- Emas diperdagangkan lebih rendah di sekitar $4.463 karena ketegangan geopolitik di Timur Tengah terus memicu ketidakpastian
- Ketiadaan kemajuan nyata dalam pembicaraan antara AS dan Iran mendukung ekspektasi inflasi yang lebih tinggi dan suku bunga yang tinggi
- Pasar kini fokus pada laporan ketenagakerjaan AS bulan Mei untuk petunjuk mengenai jalur kebijakan moneter di masa depan
Emas (XAU/USD) diperdagangkan di sekitar $4.463 pada hari Jumat pada saat berita ini ditulis, turun 0,26% pada hari itu, karena para investor mengurangi eksposur menjelang rilis laporan ketenagakerjaan AS bulan Mei. Logam mulia ini tetap volatil di tengah ketegangan yang terus berlanjut di Timur Tengah dan ketidakpastian seputar prospek kebijakan moneter AS.
Sentimen pasar terbebani oleh ketiadaan kemajuan nyata dalam negosiasi yang bertujuan meredakan ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan minggu ini bahwa tidak ada kemajuan signifikan yang dicapai dalam diskusi tersebut, sambil memperingatkan bahwa eskalasi militer lebih lanjut di wilayah tersebut dapat memicu kembali konflik. Pernyataan ini bertentangan dengan komentar Presiden AS Donald Trump, yang mengatakan bahwa negosiasi berada pada tahap akhir.
Kekhawatiran geopolitik terus memicu kekhawatiran tentang inflasi global, terutama karena risiko terhadap pasokan energi. Menurut ahli strategi TD Securities Bart Melek, ekspektasi inflasi yang lebih tinggi terkait dengan guncangan pasokan telah berkontribusi pada kenaikan imbal hasil Treasury AS dan kekuatan berkelanjutan Dolar AS (USD), yang mengurangi daya tarik Emas, aset yang tidak berimbal hasil.
Para investor kini mengalihkan perhatian mereka ke laporan ketenagakerjaan AS. Konsensus prakiraan menunjukkan penambahan 85 ribu Nonfarm Payrolls (NFP) pada bulan Mei, turun dari 115 ribu pada bulan April, sementara Tingkat Pengangguran diprakirakan tetap tidak berubah di 4,3%. Laporan yang lebih kuat dari prakiraan kemungkinan akan mendukung Dolar AS dan meningkatkan tekanan pada Emas dalam jangka pendek.
Meski terjadi pullback saat ini, logam mulia ini terus menemukan support dari permintaan safe-haven di lingkungan geopolitik yang rapuh. Namun, para pedagang kemungkinan akan tetap berhati-hati menjelang rilis data ketenagakerjaan, yang dapat menjadi katalis utama bagi aksi harga Emas dalam jangka pendek.
Pertanyaan Umum Seputar Emas
Emas telah memainkan peran penting dalam sejarah manusia karena telah banyak digunakan sebagai penyimpan nilai dan alat tukar. Saat ini, selain kilaunya dan kegunaannya sebagai perhiasan, logam mulia tersebut secara luas dipandang sebagai aset safe haven, yang berarti bahwa emas dianggap sebagai investasi yang baik selama masa-masa sulit. Emas juga secara luas dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan terhadap mata uang yang terdepresiasi karena tidak bergantung pada penerbit atau pemerintah tertentu.
Bank-bank sentral merupakan pemegang Emas terbesar. Dalam upaya mereka untuk mendukung mata uang mereka di masa sulit, bank sentral cenderung mendiversifikasi cadangan mereka dan membeli Emas untuk meningkatkan kekuatan ekonomi dan mata uang yang dirasakan. Cadangan Emas yang tinggi dapat menjadi sumber kepercayaan bagi solvabilitas suatu negara. Bank sentral menambahkan 1.136 ton Emas senilai sekitar $70 miliar ke cadangan mereka pada tahun 2022, menurut data dari World Gold Council. Ini merupakan pembelian tahunan tertinggi sejak pencatatan dimulai. Bank sentral dari negara-negara berkembang seperti Tiongkok, India, dan Turki dengan cepat meningkatkan cadangan Emasnya.
Emas memiliki korelasi terbalik dengan Dolar AS dan Obligasi Pemerintah AS, yang keduanya merupakan aset cadangan utama dan aset safe haven. Ketika Dolar terdepresiasi, Emas cenderung naik, yang memungkinkan para investor dan bank sentral untuk mendiversifikasi aset-aset mereka di masa sulit. Emas juga berkorelasi terbalik dengan aset-aset berisiko. Rally di pasar saham cenderung melemahkan harga Emas, sementara aksi jual di pasar yang lebih berisiko cenderung menguntungkan logam mulia ini.
Harga dapat bergerak karena berbagai faktor. Ketidakstabilan geopolitik atau ketakutan akan resesi yang parah dapat dengan cepat membuat harga Emas meningkat karena statusnya sebagai aset safe haven. Sebagai aset tanpa imbal hasil, Emas cenderung naik dengan suku bunga yang lebih rendah, sementara biaya uang yang lebih tinggi biasanya membebani logam kuning tersebut. Namun, sebagian besar pergerakan bergantung pada perilaku Dolar AS (USD) karena aset tersebut dihargakan dalam dolar (XAU/USD). Dolar yang kuat cenderung menjaga harga Emas tetap terkendali, sedangkan Dolar yang lebih lemah cenderung mendorong harga Emas naik.