Harga minyak mentah dunia menghadapi tekanan berat di awal 2026 meski OPEC+ menahan kenaikan produksi, dengan surplus pasokan global dan lemahnya permintaan dari China menjadi faktor utama penekan harga.
Ditulis berdasarkan analisis dan ditinjau oleh : Iswardi Lingga, CSA, CRP, CTAD
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) anjlok ke level USD 61 per barel pada awal Februari 2026, setelah sempat melonjak ke atas USD 66 per barel pada Januari. Penurunan tajam ini terjadi meskipun ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih tinggi dan OPEC+ memutuskan untuk menahan kenaikan produksi hingga Maret 2026.
Pasokan minyak global mencapai 108,7 juta barel per hari pada 2026, jauh melampaui proyeksi permintaan OPEC+ sebesar 106,5 juta barel per hari. Kenaikan produksi dunia didorong oleh produsen non-OPEC+ yang menyumbang 1,3 juta barel per hari, terutama dari Amerika Serikat, Kanada, Brasil, dan Guyana.
Stok Minyak Membengkak, Surplus Terus Berlanjut
Stok minyak global melonjak 470 juta barel sepanjang 2025, menciptakan buffer besar di pasar. Stok industri OECD naik ke 2.838 juta barel, mendekati rata-rata lima tahun terakhir. Surplus pasokan ini terus menekan harga minyak meski ada risiko gangguan pasokan akibat konflik geopolitik.
Perlambatan ekonomi China menjadi risiko eksternal terbesar bagi pasar minyak pada 2026. Permintaan dari negara tersebut turun signifikan akibat perlambatan ekonomi, penetrasi kendaraan listrik yang semakin masif, dan kebijakan efisiensi energi pemerintah.
Pertumbuhan permintaan minyak global yang diproyeksikan naik dari 105,1 juta barel per hari pada 2025 menjadi 106,5 juta barel per hari di 2026 terutama didorong oleh pemulihan sektor petrokimia. Namun, permintaan bensin dan solar justru stagnan akibat penetrasi kendaraan listrik dan perlambatan ekonomi China.
Analisis Teknikal: Tekanan Jual Masih Dominan
Secara teknikal, harga minyak Brent dan WTI bergerak sideways ke bawah, dengan support di kisaran USD 55-60 dan resistance di USD 65-70 per barel. Tekanan jual tetap dominan selama surplus pasokan dan lemahnya permintaan global berlanjut.
Data Commitment of Traders menunjukkan posisi spekulan cenderung net short pada awal 2026, mencerminkan ekspektasi harga yang lemah akibat surplus pasokan dan permintaan yang stagnan. Namun, volatilitas tetap tinggi karena pasar sangat sensitif terhadap berita geopolitik dan perubahan kebijakan OPEC+.
Proyeksi Harga: Tiga Skenario ke Depan
Proyeksi harga minyak untuk 2026 terbagi dalam tiga skenario:
- Skenario Bullish (USD 70-80 per barel): Terjadi jika ada gangguan pasokan energi global akibat eskalasi geopolitik yang signifikan
- Skenario Basis (USD 55-65 per barel): Tren moderat dengan volatilitas tinggi, didukung dinamika pasokan-permintaan yang relatif seimbang
- Skenario Bearish (USD 45-55 per barel): Pemulihan ekonomi global lebih lambat, permintaan energi terus melemah, dan surplus pasokan berlanjut
Dampak terhadap Indonesia
Sebagai net importer minyak, Indonesia sangat rentan terhadap fluktuasi harga minyak global. Produksi domestik hanya mencapai 605.800 barel per hari pada 2025, jauh di bawah kebutuhan nasional yang mencapai 1,63 juta barel per hari. Data Energy Information Administration AS menunjukkan Indonesia memproduksi 605 ribu barel per hari dan mengonsumsi 1,73 juta barel per hari.
Penurunan harga minyak dapat meredakan tekanan fiskal dan inflasi domestik. Namun, jika terjadi lonjakan harga akibat konflik geopolitik, beban subsidi energi dan imported inflation akan meningkat tajam.
Reformasi subsidi energi menjadi kunci untuk mengurangi beban APBN. Pemerintah perlu mempercepat transisi ke energi terbarukan, memperkuat produksi domestik, dan memperluas diversifikasi mitra dagang untuk menjaga stabilitas ekonomi.
Faktor Kunci yang Perlu Diawasi
Pergerakan harga minyak ke depan akan sangat dipengaruhi oleh:
- Arah kebijakan moneter global, terutama The Fed yang diperkirakan akan memangkas suku bunga setidaknya satu kali lagi pada pertengahan tahun
- Perkembangan geopolitik di Timur Tengah, terutama konflik Israel-Palestina dan ketegangan Iran
- Dinamika permintaan-pasokan global, khususnya dari China dan produsen non-OPEC+
- Keputusan produksi OPEC+ setelah Maret 2026
Pelemahan dolar AS yang turun ke indeks 99,14 pada Januari 2026 seharusnya mendukung harga minyak dengan membuat komoditas lebih murah bagi pembeli non-AS. Namun, faktor surplus pasokan dan lemahnya permintaan tetap menjadi tekanan utama yang lebih dominan.
Dengan surplus pasokan yang terus berlanjut dan perlambatan ekonomi China yang belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan, tekanan terhadap harga minyak diperkirakan akan terus berlanjut sepanjang kuartal pertama 2026.