- Emas Antam 1 gr naik tipis ke Rp1.944.000, bertambah Rp4.000 dari harga sebelumnya Rp1.940.000.
- Saham ANTM bergerak stagnan di Rp2.960 pada sesi II, sejauh ini bergerak di rentang Rp2.920- Rp3.010.
- Emas dunia bertahan di sekitar USD 3.395 per ons, dengan pasar global menanti data PCE, PDB AS, dan pidato Waller.
Harga emas batangan Antam 1 gram pada perdagangan Kamis tercatat naik tipis ke Rp1.944.000, bertambah Rp4.000 dibanding harga sebelumnya di Rp1.940.000. Pergerakan ini sejalan dengan kondisi pasar emas global yang tengah berkonsolidasi di area penting.
Dari lantai bursa, saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) pada sesi II diperdagangkan di Rp2.960. Harga sempat dibuka di Rp3.000, menyentuh level tertinggi harian di Rp3.010, lalu terkoreksi ke Rp2.920 sebelum kembali stabil. Pola terbatas ini memperlihatkan bahwa investor masih menunggu katalis baru dari arah harga emas internasional, yang saat ini diperdagangkan di kisaran USD 3.395 per ons.
Secara global, emas sempat terkoreksi tipis -0,07%, namun masih berada dalam rentang konsolidasi USD 3.330-USD 3.450. Area USD 3.400 dipandang sebagai resistance penting yang harus ditembus untuk memperkuat tren naik. “Harga emas turun dari kisaran USD 3.400 setelah mencapai level tertinggi baru dalam dua minggu pada sesi sebelumnya. Kekhawatiran atas otonomi Federal Reserve dan ancaman tarif AS terbaru dapat meredam penurunan lebih lanjut,” ujar Dhwani Mehta, Analis Senior FXStreet.
Dari sisi fundamental, pelaku pasar global masih menahan posisi menjelang rilis data penting dari AS malam ini: PDB Pendahuluan kuartal 2 (diproyeksikan 3,1%), PCE inti Pendahuluan kuartal 2 (diproyeksikan 2,6%), serta pidato Gubernur The Fed Christopher Waller yang dapat memberi petunjuk arah kebijakan moneter. Jika inflasi tetap tinggi dan The Fed mempertahankan sikap hawkish, emas berpotensi ditekan oleh penguatan dolar. Sebaliknya, sinyal pelonggaran bisa membuka ruang emas menembus resistance.
Investor juga menunggu data PCE AS Juli yang akan dirilis Jumat ini. Para ekonom memprakirakan inflasi PCE inti naik ke 2,9% YoY dari 2,8% Juni, dengan pertumbuhan bulanan stabil di 0,3%. Hasil ini akan menjadi pijakan penting bagi arah suku bunga Fed ke depan.
Di sisi lain, ketidakpastian politik AS menambah dinamika pasar. Presiden Donald Trump pekan ini merilis surat pemecatan terhadap Gubernur The Fed Lisa Cook atas tuduhan hipotek, yang kemudian ditanggapi Cook dengan gugatan hukum untuk mempertahankan posisinya. Peristiwa ini menimbulkan sorotan tajam terkait independensi The Fed.
Prospek Harga Emas (XAU/USD)
Harga emas global saat ini masih bertahan di atas area penting. Secara teknis, emas memperlihatkan fase konsolidasi dengan kecenderungan mendekati resistance utama di 3.400. Selama harga tetap berada di atas Exponential Moving Average (EMA) 50 di USD 3.344 dan jauh di atas EMA 200 di USD 3.100, tren jangka menengah masih positif.
Indikator Relative strength index (RSI) berada di 58,13, mengindikasikan momentum netral-bullish, memberi ruang kenaikan tanpa tanda jenuh beli. Jika harga mampu menembus dan bertahan di atas level 3.400, emas berpotensi melanjutkan rally menuju 3.500. Namun, kegagalan menembus resistance ini bisa memicu koreksi kembali ke zona 3.330 atau bahkan ke 3.275, dengan 3.100 menjadi support kuat jangka menengah. Arah harga berikutnya akan sangat dipengaruhi oleh rilis data makro AS dan pidato pejabat The Fed yang menentukan arah dolar serta minat investor terhadap aset lindung nilai.
Pertanyaan Umum Seputar Emas
Emas telah memainkan peran penting dalam sejarah manusia karena telah banyak digunakan sebagai penyimpan nilai dan alat tukar. Saat ini, selain kilaunya dan kegunaannya sebagai perhiasan, logam mulia tersebut secara luas dipandang sebagai aset safe haven, yang berarti bahwa emas dianggap sebagai investasi yang baik selama masa-masa sulit. Emas juga secara luas dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan terhadap mata uang yang terdepresiasi karena tidak bergantung pada penerbit atau pemerintah tertentu.
Bank-bank sentral merupakan pemegang Emas terbesar. Dalam upaya mereka untuk mendukung mata uang mereka di masa sulit, bank sentral cenderung mendiversifikasi cadangan mereka dan membeli Emas untuk meningkatkan kekuatan ekonomi dan mata uang yang dirasakan. Cadangan Emas yang tinggi dapat menjadi sumber kepercayaan bagi solvabilitas suatu negara. Bank sentral menambahkan 1.136 ton Emas senilai sekitar $70 miliar ke cadangan mereka pada tahun 2022, menurut data dari World Gold Council. Ini merupakan pembelian tahunan tertinggi sejak pencatatan dimulai. Bank sentral dari negara-negara berkembang seperti Tiongkok, India, dan Turki dengan cepat meningkatkan cadangan Emasnya.
Emas memiliki korelasi terbalik dengan Dolar AS dan Obligasi Pemerintah AS, yang keduanya merupakan aset cadangan utama dan aset safe haven. Ketika Dolar terdepresiasi, Emas cenderung naik, yang memungkinkan para investor dan bank sentral untuk mendiversifikasi aset-aset mereka di masa sulit. Emas juga berkorelasi terbalik dengan aset-aset berisiko. Rally di pasar saham cenderung melemahkan harga Emas, sementara aksi jual di pasar yang lebih berisiko cenderung menguntungkan logam mulia ini.
Harga dapat bergerak karena berbagai faktor. Ketidakstabilan geopolitik atau ketakutan akan resesi yang parah dapat dengan cepat membuat harga Emas meningkat karena statusnya sebagai aset safe haven. Sebagai aset tanpa imbal hasil, Emas cenderung naik dengan suku bunga yang lebih rendah, sementara biaya uang yang lebih tinggi biasanya membebani logam kuning tersebut. Namun, sebagian besar pergerakan bergantung pada perilaku Dolar AS (USD) karena aset tersebut dihargakan dalam dolar (XAU/USD). Dolar yang kuat cenderung menjaga harga Emas tetap terkendali, sedangkan Dolar yang lebih lemah cenderung mendorong harga Emas naik.