Emas 1 gram Antam dijual di harga Rp2.859.000. Harganya lebih tinggi Rp40.000 dibandingkan hari kemarin Rp2.819.000, seperti dicantumkan dalam situs Logam Mulia. Sementara itu, Emas Antam berat 0,5 gram dijual di harga Rp1.479.500 dan 1.000 gram di Rp2.799.600.000.
Kenaikan harga di atas mengekor harga Emas dunia (XAU/USD) yang memulihkan diri setelah sempat jatuh ke $4.647 per troy ons untuk ditutup lebih tinggi 0,42% di $4.734 pada hari kemarin. Pada perdagangan sesi Asia hari ini, XAU/USD sempat naik ke $4.773 yang merupakan level tertinggi sejak 22 April 2026 namun kesulitan untuk menindaklanjutinya.
Ada beberapa data yang akan dirilis dalam kalender ekonomi AS hari ini seperti Perubahan Ketenagakerjaan ADP Rata-Rata 4 Minggu, Indeks Redbook, Laporan USDA WASDE, Laporan Anggaran Bulanan, dan Stok Mingguan Minyak Mentah API. Namun, perhatian para pedagang Emas akan tertuju pada data Indeks Harga Konsumen (IHK) Umum dan Inti pada pukul 12:30 GMT (19:30 WIB) untuk mengukur efek dari harga bahan bakar yang tinggi sejak Selat Hormuz ditutup.
Pertanyaan Umum Seputar Emas
Emas telah memainkan peran penting dalam sejarah manusia karena telah banyak digunakan sebagai penyimpan nilai dan alat tukar. Saat ini, selain kilaunya dan kegunaannya sebagai perhiasan, logam mulia tersebut secara luas dipandang sebagai aset safe haven, yang berarti bahwa emas dianggap sebagai investasi yang baik selama masa-masa sulit. Emas juga secara luas dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan terhadap mata uang yang terdepresiasi karena tidak bergantung pada penerbit atau pemerintah tertentu.
Bank-bank sentral merupakan pemegang Emas terbesar. Dalam upaya mereka untuk mendukung mata uang mereka di masa sulit, bank sentral cenderung mendiversifikasi cadangan mereka dan membeli Emas untuk meningkatkan kekuatan ekonomi dan mata uang yang dirasakan. Cadangan Emas yang tinggi dapat menjadi sumber kepercayaan bagi solvabilitas suatu negara. Bank sentral menambahkan 1.136 ton Emas senilai sekitar $70 miliar ke cadangan mereka pada tahun 2022, menurut data dari World Gold Council. Ini merupakan pembelian tahunan tertinggi sejak pencatatan dimulai. Bank sentral dari negara-negara berkembang seperti Tiongkok, India, dan Turki dengan cepat meningkatkan cadangan Emasnya.
Emas memiliki korelasi terbalik dengan Dolar AS dan Obligasi Pemerintah AS, yang keduanya merupakan aset cadangan utama dan aset safe haven. Ketika Dolar terdepresiasi, Emas cenderung naik, yang memungkinkan para investor dan bank sentral untuk mendiversifikasi aset-aset mereka di masa sulit. Emas juga berkorelasi terbalik dengan aset-aset berisiko. Rally di pasar saham cenderung melemahkan harga Emas, sementara aksi jual di pasar yang lebih berisiko cenderung menguntungkan logam mulia ini.
Harga dapat bergerak karena berbagai faktor. Ketidakstabilan geopolitik atau ketakutan akan resesi yang parah dapat dengan cepat membuat harga Emas meningkat karena statusnya sebagai aset safe haven. Sebagai aset tanpa imbal hasil, Emas cenderung naik dengan suku bunga yang lebih rendah, sementara biaya uang yang lebih tinggi biasanya membebani logam kuning tersebut. Namun, sebagian besar pergerakan bergantung pada perilaku Dolar AS (USD) karena aset tersebut dihargakan dalam dolar (XAU/USD). Dolar yang kuat cenderung menjaga harga Emas tetap terkendali, sedangkan Dolar yang lebih lemah cenderung mendorong harga Emas naik.