- ISM Jasa melambat, tetapi indikator ketenagakerjaan kembali ke ekspansi.
- Taruhan kenaikan suku bunga The Fed mendingin setelah payroll yang lebih lemah dan revisi data.
- Risalah FOMC, klaim pengangguran, dan IHK menjadi panduan langkah selanjutnya.
Harga Emas (XAU/USD) turun sekitar 0,50% pada hari Senin karena Greenback tetap stabil meskipun para pedagang menyesuaikan harga dengan Federal Reserve (The Fed) yang kurang hawkish setelah laporan lapangan pekerjaan yang lebih lemah dari perkiraan pada Kamis lalu. Pasangan aset XAU/USD diperdagangkan di $4.153, turun 0,50%.
XAU/USD turun karena Dolar dan imbal hasil yang stabil membatasi pemulihan
Data dari AS menunjukkan bahwa aktivitas bisnis di sektor jasa sedikit lebih lemah dari perkiraan, dengan ISM Services PMI turun dari 54,5 menjadi 54. Meskipun data tersebut menunjukkan perlambatan, Indeks Ketenagakerjaan membaik, sementara ukuran harga produsen melambat dari 71,3 menjadi 67,7.
Data hari Senin lebih dominan dibandingkan laporan Nonfarm Payrolls bulan Juni, yang kurang dari ekspektasi, serta data April dan Mei yang direvisi turun, sebagai indikasi penurunan lebih lanjut.
Para pedagang mengurangi taruhan hawkish The Fed. Pada saat berita ini ditulis, mereka memprakirakan peluang 88% untuk kenaikan suku bunga pada pertemuan Desember, dengan harga yang mencerminkan pengetatan sebesar 22 basis poin.
Untuk pertemuan Juli, pasar uang memprakirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga tidak berubah, dengan peluang sebesar 77%, menurut data Prime Terminal.

Emas terbebani oleh imbal hasil AS yang tinggi dan Dolar AS yang kuat
Sementara itu, Indeks Dolar AS (DXY), yang melacak nilai dolar terhadap enam mata uang, naik 0,03% ke 100,90, menjadi hambatan bagi logam kuning yang tidak berimbal hasil ini. Selain itu, imbal hasil Treasury AS stabil, dengan obligasi acuan 10 tahun memberikan hasil 4,451%, tidak berubah.
Isu geopolitik mereda karena putaran kedua perundingan antara AS dan Iran di Islamabad dijadwalkan dimulai Sabtu depan. Isu yang tersisa meliputi program nuklir Iran, aset beku, Selat Hormuz, dan Lebanon.
Selain itu, agenda ekonomi AS akan menampilkan risalah rapat terakhir The Fed, diikuti oleh Klaim Tunjangan Pengangguran Awal untuk pekan yang berakhir 4 Juli, sementara para pedagang bersiap untuk data Indeks Harga Konsumen (IHK) tanggal 14 Juli.
Prospek teknis XAU/USD: Emas tetap bearish, gagal menembus $4.200
Tren penurunan harga Emas tetap utuh selama XAU gagal menembus garis tren resistance downtrend di sekitar $4.200-$4.225. Selain itu, ‘death-cross’ telah terbentuk pada grafik harian, menunjukkan para penjual telah menguasai para pembeli dan membuka peluang kerugian lebih lanjut.
Relative Strength Index (RSI) bersikap bearish, meskipun mengarah ke level netral 50. Namun, selama dua sesi perdagangan terakhir, RSI membuka peluang penurunan lebih lanjut.
Jika XAU/USD turun di bawah $4.200, support berikutnya adalah level psikologis $4.100, sebelum menguji $4.000 dan level terendah tahun berjalan (YTD) di $3.941.
Untuk pembalikan bullish, Emas perlu menembus secara tegas di atas $4.250 sebelum menguji $4.300. Di atasnya terdapat Simple Moving Average (SMA) 50-hari di $4.391, diikuti oleh SMA 200-hari di $4.488, sebelum mencapai $4.500.

Pertanyaan Umum Seputar Emas
Emas telah memainkan peran penting dalam sejarah manusia karena telah banyak digunakan sebagai penyimpan nilai dan alat tukar. Saat ini, selain kilaunya dan kegunaannya sebagai perhiasan, logam mulia tersebut secara luas dipandang sebagai aset safe haven, yang berarti bahwa emas dianggap sebagai investasi yang baik selama masa-masa sulit. Emas juga secara luas dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan terhadap mata uang yang terdepresiasi karena tidak bergantung pada penerbit atau pemerintah tertentu.
Bank-bank sentral merupakan pemegang Emas terbesar. Dalam upaya mereka untuk mendukung mata uang mereka di masa sulit, bank sentral cenderung mendiversifikasi cadangan mereka dan membeli Emas untuk meningkatkan kekuatan ekonomi dan mata uang yang dirasakan. Cadangan Emas yang tinggi dapat menjadi sumber kepercayaan bagi solvabilitas suatu negara. Bank sentral menambahkan 1.136 ton Emas senilai sekitar $70 miliar ke cadangan mereka pada tahun 2022, menurut data dari World Gold Council. Ini merupakan pembelian tahunan tertinggi sejak pencatatan dimulai. Bank sentral dari negara-negara berkembang seperti Tiongkok, India, dan Turki dengan cepat meningkatkan cadangan Emasnya.
Emas memiliki korelasi terbalik dengan Dolar AS dan Obligasi Pemerintah AS, yang keduanya merupakan aset cadangan utama dan aset safe haven. Ketika Dolar terdepresiasi, Emas cenderung naik, yang memungkinkan para investor dan bank sentral untuk mendiversifikasi aset-aset mereka di masa sulit. Emas juga berkorelasi terbalik dengan aset-aset berisiko. Rally di pasar saham cenderung melemahkan harga Emas, sementara aksi jual di pasar yang lebih berisiko cenderung menguntungkan logam mulia ini.
Harga dapat bergerak karena berbagai faktor. Ketidakstabilan geopolitik atau ketakutan akan resesi yang parah dapat dengan cepat membuat harga Emas meningkat karena statusnya sebagai aset safe haven. Sebagai aset tanpa imbal hasil, Emas cenderung naik dengan suku bunga yang lebih rendah, sementara biaya uang yang lebih tinggi biasanya membebani logam kuning tersebut. Namun, sebagian besar pergerakan bergantung pada perilaku Dolar AS (USD) karena aset tersebut dihargakan dalam dolar (XAU/USD). Dolar yang kuat cenderung menjaga harga Emas tetap terkendali, sedangkan Dolar yang lebih lemah cenderung mendorong harga Emas naik.