- Harga emas turun ke sekitar $4.800 di awal sesi Asia hari Kamis.
- Kenaikan harga minyak memicu inflasi, menciptakan tekanan pada bank sentral untuk mempertahankan kebijakan moneter yang ketat.
- Tiongkok memperpanjang streak pembelian emasnya hingga bulan ke-18.
Harga Emas (XAU/USD) jatuh ke sekitar $4.800, memutuskan kenaikan dua hari berturut-turut selama awal sesi Asia pada hari Kamis. Ketegangan yang sedang berlangsung di Timur Tengah menciptakan lonjakan aset safe-haven, tetapi momentum itu memudar seiring melonjaknya harga minyak. Para pedagang akan memantau dengan cermat perkembangan geopolitik dan indikator ekonomi untuk dorongan baru.
Bloomberg melaporkan pada hari Rabu bahwa AS dan Iran sedang mempertimbangkan perpanjangan gencatan senjata selama dua minggu untuk memberikan lebih banyak waktu dalam merundingkan kesepakatan damai. Namun demikian, ketegangan tetap sangat tinggi di Selat Hormuz, jalur air penting untuk minyak dan gas yang secara efektif telah ditutup sejak awal perang hampir tujuh minggu lalu.
Kenaikan harga minyak telah meningkatkan kekhawatiran inflasi energi, yang meredam ekspektasi penurunan suku bunga, membebani logam kuning. Emas sering digunakan di tengah ketidakpastian geopolitik tetapi tidak memberikan imbal hasil, sehingga kurang menarik ketika suku bunga tinggi.
Di sisi lain, permintaan yang lebih tinggi dari bank-bank sentral utama dapat memberikan dukungan bagi logam mulia ini. Bank Rakyat Tiongkok (People’s Bank of China/PBoC) telah memperpanjang streak pembelian emasnya menjadi 18 bulan berturut-turut hingga Maret 2026. Tren ini menandai pergeseran struktural karena institusi memprioritaskan de-dolarisasi dan diversifikasi di tengah meningkatnya ketidakstabilan global.
Pertanyaan Umum Seputar Emas
Emas telah memainkan peran penting dalam sejarah manusia karena telah banyak digunakan sebagai penyimpan nilai dan alat tukar. Saat ini, selain kilaunya dan kegunaannya sebagai perhiasan, logam mulia tersebut secara luas dipandang sebagai aset safe haven, yang berarti bahwa emas dianggap sebagai investasi yang baik selama masa-masa sulit. Emas juga secara luas dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan terhadap mata uang yang terdepresiasi karena tidak bergantung pada penerbit atau pemerintah tertentu.
Bank-bank sentral merupakan pemegang Emas terbesar. Dalam upaya mereka untuk mendukung mata uang mereka di masa sulit, bank sentral cenderung mendiversifikasi cadangan mereka dan membeli Emas untuk meningkatkan kekuatan ekonomi dan mata uang yang dirasakan. Cadangan Emas yang tinggi dapat menjadi sumber kepercayaan bagi solvabilitas suatu negara. Bank sentral menambahkan 1.136 ton Emas senilai sekitar $70 miliar ke cadangan mereka pada tahun 2022, menurut data dari World Gold Council. Ini merupakan pembelian tahunan tertinggi sejak pencatatan dimulai. Bank sentral dari negara-negara berkembang seperti Tiongkok, India, dan Turki dengan cepat meningkatkan cadangan Emasnya.
Emas memiliki korelasi terbalik dengan Dolar AS dan Obligasi Pemerintah AS, yang keduanya merupakan aset cadangan utama dan aset safe haven. Ketika Dolar terdepresiasi, Emas cenderung naik, yang memungkinkan para investor dan bank sentral untuk mendiversifikasi aset-aset mereka di masa sulit. Emas juga berkorelasi terbalik dengan aset-aset berisiko. Rally di pasar saham cenderung melemahkan harga Emas, sementara aksi jual di pasar yang lebih berisiko cenderung menguntungkan logam mulia ini.
Harga dapat bergerak karena berbagai faktor. Ketidakstabilan geopolitik atau ketakutan akan resesi yang parah dapat dengan cepat membuat harga Emas meningkat karena statusnya sebagai aset safe haven. Sebagai aset tanpa imbal hasil, Emas cenderung naik dengan suku bunga yang lebih rendah, sementara biaya uang yang lebih tinggi biasanya membebani logam kuning tersebut. Namun, sebagian besar pergerakan bergantung pada perilaku Dolar AS (USD) karena aset tersebut dihargakan dalam dolar (XAU/USD). Dolar yang kuat cenderung menjaga harga Emas tetap terkendali, sedangkan Dolar yang lebih lemah cenderung mendorong harga Emas naik.