Ditulis berdasarkan analisis dan ditinjau oleh : Iswardi Lingga, CSA, CRP, CTAD
Harga emas dunia mengalami koreksi tajam 21% setelah menyentuh level tertinggi sepanjang masa mendekati $5.600 per troy ounce, memicu spekulasi tentang masa depan rally logam mulia yang telah berlangsung lebih dari setahun.
Emas global yang sempat menembus di atas $5.500 per troy ounce dan mendekati $5.600 pada akhir Januari 2026, tiba-tiba anjlok ke kisaran $4.400-$4.700 pada awal Februari. Koreksi 21% dalam hitungan hari ini menandai volatilitas ekstrem yang jarang terjadi di pasar logam mulia, memaksa investor untuk mengevaluasi ulang posisi mereka di tengah ketidakpastian arah kebijakan moneter global.
Di pasar domestik, harga emas Antam mengikuti tren penurunan global. Setelah menembus Rp 3.168.000 per gram, harga terkoreksi ke Rp 2.860.000 pada 1 Februari 2026, sebelum menguat tipis kembali ke Rp 3 juta per gram pada 2 Februari. Sepanjang Januari, harga emas Antam bergerak dalam kisaran Rp 2,3 juta hingga Rp 3,1 juta per gram, dengan rata-rata Rp 2,56 juta per gram.
Kombinasi Faktor Penekan
Penurunan tajam harga emas dipicu oleh kombinasi aksi ambil untung besar-besaran, penguatan dolar AS secara mendadak, serta kekhawatiran pasar terhadap perubahan kepemimpinan The Fed dan arah kebijakan moneter AS.
Pengumuman Presiden AS Donald Trump untuk menunjuk Kevin Warsh sebagai calon Gubernur The Fed memicu spekulasi bahwa bank sentral akan lebih hawkish dan menurunkan independensinya, sehingga menekan harga emas secara simultan.
Indeks dolar yang telah turun ke 99,14 pada Januari 2026 mengalami penguatan mendadak, memberikan tekanan tambahan pada komoditas berbasis dolar seperti emas.
Lonjakan harga yang terlalu cepat sepanjang 2025-2026 menciptakan kondisi pasar yang overbought. Aksi jual teknikal dan margin call di bursa berjangka memperparah koreksi harga.
Fundamental Masih Solid
Meski mengalami koreksi tajam, fundamental emas tetap didukung oleh beberapa faktor struktural.
The Fed pada Januari 2026 memutuskan untuk menahan suku bunga di level 3,75% dengan ekspektasi pemangkasan lanjutan pada pertengahan tahun, setelah melakukan tiga kali pemangkasan di tahun lalu. Inflasi AS turun ke 2,7% year-on-year pada Desember 2025, mendekati target The Fed, namun masih menyisakan ruang bagi pelonggaran moneter lebih lanjut.
Ekspektasi penurunan suku bunga menurunkan imbal hasil obligasi dan mendorong investor beralih ke aset non-yield seperti emas.
Permintaan emas fisik tetap solid, terutama dari bank sentral Tiongkok, India, dan Polandia. Data World Gold Council menunjukkan pembelian emas oleh bank sentral mencapai rekor baru, dengan kontribusi mencapai 25-30% dari permintaan global.
Arus masuk ke ETF emas melonjak dua kali lipat menjadi $559 miliar pada akhir 2025, menandakan minat investasi yang tinggi.
Di sisi pasokan, produksi emas global pada 2024 mencapai 3.600 ton, dengan Tiongkok (380,2 ton), Rusia (330 ton), Australia (284 ton), Kanada (202,1 ton), dan AS (158 ton) sebagai produsen utama. Indonesia berada di peringkat 9 dengan produksi 140,1 ton. Pasokan emas global dari tambang tumbuh sangat lambat, hanya sekitar 1% per tahun, sehingga tidak mampu mengimbangi lonjakan permintaan investasi dan bank sentral.
Perak Lebih Volatile
Perak mengalami pergerakan yang lebih dramatis dibanding emas. Harga perak global sempat menembus $120 per troy ounce pada akhir Januari, sebelum anjlok hingga 41% dalam dua hari ke kisaran $71-75. Namun, secara tahunan, perak tetap mencatat kenaikan lebih dari 120% sepanjang 2025 dan awal 2026.
Volatilitas ekstrem pada perak dipicu oleh kombinasi aksi jual besar-besaran, perubahan margin di bursa, serta aksi spekulatif yang tinggi.
