- Harga emas datar di sekitar $4.685 pada awal sesi Asia hari Jumat.
- Meningkatnya optimisme mengenai potensi kesepakatan damai AS-Iran mendukung harga emas.
- Trump menunggu Iran merespons proposalnya untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri perang.
Harga emas (XAU/USD) bertahan stabil di dekat $4.685 selama awal sesi Asia pada hari Jumat. Para pedagang lebih memilih untuk absen menjelang data ketenagakerjaan AS untuk bulan April yang akan dirilis kemudian hari.
Para ekonom memprakirakan penambahan 62.000 lapangan pekerjaan untuk bulan April, sementara Tingkat Pengangguran diproyeksikan tetap stabil di 4,3%. Laporan ini mungkin akan menentukan langkah Federal Reserve (The Fed) selanjutnya terkait suku bunga. Setiap tanda perbaikan di pasar tenaga kerja AS dapat mengangkat Dolar AS (USD) dan membebani harga komoditas berdenominasi USD dalam waktu dekat.
Di sisi lain, optimisme atas kesepakatan damai AS-Iran telah menyebabkan penurunan tajam harga minyak dan meredakan kekhawatiran terhadap inflasi. Pemerintahan Presiden AS Donald Trump telah menunggu Iran merespons proposalnya untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri perang.
Pemimpin Iran belum menunjukkan apakah mereka akan menerima syarat-syarat kesepakatan tersebut, meskipun sebelumnya mereka menunjukkan sedikit tanda-tanda menyerah pada program nuklir mereka dan menerima moratorium pengayaan uranium.
Pertanyaan Umum Seputar Emas
Emas telah memainkan peran penting dalam sejarah manusia karena telah banyak digunakan sebagai penyimpan nilai dan alat tukar. Saat ini, selain kilaunya dan kegunaannya sebagai perhiasan, logam mulia tersebut secara luas dipandang sebagai aset safe haven, yang berarti bahwa emas dianggap sebagai investasi yang baik selama masa-masa sulit. Emas juga secara luas dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan terhadap mata uang yang terdepresiasi karena tidak bergantung pada penerbit atau pemerintah tertentu.
Bank-bank sentral merupakan pemegang Emas terbesar. Dalam upaya mereka untuk mendukung mata uang mereka di masa sulit, bank sentral cenderung mendiversifikasi cadangan mereka dan membeli Emas untuk meningkatkan kekuatan ekonomi dan mata uang yang dirasakan. Cadangan Emas yang tinggi dapat menjadi sumber kepercayaan bagi solvabilitas suatu negara. Bank sentral menambahkan 1.136 ton Emas senilai sekitar $70 miliar ke cadangan mereka pada tahun 2022, menurut data dari World Gold Council. Ini merupakan pembelian tahunan tertinggi sejak pencatatan dimulai. Bank sentral dari negara-negara berkembang seperti Tiongkok, India, dan Turki dengan cepat meningkatkan cadangan Emasnya.
Emas memiliki korelasi terbalik dengan Dolar AS dan Obligasi Pemerintah AS, yang keduanya merupakan aset cadangan utama dan aset safe haven. Ketika Dolar terdepresiasi, Emas cenderung naik, yang memungkinkan para investor dan bank sentral untuk mendiversifikasi aset-aset mereka di masa sulit. Emas juga berkorelasi terbalik dengan aset-aset berisiko. Rally di pasar saham cenderung melemahkan harga Emas, sementara aksi jual di pasar yang lebih berisiko cenderung menguntungkan logam mulia ini.
Harga dapat bergerak karena berbagai faktor. Ketidakstabilan geopolitik atau ketakutan akan resesi yang parah dapat dengan cepat membuat harga Emas meningkat karena statusnya sebagai aset safe haven. Sebagai aset tanpa imbal hasil, Emas cenderung naik dengan suku bunga yang lebih rendah, sementara biaya uang yang lebih tinggi biasanya membebani logam kuning tersebut. Namun, sebagian besar pergerakan bergantung pada perilaku Dolar AS (USD) karena aset tersebut dihargakan dalam dolar (XAU/USD). Dolar yang kuat cenderung menjaga harga Emas tetap terkendali, sedangkan Dolar yang lebih lemah cenderung mendorong harga Emas naik.