Di antara berbagai indikator dalam pasar logam berharga, rasio Gold–Silver (XAU/XAG) menjadi salah satu alat analisis yang paling sering dipakai oleh trader profesional global, namun masih jarang dimanfaatkan secara mendalam oleh trader lokal. Padahal, memahami dinamika rasio ini dapat membuka peluang strategis—khususnya ketika pasar bergerak agresif akibat perilisan CPI, PCE, hingga keputusan The Fed yang mempengaruhi persepsi inflasi dan arah suku bunga.
Secara historis, inflasi yang meningkat cenderung mendorong harga emas naik sebagai aset lindung nilai. Perak juga mengikuti arah yang sama, namun tidak selalu dalam kecepatan yang setara. Perbedaan respons inilah yang menciptakan peluang trading berbasis rasio.
Artikel ini mengulas konsep rasio secara komprehensif, kapan perak tergolong undervalued, serta bagaimana memanfaatkan XAU/XAG untuk keputusan trading yang lebih presisi.
Apa Itu Rasio Gold–Silver (XAU/XAG)?
Rasio emas–perak memperlihatkan seberapa mahal harga emas dibanding perak dalam satuan troy ounce. Rumusnya sederhana:
Rasio XAU/XAG = Harga Emas ÷ Harga Perak
Contoh dengan kisaran harga yang lebih mendekati kondisi pasar saat ini:
- Harga emas: ~$4.200
- Harga perak: ~$58
Maka:
Rasio = 4.200 ÷ 58 ≈ 72
Cara membaca angka tersebut:
- Rasio tinggi (misal > 80–90) → mengindikasikan perak relatif undervalued dibanding emas. Dengan kata lain, harga emas jauh lebih mahal terhadap perak dari biasanya.
- Rasio rendah (misal < 60) → mengindikasikan perak relatif overvalued terhadap emas. Artinya, perak menjadi lebih mahal secara relatif dibanding emas.
Rasio di kisaran 72:1 menunjukkan posisi yang tidak ekstrem; emas memang masih lebih mahal secara historis, tetapi tidak berada pada level ekstrem undervaluation perak maupun sebaliknya.
Literatur akademik juga menyebutkan bahwa hubungan harga emas dan perak menunjukkan pola jangka panjang yang konsisten, terutama selama periode tekanan inflasi dan gejolak makroekonomi (Baur & Lucey, 2010; Riley, 2020).
Mengapa Rasio XAU/XAG Penting untuk Trader?
1. Mengidentifikasi Under/Overvaluation
Pergerakan emas biasanya lebih stabil, sementara perak lebih volatil. Ketika volatilitas ini menyebabkan kelonggaran harga, rasio memberi sinyal potensi reversion.
- Rasio naik tinggi → perak undervalued → peluang long XAG
- Rasio turun rendah → perak overvalued → peluang long XAU / short XAG
2. Respons yang Berbeda Terhadap Inflasi
Emas umumnya menjadi leading indicator terhadap inflasi dan risiko makro.
Perak sering tertinggal beberapa sesi karena memiliki fungsi industri yang kuat.
Dalam periode rilis data krusial seperti CPI, PCE, FOMC, emas biasanya bergerak duluan, menciptakan spread yang bisa di-trade sebelum perak mengejar.
Jurnal riset komoditas menunjukkan bahwa perak memiliki sensitivitas yang lebih besar terhadap siklus industri daripada emas, sehingga divergensi harga sangat umum terjadi (Toraman et al., 2011).
3. Peluang Strategis di Market Volatile
Ketika The Fed mempertahankan suku bunga tinggi, emas cenderung menahan apresiasi. Namun, perak dapat jatuh lebih dalam, memperbesar rasio → memberikan peluang swing trade berbasis reversion.
Bagaimana Cara Membaca dan Menggunakan Rasio XAU/XAG dalam Trading?
1. Tentukan Threshold Historis
Secara historis (50–70 tahun terakhir):
- Rasio rendah (<50) → perak relatif mahal
- Rasio tinggi (>80–90) → perak relatif murah
Level 100+ sering muncul pada periode krisis atau inflasi ekstrem.
2. Gunakan Chart Overlay untuk Divergensi
Gunakan grafik XAU, XAG, dan XAU/XAG secara bersamaan untuk identifikasi pola:
- Ketika emas naik cepat sementara perak stagnan → rasio mengembang → sinyal potensi mean reversion di perak
- Ketika perak naik agresif melebihi emas → rasio menyempit → antisipasi koreksi
3. Gunakan Strategi “Pair-Like Trading”
Bukan pair trading murni, tetapi pendekatan rasio spread:
Skenario – Rasio Tinggi (Mis. 90–100)
→ Perak undervalued
Strategi potensial:
- Long XAG
- Short XAU (opsional untuk hedging)
- Target profit: saat rasio kembali ke area 75–80
Skenario – Rasio Rendah (Mis. 45–55)
→ Perak overvalued
Strategi potensial:
- Long XAU
- Short XAG (opsional)
4. Kombinasikan dengan Sinyal Makro: CPI, PCE, dan The Fed
- CPI/PCE naik di atas ekspektasi → inflasi naik → emas bullish → rasio naik → cek peluang long XAG
- The Fed hawkish (menaikkan atau mempertahankan suku bunga tinggi) → tekan emas dan perak tapi perak sering jatuh lebih dalam → rasio naik → sinyal XAG bullish setelah fase panic selling
5. Konfirmasi dengan Volatilitas (ATR) dan Market Depth
Karena perak lebih volatil → pastikan ukuran posisi sesuai risiko.
Kapan Perak Disebut Undervalued Dibanding Emas?
Perak dianggap undervalued jika:
- Rasio XAU/XAG naik signifikan di atas rata-rata historis (biasanya >80)
- Divergensi harga muncul: emas rally → perak belum bergerak
- Volatilitas perak meningkat di fase fear-driven market
- Indikator industri mendukung pemulihan (ISM Manufacturing, permintaan industri global)
Dalam kondisi ini, trader global sering memanfaatkan perak untuk catch-up rally.
People Also Asked
1. Apa itu rasio emas dan perak?
Rasio emas–perak (XAU/XAG) adalah perbandingan harga emas terhadap perak untuk mengukur apakah perak sedang undervalued atau overvalued.
2. Bagaimana rasio ini digunakan untuk trading?
Trader menggunakannya sebagai indikator relatif untuk mencari divergence. Rasio tinggi → peluang long XAG. Rasio rendah → peluang long XAU.
3. Kapan perak undervalued dibanding emas?
Ketika rasio berada jauh di atas rata-rata historis, biasanya pada periode inflasi tinggi atau shock pasar.
Rasio Gold–Silver (XAU/XAG) memberikan perspektif unik untuk membaca peluang trading di tengah dinamika makro seperti CPI, PCE, dan keputusan The Fed. Dengan memahami kapan perak undervalued dan memanfaatkan divergensi harga, trader dapat membangun strategi yang lebih terukur dan berbasis data.
Pendekatan berbasis rasio ini sangat relevan untuk trader yang menginginkan keunggulan kompetitif tanpa bergantung pada teknikal konvensional.
Referensi
- Baur, D. G., & Lucey, B. M. (2010). Is Gold a Hedge or Safe Haven? Journal of Banking & Finance.
- Toraman, C., Basarir, Ç., & Bayramoglu, M. F. (2011). Determination of factors affecting the price of gold: a study of MGARCH model. Economic Modelling.
- Riley, W. (2020). Gold-silver price dynamics and macroeconomic conditions. Resources Policy.