Ditulis berdasarkan analisis dan ditinjau oleh : Miftah Faridh Nasir, SE, Ak, MSi, CSA®, CRP®, CIB®
Lonjakan saham NVIDIA tidak berdiri di atas spekulasi semata, melainkan ditopang gelombang investasi AI global dan posisi pasar yang nyaris tanpa tanding. Peluncuran ChatGPT oleh OpenAI pada November 2022 menjadi katalis utama yang mengubah pandangan dunia tentang AI — dan setiap model bahasa besar (LLM) membutuhkan ribuan GPU NVIDIA untuk pelatihan dan inferensi.
NVIDIA memainkan peran sentral dalam gelombang investasi AI senilai $306 miliar di startup AI global.
Dominasi Pasar yang Sulit Disaingi
NVIDIA menguasai sekitar 80% pangsa pasar AI accelerator berdasarkan revenue, dengan penjualan Data Center FY2026 senilai $193,7 miliar. Keunggulan ini bukan semata soal performa chip, melainkan ekosistem.
Ekosistem CUDA yang sudah matang membuat migrasi ke chip lain menjadi sangat mahal dan berisiko bagi developer AI. Inilah hambatan masuk yang menjaga posisi NVIDIA tetap dominan di tengah persaingan yang kian ramai.
Hyperscaler Menjadi Mesin Permintaan
Permintaan terbesar datang dari raksasa teknologi yang membangun infrastruktur AI mereka di atas chip NVIDIA. Microsoft membangun infrastruktur Azure AI berbasis GPU H100/H200 untuk mendukung investasinya di OpenAI, sementara Amazon (AWS) menyediakan instance GPU NVIDIA untuk pelatihan model AI berskala besar.
Meta membeli puluhan ribu GPU H100 untuk melatih model Llama dan membangun salah satu infrastruktur AI terbesar di industri. OpenAI menjadi mitra strategis, dengan chip Blackwell menjadi tulang punggung pelatihan GPT-5 dan model berikutnya. Google pun menggunakan GPU NVIDIA di Google Cloud meski memiliki TPU buatannya sendiri.
Jensen Huang memproyeksikan platform Blackwell dan Vera Rubin akan menghasilkan pendapatan $1 triliun pada 2027.
Fundamental: Lebih Murah dari yang Terlihat
Di balik valuasi absolut yang besar, sejumlah metrik fundamental NVIDIA justru terlihat lebih masuk akal dibanding para pesaingnya. Berikut perbandingan NVIDIA dengan kompetitor utama, per 24 Juni 2026:
| Metrik | NVIDIA | AMD | Intel | Broadcom |
| P/E Ratio (TTM) | 30,63x | ~173x | ~904x | 63,25x |
| Forward P/E | 22,83x | 74,07x | 151,52x | 32,89x |
| ROE | 114,29% | 8,06% | -2,91% | 37,28% |
| PEG Ratio | 0,62 | 1,25 | 0,50 | 0,69 |
| Net Margin | 62,97% | 13,37% | -2,91% | 38,85% |
Meski menjadi perusahaan terbesar di kelompok ini, P/E TTM NVIDIA sebesar 30,63x justru jauh di bawah AMD (~173x) maupun Intel (~904x). ROE 114,29% pun meninggalkan seluruh pesaing dalam hal efisiensi modal.
PEG di Bawah 1,0 Sebagai Sinyal Krusial
Salah satu indikator paling menonjol adalah PEG Ratio NVIDIA sebesar 0,62. Nilai di bawah 1,0 mengindikasikan saham undervalued relatif terhadap pertumbuhan earnings-nya.
Efisiensi modal NVIDIA juga tercermin pada ROIC yang mencapai 135,4% — tidak ada perusahaan semikonduktor yang mendekati angka tersebut. Dengan forward P/E hanya 25,4x dan pertumbuhan EPS CAGR 69,1% selama satu dekade, valuasi NVDA saat ini terlihat lebih masuk akal daripada yang tampak di permukaan.
Market Insight
Artikel ini menyatukan dua sisi yang sering dipandang bertolak belakang. Di satu sisi, kenaikan NVIDIA bersandar pada fondasi permintaan nyata: gelombang investasi AI $306 miliar, dominasi ~80% pasar AI accelerator, dan komitmen belanja dari hampir seluruh hyperscaler besar. Ekosistem CUDA menjadi kunci yang mengubah keunggulan teknis menjadi hambatan masuk yang sulit ditembus.
Di sisi lain, meski valuasi absolutnya menjadikan NVIDIA salah satu perusahaan terbesar dunia, metrik relatifnya menceritakan kisah berbeda. P/E TTM yang lebih rendah dari pesaing, PEG 0,62, ROE 114,29%, dan ROIC 135,4% mengindikasikan bahwa harga sahamnya tumbuh sejalan dengan — bahkan tertinggal dari — laju earnings-nya. Bagi investor, pesan utamanya adalah bahwa “mahal” dalam konteks NVIDIA perlu diukur terhadap pertumbuhan, bukan hanya terhadap angka kapitalisasi. Yang tersisa untuk dinilai adalah keberlanjutan asumsi pertumbuhan itu sendiri — terutama saat dihadapkan pada arah teknikal dan risiko ke depan.
Analisis ini bersifat edukasional dan tidak merupakan rekomendasi investasi. Selalu lakukan due diligence mandiri dan konsultasi dengan penasihat keuangan berlisensi sebelum mengambil keputusan investasi.