Emas 1 gram Antam dijual di harga Rp2.809.000 hari ini. Harganya lebih tinggi Rp4.000 dibandingkan hari Jumat lalu, seperti diinformasikan dalam situs Logam Mulia. Emas Antam untuk berat 0,5 gram dijual di harga Rp1.454.500 sementara untuk 1.000 gram dijual di harga Rp2.749.600.000.
Perubahan ringan tersebut menyusul harga Emas dunia (XAU/USD) yang ditutup naik 0,29% Jumat lalu, mendekati level pembukaan menyusul pergerakan dua arah yang signifikan. Hal yang sama terjadi pada perdagangan sesi Asia sejauh hari ini saat pasar mencerna berita terbaru dari Timur Tengah yang muncul selama akhir pekan lalu.
Hanya ada data Indeks Bisnis Manufaktur The Fed Dallas serta Lelang Surat Utang dalam kalender ekonomi AS hari ini, sehingga berita perkembangan dari Timur Tengah diprakirakan menjadi pendorong utama untuk harga Emas terutama menyusul Presiden AS, Donald Trump, yang memerintahkan para delegasi AS untuk melewatkan perundingan damai di Pakistan selama akhir pekan.
Pertanyaan Umum Seputar Emas
Emas telah memainkan peran penting dalam sejarah manusia karena telah banyak digunakan sebagai penyimpan nilai dan alat tukar. Saat ini, selain kilaunya dan kegunaannya sebagai perhiasan, logam mulia tersebut secara luas dipandang sebagai aset safe haven, yang berarti bahwa emas dianggap sebagai investasi yang baik selama masa-masa sulit. Emas juga secara luas dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan terhadap mata uang yang terdepresiasi karena tidak bergantung pada penerbit atau pemerintah tertentu.
Bank-bank sentral merupakan pemegang Emas terbesar. Dalam upaya mereka untuk mendukung mata uang mereka di masa sulit, bank sentral cenderung mendiversifikasi cadangan mereka dan membeli Emas untuk meningkatkan kekuatan ekonomi dan mata uang yang dirasakan. Cadangan Emas yang tinggi dapat menjadi sumber kepercayaan bagi solvabilitas suatu negara. Bank sentral menambahkan 1.136 ton Emas senilai sekitar $70 miliar ke cadangan mereka pada tahun 2022, menurut data dari World Gold Council. Ini merupakan pembelian tahunan tertinggi sejak pencatatan dimulai. Bank sentral dari negara-negara berkembang seperti Tiongkok, India, dan Turki dengan cepat meningkatkan cadangan Emasnya.
Emas memiliki korelasi terbalik dengan Dolar AS dan Obligasi Pemerintah AS, yang keduanya merupakan aset cadangan utama dan aset safe haven. Ketika Dolar terdepresiasi, Emas cenderung naik, yang memungkinkan para investor dan bank sentral untuk mendiversifikasi aset-aset mereka di masa sulit. Emas juga berkorelasi terbalik dengan aset-aset berisiko. Rally di pasar saham cenderung melemahkan harga Emas, sementara aksi jual di pasar yang lebih berisiko cenderung menguntungkan logam mulia ini.
Harga dapat bergerak karena berbagai faktor. Ketidakstabilan geopolitik atau ketakutan akan resesi yang parah dapat dengan cepat membuat harga Emas meningkat karena statusnya sebagai aset safe haven. Sebagai aset tanpa imbal hasil, Emas cenderung naik dengan suku bunga yang lebih rendah, sementara biaya uang yang lebih tinggi biasanya membebani logam kuning tersebut. Namun, sebagian besar pergerakan bergantung pada perilaku Dolar AS (USD) karena aset tersebut dihargakan dalam dolar (XAU/USD). Dolar yang kuat cenderung menjaga harga Emas tetap terkendali, sedangkan Dolar yang lebih lemah cenderung mendorong harga Emas naik.