bank sentral untuk mendiversifikasi aset-aset mereka di masa sulit. Emas juga berkorelasi terbalik dengan aset-aset berisiko. Rally di pasar saham cenderung melemahkan harga Emas, sementara aksi jual di pasar yang lebih berisiko cenderung menguntungkan logam mulia ini.
Harga dapat bergerak karena berbagai faktor. Ketidakstabilan geopolitik atau ketakutan akan resesi yang parah dapat dengan cepat membuat harga Emas meningkat karena statusnya sebagai aset safe haven. Sebagai aset tanpa imbal hasil, Emas cenderung naik dengan suku bunga yang lebih rendah, sementara biaya uang yang lebih tinggi biasanya membebani logam kuning tersebut. Namun, sebagian besar pergerakan bergantung pada perilaku Dolar AS (USD) karena aset tersebut dihargakan dalam dolar (XAU/USD). Dolar yang kuat cenderung menjaga harga Emas tetap terkendali, sedangkan Dolar yang lebih lemah cenderung mendorong harga Emas naik.