- Perak kehilangan posisi pada hari Senin, dengan XAG/USD diperdagangkan di sekitar $74,60, turun 0,92% pada hari itu
- Penangguhan pembicaraan tidak langsung antara AS dan Iran menambah ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah
- Dolar AS tetap menjadi aset safe-haven pilihan, membatasi daya tarik logam putih tersebut
Perak (XAG/USD) diperdagangkan lebih rendah di sekitar $74,60 per troy ons pada hari Senin pada saat berita ini ditulis, turun 0,92% pada hari itu. Logam putih ini menghadapi aksi ambil untung setelah diperdagangkan di dekat level tertinggi barunya, karena para investor terus memilih Dolar AS (USD) sebagai aset safe-haven utama di tengah ketegangan yang terus berlanjut di Timur Tengah.
Sentimen pasar tetap didorong oleh perkembangan hubungan antara Washington dan Tehran. Sementara harapan akan kesepakatan yang langgeng awalnya mendukung logam mulia pada awal hari, beberapa perkembangan telah menyalakan kembali kekhawatiran tentang hasil negosiasi. Menurut kantor berita Tasnim Iran, tim negosiasi Iran telah menangguhkan pertukaran pesan dengan Amerika Serikat (AS) melalui mediator sebagai respons terhadap operasi militer Israel di Lebanon.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi memperingatkan bahwa pelanggaran gencatan senjata antara Iran dan AS akan dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata di semua front regional, termasuk Lebanon. Pernyataan ini muncul saat negosiasi masih buntu pada beberapa isu kunci, termasuk program nuklir Iran dan status masa depan Selat Hormuz.
Meski ketegangan geopolitik meningkat, arus masuk ke logam mulia tetap terbatas. Para investor terus memilih Dolar AS, yang mendapat manfaat dari permintaan safe-haven yang kuat. Greenback yang lebih kuat membuat Perak menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, membebani permintaan internasional terhadap logam ini.
Pada saat yang sama, pasar terus memantau potensi dampak perkembangan Timur Tengah terhadap harga energi. Kenaikan harga Minyak yang berkelanjutan dapat memicu tekanan inflasi global dan memperkuat ekspektasi pengetatan moneter oleh Federal Reserve (The Fed), sebuah skenario yang umumnya tidak menguntungkan bagi aset yang tidak berimbal hasil seperti Perak.
Para investor kini menantikan data pasar tenaga kerja AS yang akan datang, termasuk laporan Nonfarm Payrolls (NFP) yang dijadwalkan pada hari Jumat, untuk petunjuk baru mengenai arah kebijakan The Fed di masa depan. Ekspektasi suku bunga tetap menjadi pendorong utama aksi harga Perak dalam beberapa hari ke depan.
Pertanyaan Umum Seputar Perak
Perak adalah logam mulia yang banyak diperdagangkan di kalangan investor. Secara historis, perak telah digunakan sebagai penyimpan nilai dan alat tukar. Meskipun kurang populer dibandingkan Emas, investor dapat beralih ke Perak untuk mendiversifikasi portofolio investasi mereka, untuk nilai intrinsiknya atau sebagai lindung nilai potensial selama periode inflasi tinggi. Para investor dapat membeli Perak fisik, dalam bentuk koin-koin atau batangan, atau memperdagangkannya melalui sarana seperti Dana yang Diperdagangkan di Bursa, yang melacak harganya di pasar internasional.
Harga Perak dapat bergerak karena berbagai faktor. Ketidakstabilan geopolitik atau ketakutan akan resesi yang dalam dapat membuat harga Perak meningkat karena statusnya sebagai tempat berlindung yang aman, meskipun pada tingkat yang lebih rendah daripada Emas. Sebagai aset tanpa imbal hasil, Perak cenderung naik dengan suku bunga yang lebih rendah. Pergerakannya juga bergantung pada bagaimana Dolar AS (USD) berperilaku karena aset tersebut dihargai dalam dolar (XAG/USD). Dolar yang kuat cenderung menjaga harga Perak tetap stabil, sedangkan Dolar yang lemah cenderung mendorong harga naik. Faktor lain seperti permintaan investasi, pasokan pertambangan – Perak jauh lebih melimpah daripada Emas – dan tingkat daur ulang juga dapat memengaruhi harga.
Perak banyak digunakan dalam industri, khususnya di sektor-sektor seperti elektronik atau energi surya, karena memiliki salah satu konduktivitas listrik tertinggi dari semua logam – lebih dari Tembaga dan Emas. Lonjakan permintaan dapat meningkatkan harga, sementara penurunan cenderung menurunkannya. Dinamika ekonomi AS, Tiongkok, dan India juga dapat berkontribusi pada perubahan harga: bagi AS dan khususnya Tiongkok, sektor industri besar mereka menggunakan Perak dalam berbagai proses; di India, permintaan konsumen terhadap logam mulia ini yang digunakan dalam perhiasan juga memainkan peran penting dalam menentukan harga.
Harga Perak cenderung mengikuti pergerakan Emas. Ketika harga Emas naik, Perak biasanya mengikutinya, karena statusnya sebagai aset-aset safe haven serupa. Rasio Emas/Perak, yang menunjukkan jumlah ons Perak yang dibutuhkan untuk menyamakan nilai satu ons Emas, dapat membantu menentukan valuasi relatif antara kedua logam tersebut. Beberapa investor mungkin menganggap rasio yang tinggi sebagai indikator bahwa Perak dinilai terlalu rendah, atau Emas dinilai terlalu tinggi. Sebaliknya, rasio yang rendah mungkin menunjukkan bahwa Emas dinilai terlalu rendah relatif terhadap Perak.