< Kembali

Daily Investment Summary 21 November 2019

21 November 2019



Global-  Proses perampungan dari kesepakatan dagang 'fase satu' antara Amerika Serikat (AS)-China tak akan terjadi tahun ini.
Kedua negara yang berseteru yakni AS dan China terus menerus mengalami kebuntuan dalam rapat-rapat yang dilakukan. Tekanan China yang terus meminta agar AS menghapuskan lebih banyak tarif impor membuat pembicaraan mandek. Trump menilai mengurangi bea masuk, seperti harapan China, membutuhkan kompensasi yang lebih besar, sehingga harus ada hal yang lebih dari sekedar isu kekayaan intelektual dan transfer teknologi inti serta ekspor pertanian yang diajukan pemerintahan AS.

 
Asia- Mayoritas mata uang utama Asia melemah terhadap dolar AS: won Korea Selatan paling terdepresiasi setelah melemah 0,23%, yuan China pada posisi runner up dengan pelemahan 0,15%, ringgit Malaysia melengkapi tiga besar setelah melemah 0,1%.
 
Indonesia- Pasar obligasi diprediksi masih akan terkoreksi dalam jangka pendek, meskipun masih dapat menguat pada periode jangka menengah dan panjang karena perkembangan pasar keuangan global yang masih belum kondusif dan semakin panas. Seri acuan yang paling melemah adalah FR0078 dan FR0077 yang bertenor 10 tahun dan 5 tahun, dengan yield masing-masing 0,3 basis poin (bps) menjadi 7,05% dan 6,49%. Dari domestik, sisi positif yang dapat menjaga momentum dan mendukung pasar obligasi pemerintah agar koreksi tidak terlalu besar adalah masih derasnya aliran dana investor asing ke pasar SUN hingga berada pada angka Rp 1.066,67 triliun per 19 November. Bank Indonesia (BI) diperkirakan menghentikan penurunan suku bunga acuan di Rapat Dewan Gubernur pada November 2019, sebagai antisipasi turunnya daya tarik instrumen keuangan dalam negeri yang dapat memicu pelebaran defisit transaksi berjalan. Artinya, BI akan mempertahan suku bunag 7-Day Repo Rate di 5% hingga akhir tahun 2019.
 

 

 



Source: berbagai sumber diolah kembali

Download: PDF