Perak kini menjadi komoditas strategis, didorong oleh permintaan industri yang sangat besar dari sektor panel surya, kendaraan listrik, dan infrastruktur kecerdasan buatan (AI). Konsumsi perak untuk panel surya diperkirakan mencapai 200-230 juta ons pada 2026. Teknologi sel surya N-type membutuhkan perak hingga 30% lebih banyak dibanding teknologi lama.
Pasokan perak dunia mengalami defisit struktural selama lima tahun terakhir. Produksi tambang stagnan karena sekitar 70% perak merupakan produk sampingan dari tambang tembaga, emas, dan seng, sehingga tidak mudah meningkatkan output meski harga naik. Stok perak di gudang LBMA dan COMEX sempat terkuras ke level terendah dalam sejarah, meski pada awal 2026 terjadi pemulihan stok akibat aksi jual besar-besaran.
Spekulasi di Level Tertinggi
Data Commitment of Traders (COT) menunjukkan posisi spekulan besar seperti hedge funds di pasar futures emas dan perak berada di level tertinggi dalam sejarah, menandakan pasar sangat crowded dan rentan terhadap aksi ambil untung.
Secara teknikal, harga emas sempat menembus resistance utama di $5.000 dan mencetak rekor baru di $5.600, namun kemudian terkoreksi tajam ke bawah $5.000. Support kuat berada di kisaran $4.500-$4.550, sementara resistance berikutnya di $5.111 dan $5.400. Indikator RSI menunjukkan kondisi overbought, sehingga risiko koreksi tetap tinggi.
Harga perak sangat volatil, dengan support di kisaran $70-75 dan resistance di $100-120 per ons. Koreksi tajam terjadi akibat aksi jual spekulatif dan margin call, namun secara fundamental masih didukung oleh defisit pasokan dan permintaan industri.
Proyeksi Tiga Skenario
Untuk sisa tahun 2026, analis memproyeksikan tiga skenario utama untuk pergerakan harga emas dan perak.
Skenario bullish memproyeksikan emas di kisaran $5.500-$6.000 dan perak di $100-120, didorong oleh lonjakan permintaan safe haven akibat eskalasi geopolitik, penurunan suku bunga agresif, atau gangguan pasokan energi global.
Skenario basis atau moderat menempatkan emas di kisaran $4.500-$5.000 dan perak di $70-90, dengan tren moderat dan volatilitas tinggi, didukung oleh permintaan investasi dan industri yang stabil, serta kebijakan moneter akomodatif.
Skenario bearish memperkirakan emas turun ke $3.800-$4.300 dan perak ke $40-60, jika pemulihan ekonomi global lebih cepat dari ekspektasi, suku bunga naik, dolar AS menguat, serta permintaan industri dan energi melemah.
Risiko Geopolitik Masih Tinggi
Konflik di Timur Tengah, terutama antara Israel-Palestina dan ketegangan Iran, sempat memicu lonjakan harga emas akibat premi risiko geopolitik. Ketegangan dagang antara AS-Tiongkok dan isu Laut China Selatan juga meningkatkan ketidakpastian global, mendorong permintaan aset safe haven.
Perkembangan geopolitik, terutama di Timur Tengah (Iran), Eropa (Rusia dan Greenland), dan Asia Timur (Taiwan) akan sangat mempengaruhi dinamika permintaan-pasokan dan arah komoditas berikutnya.
Implikasi untuk Indonesia
Sebagai importir bersih energi, Indonesia sangat rentan terhadap fluktuasi harga komoditas global. Harga emas Antam dan harga minyak dalam rupiah sangat dipengaruhi oleh nilai tukar dan harga global.
Permintaan emas domestik tetap tinggi sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi dan depresiasi rupiah. Volatilitas tinggi membuka peluang bagi investor domestik untuk melakukan akumulasi saat harga terkoreksi, namun risiko tetap tinggi jika terjadi perubahan mendadak pada kebijakan global atau nilai tukar.
Bank Indonesia menjaga stabilitas rupiah dan inflasi melalui intervensi nilai tukar dan pengelolaan suku bunga acuan, namun tetap rentan terhadap imported inflation akibat fluktuasi harga komoditas global.
Ke depan, harga komoditas akan sangat dipengaruhi oleh arah kebijakan moneter global (hawkish vs dovish), perkembangan geopolitik, serta dinamika permintaan-pasokan. Volatilitas pasar komoditas diprediksi masih akan berlanjut sepanjang 2026, memerlukan manajemen risiko yang lebih ketat dari investor dan pembuat kebijakan.