Ditulis berdasarkan analisis dan ditinjau oleh : Iswardi Lingga, CSA, CRP, CTAD
Pasar perak global mengalami gejolak ekstrem dalam beberapa minggu terakhir, dengan harga yang sempat menembus USD 120 per troy ounce pada akhir Januari 2026 sebelum anjlok hingga 41% dalam dua hari ke kisaran USD 71-75, menandai salah satu koreksi paling dramatis dalam sejarah perdagangan logam mulia.
Volatilitas ekstrem ini dipicu oleh kombinasi aksi jual besar-besaran, perubahan margin di bursa, serta aksi spekulatif yang tinggi. Namun, meskipun mengalami koreksi tajam, perak tetap mencatat kenaikan lebih dari 120% sepanjang 2025 dan awal 2026.
Permintaan Industri Melonjak dari Sektor Teknologi
Lonjakan harga perak sebelum koreksi didorong oleh permintaan industri yang sangat besar dari sektor panel surya, kendaraan listrik, dan infrastruktur kecerdasan buatan (AI). Konsumsi perak untuk panel surya diperkirakan mencapai 200-230 juta ons pada 2026, sementara permintaan dari sektor EV dan AI juga tumbuh pesat.
Teknologi sel surya N-type, yang kini semakin populer, membutuhkan perak hingga 30% lebih banyak dibanding teknologi lama, menambah tekanan pada pasokan global yang sudah terbatas.
Selain permintaan industri, perak juga menarik minat investor sebagai aset safe haven dan spekulatif. Arus masuk ke ETF perak dan produk derivatif melonjak, didorong oleh volatilitas harga emas dan tren de-dolarisasi global.
Defisit Struktural Terus Berlanjut
Pasokan perak dunia mengalami defisit struktural selama lima tahun terakhir. Produksi tambang stagnan karena sekitar 70% perak merupakan produk sampingan dari tambang tembaga, emas, dan seng, sehingga tidak mudah meningkatkan output meskipun harga naik.
Stok perak di gudang LBMA dan COMEX sempat terkuras ke level terendah dalam sejarah, meskipun pada awal 2026 terjadi pemulihan stok akibat aksi jual besar-besaran yang memicu flash crash tersebut.
Posisi Spekulan Capai Rekor Tertinggi
Data COT (Commitment of Traders) menunjukkan posisi spekulan besar seperti hedge funds di pasar futures perak berada di level tertinggi dalam sejarah, menandakan pasar sangat crowded dan rentan terhadap aksi ambil untung (profit taking).
Kondisi overbought inilah yang memperparah koreksi harga ketika aksi jual teknikal dan margin call di bursa berjangka terjadi bersamaan. Volatilitas perak yang jauh lebih tinggi dibanding emas membuat logam ini sering mengalami pergerakan harga yang sangat tajam dalam waktu singkat.
Tekanan Substitusi dan Efisiensi Mulai Muncul
Meskipun fundamental jangka panjang tetap solid, tantangan mulai muncul dari sisi permintaan. Permintaan perak dari sektor perhiasan dan peralatan rumah tangga mulai menurun, terutama di India, akibat harga yang terlalu tinggi.
Selain itu, produsen panel surya mulai melakukan penghematan (thrifting) dan mencari substitusi logam lain untuk menekan biaya produksi, yang dapat membatasi pertumbuhan permintaan industri di masa depan.
Proyeksi Harga: Antara Fundamental dan Spekulasi
Secara teknikal, harga perak saat ini berada di kisaran support USD 70-75 dengan resistance di USD 100-120 per ons. Koreksi tajam yang terjadi merupakan akibat dari aksi jual spekulatif dan margin call, namun secara fundamental masih didukung oleh defisit pasokan dan permintaan industri yang kuat.
Proyeksi harga untuk 2026 sangat bergantung pada perkembangan kebijakan moneter global dan dinamika permintaan-pasokan. Dalam skenario basis, harga perak diperkirakan bergerak di kisaran USD 70-90 per ons. Skenario bullish memproyeksikan harga USD 100-120 jika terjadi lonjakan permintaan safe haven akibat eskalasi geopolitik atau penurunan suku bunga agresif. Sementara skenario bearish memperkirakan harga USD 40-60 jika pemulihan ekonomi global lebih cepat dari ekspektasi dan permintaan industri melemah.
Faktor Eksternal Tetap Menjadi Kunci
Pelemahan dolar AS menjadi katalis utama kenaikan harga komoditas berbasis dolar termasuk perak. Indeks dolar turun ke 99,14 pada Januari 2026, didorong oleh ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed dan ketidakpastian kebijakan fiskal AS.
Kebijakan moneter longgar dari The Fed, ECB, dan PBoC mendukung harga logam mulia, sementara ketegangan geopolitik di Timur Tengah, konflik AS-Tiongkok, dan isu Laut China Selatan meningkatkan ketidakpastian global yang mendorong permintaan aset safe haven.
Namun, perlambatan ekonomi Tiongkok menjadi risiko eksternal terbesar bagi pasar komoditas global pada 2026, dengan penurunan permintaan dari negara tersebut yang dapat menekan harga logam industri termasuk perak.
Investor perlu mewaspadai volatilitas tinggi yang masih akan berlanjut sepanjang 2026, dengan fundamental yang kuat namun risiko spekulasi yang tetap mengintai pasar perak global.