Ditulis berdasarkan analisis dan ditinjau oleh : Iswardi Lingga, CSA, CRP, CTAD
Kuartal pertama 2026 akan dikenang sebagai salah satu periode paling dramatis dalam sejarah pasar energi global. Dalam waktu kurang dari 33 hari setelah Operasi Epic Fury dilancarkan, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak lebih dari 75% — kenaikan kuartalan terbesar dalam sejarah modern — menyusul lumpuhnya Selat Hormuz yang menjadi urat nadi distribusi energi dunia.
28 Februari: Titik Balik yang Mengubah Segalanya
Selama dua bulan pertama 2026, pasar minyak bergerak dalam ketenangan yang menipu. Januari berlalu dengan kondisi pasar oversupply, surplus diproyeksikan mencapai 4 juta barel per hari, dan WTI diperdagangkan stabil di kisaran $57,72 per barel.
Segalanya berubah pada 28 Februari, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan Operasi Epic Fury — serangan militer terkoordinasi terhadap Iran yang menewaskan Pemimpin Agung Ali Khamenei. Pasar energi global yang semula tenang seketika berguncang keras.
Iran merespons dengan menyerang kapal-kapal sipil di Selat Hormuz mulai 1 Maret. Transit harian di jalur perairan tersebut anjlok dari 135 kapal menjadi hanya 10 kapal — penurunan lebih dari 90% dalam hitungan hari. Selat Hormuz mengalirkan sekitar 20 juta barel minyak per hari, setara dengan 20% konsumsi minyak global.
Lonjakan Harga: +75,6% dalam Satu Kuartal
Dengan Hormuz nyaris tertutup sepenuhnya, defisit pasokan bersih mencapai 14,5 hingga 16,5 juta barel per hari setelah memperhitungkan kapasitas bypass melalui jalur pipa alternatif.
WTI merespons dengan reli yang belum pernah tercatat sebelumnya. Dari harga penutupan awal tahun di $57,72 per barel, kontrak berjangka melesat hingga menyentuh puncak $115,68 pada 9 Maret — kenaikan lebih dari 100% dari posisi awal tahun hanya dalam tempo 67 hari. Pada penutupan Q1 2026, WTI ditutup di $101,38 per barel, mencatat kenaikan kuartalan +75,6%.
OPEC+ yang sebelumnya membekukan produksi untuk seluruh kuartal pertama mencoba merespons dengan mengumumkan kenaikan produksi sebesar 206.000 barel per hari untuk April — namun langkah itu memberikan dampak terbatas. Kapasitas cadangan produksi anggota-anggotanya mayoritas terjebak di kawasan Teluk yang ikut terganggu akibat konflik.
Respons Darurat: IEA Lepas Cadangan Terbesar dalam Sejarah
Dengan harga energi mengancam stabilitas ekonomi global, Badan Energi Internasional (IEA) mengambil langkah darurat bersejarah pada 11 Maret: melepas 400 juta barel dari cadangan minyak strategis — pelepasan terbesar dalam sejarah lembaga tersebut.
Langkah itu sempat menekan harga ke kisaran $87–90 per barel. Amerika Serikat turut melonggarkan sanksi minyak Rusia secara temporer, membuka potensi tambahan pasokan sekitar 100 juta barel ke pasar global.
Namun dengan blokade Hormuz yang belum terangkat, efek peredaman harga tersebut bersifat sementara. Menjelang akhir Maret, WTI kembali menembus $100 per barel, mengunci kenaikan kuartal yang tak tertandingi dalam sejarah modern.
Efek Domino: Dari Inflasi hingga Krisis Mata Uang
Guncangan energi merambat ke seluruh sistem keuangan global. Federal Reserve mempertahankan suku bunga di 3,50–3,75% di kedua pertemuan FOMC kuartal pertama, dengan proyeksi inflasi PCE 2026 dinaikkan ke 2,7% dari sebelumnya 2,4% — seluruhnya mencerminkan dampak harga energi.
Di Eropa, ECB merevisi naik proyeksi inflasi 2026 ke 2,6% dari 1,9%, dengan pasar bahkan mulai memperagakan kemungkinan kenaikan suku bunga ECB dengan probabilitas 84%. EUR/USD tertekan -1,6% secara kuartalan akibat ketergantungan zona euro pada impor energi.
Negara-negara berkembang menanggung beban lebih berat. Rupiah Indonesia melemah ke Rp17.047 pada 19 Maret, tertekan ganda oleh penguatan dolar dan posisi Indonesia sebagai net importir energi. Inflasi tahunan Indonesia melonjak ke 4,76% pada Februari 2026 — tertinggi sejak Maret 2023. Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate di 4,75% dengan pergeseran sikap yang semakin hawkish, termasuk penghapusan panduan pemangkasan suku bunga ke depan pada pertemuan Maret.
Indeks saham dunia ikut terguncang. S&P 500 terkoreksi sekitar 9% dari puncaknya, ditutup -5,8% secara kuartalan. IHSG Indonesia mencatat penurunan terburuk di antara semua indeks utama global: -19,5% dalam satu kuartal, dengan outflow asing mencapai Rp18,6 triliun.
Proyeksi: Nasib Hormuz Tentukan Arah Q2
Memasuki kuartal kedua 2026, seluruh proyeksi pasar energi bergantung pada satu variabel tunggal: kapan dan bagaimana Selat Hormuz kembali beroperasi normal.
Tiga skenario utama tengah diperhitungkan pasar. Dalam skenario dasar dengan de-eskalasi parsial — probabilitas 45% — WTI diperkirakan bertahan di kisaran $85–100 per barel. Jika resolusi konflik tercapai lebih cepat dari ekspektasi, harga bisa kembali ke $60–70. Sebaliknya, jika eskalasi meluas, WTI berpotensi menembus $120–150 per barel dengan risiko krisis pasar berkembang secara luas. Goldman Sachs memproyeksikan Brent di $110 per barel untuk periode Maret–April.
Risiko stagflasi — kombinasi pertumbuhan melambat dan inflasi yang melonjak akibat harga energi — kini menjadi skenario yang semakin diperhitungkan serius oleh bank-bank sentral utama dunia menjelang semester kedua 2026.
Laporan ini disusun untuk tujuan informasi dan analisis semata. Tidak dimaksudkan sebagai saran investasi. Kinerja masa lalu bukan jaminan hasil masa depan. — Valbury Research, 1 April 2026