- Emas Antam menunjukkan kenaikan dua hari berturut-turut.
- Data tingkat kedua diprakirakan tidak memengaruhi harga Emas secara signifikan.
- Perhatian pasar akan tetap tertuju pada perkembangan AS-Iran.
Emas Antam dengan berat 1 gram dijual di harga Rp2.893.000 pada hari ini yang menunjukkan kenaikan Rp30.000 dari harga Selasa lalu, seperti dicantumkan dalam situs Logam Mulia. Kenaikan harga tersebut mengekor harga Emas dunia yang ditutup di $4.841 per troy ons, naik 2,14% pada basis harian kemarin sekaligus naik untuk dua hari berturut-turut.
Tidak banyak data penting yang berpotensi menggerakkan harga Emas pada hari ini. Dari Amerika Serikat hanya ada data Indeks Harga Ekspor dan Impor, Indeks Manufaktur Wilayah Bagian NY, Indeks Pasar Perumahan NAHB, serta data Perubahan Persediaan Minyak Mentah EIA.
Data persediaan minyak diprakirakan lebih diperhatikan dari biasanya mengingat potensi gangguan distribusi global komoditas tersebut yang diakibatkan penutupan Selat Hormuz sejak akhir Februari. Selat tersebut merupakan jalur lalu lintas bagi 20% distribusi minyak secara global.
Pernyataan pejabat The Fed, Barr dan Bowman, serta Beige Book Federal sepanjang perdagangan sesi Amerika Serikat hari ini juga akan diamati jelang pertemuan The Fed dalam dua minggu ke depan. Namun dalam jangka pendek, harga Emas diprakirakan dipengaruhi oleh perkembangan positif atas konflik AS-Iran di mana Wakil Presiden AS, JD Vance, memberikan inyal bahwa diskusi antar kedua negara telah membuat kemajuan besar.
Pertanyaan Umum Seputar Emas
Emas telah memainkan peran penting dalam sejarah manusia karena telah banyak digunakan sebagai penyimpan nilai dan alat tukar. Saat ini, selain kilaunya dan kegunaannya sebagai perhiasan, logam mulia tersebut secara luas dipandang sebagai aset safe haven, yang berarti bahwa emas dianggap sebagai investasi yang baik selama masa-masa sulit. Emas juga secara luas dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan terhadap mata uang yang terdepresiasi karena tidak bergantung pada penerbit atau pemerintah tertentu.
Bank-bank sentral merupakan pemegang Emas terbesar. Dalam upaya mereka untuk mendukung mata uang mereka di masa sulit, bank sentral cenderung mendiversifikasi cadangan mereka dan membeli Emas untuk meningkatkan kekuatan ekonomi dan mata uang yang dirasakan. Cadangan Emas yang tinggi dapat menjadi sumber kepercayaan bagi solvabilitas suatu negara. Bank sentral menambahkan 1.136 ton Emas senilai sekitar $70 miliar ke cadangan mereka pada tahun 2022, menurut data dari World Gold Council. Ini merupakan pembelian tahunan tertinggi sejak pencatatan dimulai. Bank sentral dari negara-negara berkembang seperti Tiongkok, India, dan Turki dengan cepat meningkatkan cadangan Emasnya.
Emas memiliki korelasi terbalik dengan Dolar AS dan Obligasi Pemerintah AS, yang keduanya merupakan aset cadangan utama dan aset safe haven. Ketika Dolar terdepresiasi, Emas cenderung naik, yang memungkinkan para investor dan bank sentral untuk mendiversifikasi aset-aset mereka di masa sulit. Emas juga berkorelasi terbalik dengan aset-aset berisiko. Rally di pasar saham cenderung melemahkan harga Emas, sementara aksi jual di pasar yang lebih berisiko cenderung menguntungkan logam mulia ini.
Harga dapat bergerak karena berbagai faktor. Ketidakstabilan geopolitik atau ketakutan akan resesi yang parah dapat dengan cepat membuat harga Emas meningkat karena statusnya sebagai aset safe haven. Sebagai aset tanpa imbal hasil, Emas cenderung naik dengan suku bunga yang lebih rendah, sementara biaya uang yang lebih tinggi biasanya membebani logam kuning tersebut. Namun, sebagian besar pergerakan bergantung pada perilaku Dolar AS (USD) karena aset tersebut dihargakan dalam dolar (XAU/USD). Dolar yang kuat cenderung menjaga harga Emas tetap terkendali, sedangkan Dolar yang lebih lemah cenderung mendorong harga Emas naik.