Ditulis berdasarkan analisis dan ditinjau oleh : Iswardi Lingga, CSA, CRP, CTAD
Eskalasi ambisi Amerika Serikat untuk mengambil alih Greenland dari Denmark telah memicu krisis diplomatik yang mengancam untuk mengubah lanskap mata uang safe haven global, dengan dolar AS berpotensi kehilangan sebagian statusnya sebagai aset pelarian utama dalam masa ketidakpastian geopolitik.
Menurut analisis komprehensif yang dirilis oleh Iswardi Lingga, CSA, CRP, CTAD, krisis Greenland menciptakan paradoks unik dalam pasar keuangan global karena melibatkan negara-negara dalam aliansi NATO yang sama, berbeda dengan konflik geopolitik tradisional yang biasanya memperkuat dolar.
“Dampak Greenland sepertinya akan berbeda, karena negara-negara yang terlibat berada dalam aliansi yang sama, terutama NATO. Dan hal ini bisa menekan USD sebagai safe haven dan mendorong de-dolarisasi yang lebih besar,” demikian tertulis dalam laporan tersebut.
Kronologi Eskalasi
Kepentingan AS di Greenland bukanlah hal baru. Sejak pendirian pangkalan militer Thule, Presiden Truman pernah menawarkan $100 juta pada 1946 untuk membeli wilayah tersebut. Namun sejak awal 2026, Donald Trump secara terbuka menyatakan niat untuk mengambil alih Greenland, baik melalui pembelian maupun opsi penggunaan kekuatan.
Denmark dan Greenland menolak secara tegas, memicu pengerahan pasukan Eropa dalam Operasi Arctic Endurance. Washington merespons keras dengan ancaman tarif 10% yang meningkat menjadi 25% pada Juni terhadap delapan negara Eropa dan Inggris.
Pengerahan pasukan yang dipimpin Denmark dan didukung Inggris, Prancis, Jerman, Swedia, Norwegia, Belanda, dan Finlandia bertujuan menunjukkan kesiapan mempertahankan pulau tersebut dan memperkuat solidaritas NATO.
Pergeseran Dinamika Safe Haven
Analisis menunjukkan proyeksi yang tidak biasa untuk dolar AS dalam tiga skenario eskalasi. Pada skenario moderat dengan retorika saja, USD diproyeksikan menguat hanya 0,5%, jauh lebih rendah dibandingkan penguatan franc Swiss sebesar 0,7% dan yen Jepang 0,6%.
Dalam skenario tinggi dengan pemberlakuan sanksi dan tarif, USD justru diproyeksikan melemah 1,0%, sementara CHF menguat 1,5% dan JPY 1,2%. Skenario ekstrem dengan konflik militer memproyeksikan pelemahan USD hingga 3,0%, kontras dengan penguatan CHF sebesar 4,0% dan JPY 3,5%.
“Safe haven, namun risiko defisit fiskal, de-dollarization jika NATO retak,” demikian penjelasan untuk proyeksi USD dalam tabel dampak potensial mata uang.
Emas dan Safe Haven Tradisional Menguat
Emas diproyeksikan menguat tajam dalam semua skenario, dari 1,0% pada skenario moderat hingga 8,0% pada skenario ekstrem, didorong oleh flight-to-quality, lindung nilai inflasi, dan ketidakpastian geopolitik.
Perak juga diprediksi menguat signifikan karena kombinasi permintaan safe haven dan industri dari sektor AI, kendaraan listrik, dan energi terbarukan.
Obligasi pemerintah AS diperkirakan mengalami kenaikan harga dengan yield turun dalam jangka pendek sebagai safe haven, meskipun terdapat risiko fiskal jangka panjang.
Perang Dagang dan Dampak Perdagangan
Krisis telah memicu perang dagang baru antara AS dan UE, dengan potensi retaliasi tarif senilai €93 miliar ($107 miliar) dari UE terhadap AS, pembekuan perjanjian dagang, serta ancaman terhadap rantai pasok global, khususnya di sektor mineral kritis dan energi.
Sektor yang paling terdampak meliputi farmasi, logistik, energi terbarukan, dan barang konsumen. Sebaliknya, sektor pertahanan dan pertambangan, khususnya rare earth, justru mendapat keuntungan dari lonjakan permintaan.
Dampak pada Pasar Global
Ketidakpastian geopolitik mendorong aksi jual di pasar saham global, dengan proyeksi koreksi 1,5% pada skenario moderat, 4,0% pada skenario tinggi, dan 10,0% pada skenario ekstrem. Sektor yang sensitif terhadap perdagangan internasional seperti otomotif, barang mewah, dan manufaktur berbasis rantai pasok global menjadi yang paling rentan.
Harga minyak diproyeksikan naik 2,0% hingga 12,0% tergantung skenario, didorong risiko pasokan dan gangguan rantai suplai. Rare earth diperkirakan mengalami kenaikan harga karena ketidakpastian pasokan Greenland dan nasionalisme sumber daya.
Implikasi untuk Emerging Markets
Ketegangan mendorong arus modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Namun laporan mencatat potensi anomali: “Negara berkembang bisa menjadi tujuan alternatif jika ketegangan terjadi dalam jangka panjang.”
Rupiah berpotensi melemah terhadap USD, CHF, dan JPY karena investor mencari aset lebih aman. Sektor manufaktur berbasis impor, transportasi, dan perbankan menjadi yang paling rentan, sementara sektor energi, batu bara, perkebunan, dan logam dapat diuntungkan oleh kenaikan harga komoditas global.
Perbandingan Historis
Laporan membandingkan krisis Greenland dengan aneksasi Krimea 2014, di mana rubel Rusia anjlok lebih dari 50% terhadap USD dan EUR, serta Krisis Teluk Persia 1990-1991 yang memicu lonjakan harga minyak hingga 100%.
Perang Rusia-Ukraina Februari 2022 juga disebutkan telah memicu kenaikan harga emas, komoditas, dan saham sektor pertahanan, namun juga memicu inflasi besar di Eropa dan AS serta menekan sektor perbankan.
Rekomendasi Strategi
Untuk investor konservatif moderat, laporan merekomendasikan diversifikasi portofolio ke aset safe haven seperti emas, CHF, dan JPY. Investor moderat agresif disarankan memanfaatkan volatilitas komoditas dan saham di sektor yang sensitif terhadap geopolitik.
Bank Indonesia direkomendasikan memperkuat cadangan devisa, melakukan intervensi di pasar valuta asing jika diperlukan, dan mempertimbangkan diversifikasi cadangan ke aset safe haven seperti emas dan CHF sebagai strategi mitigasi risiko eksternal.
Perusahaan dengan eksposur ekspor-impor tinggi perlu memperluas manajemen risiko volatilitas mata uang dengan lindung nilai dan diversifikasi pasar.
Krisis Greenland, menurut analisis, tidak hanya menguji batas kedaulatan dan hukum internasional, tetapi juga mengancam stabilitas aliansi NATO dan menciptakan ketidakpastian tinggi di pasar keuangan global yang belum pernah terjadi sebelumnya.