< Kembali

Daily Investment Summary 01 Juli 2020

01 July 2020



Global -
Kendati dibuka rebound, sentimen bursa global masih dibayangi juga oleh adanya konflik AS-Cina, yang hari ini telah meloloskan UU Keamanan Nasional untuk Hongkong. UU tersebut memungkinkan Beijing dapat mem-by pass system legislasi Hongkong, sehingga dikhawatirkan akan mencampuri kepastian hukuk di Hongkong yang sejak lama menjadi daya tarik bagi investor. Sebelumnya, AS telah mengancam untuk mencabut status preferensi perdagangan dan juga akan mengembargo senjata untuk Hongkong. Dengan diloloskannya UU ini, pasar sepertinya akan bersiap melihat gesekan yang lebih tinggi antara Beijing-Washington dan memberikan ketidakpastian dalam jangka waktu menengah. Sementara itu, dalam penyampaian outlook terbarunya, The Fed mengatakan bahwa ketidakpastian ekonomi AS masih sangat besar, kendati daya beli dan angka pengangguran membaik namun masih jauh dari level pra- pandemi.

 
Asia - Saham-saham di bursa utama Asia Timur bergerak menguat cukup tinggi pada perdagangan Selasa (30/06) dengan Nikkei 225 yang rebound 0,71%, disusul oleh Kospi yang meningkat 1,33%. Sementara itu, Hangseng dan Shanghai juga menguat masing-masing 0,44% dan 0,78%. Penguatan bursa tersebut setelah Cina mengumumkan aktivitas manufacturing yang lebih kuat dibandingkan ekspektasi. Pada score PMI Juni 2020 mencapai 50,9 dibandingkan proyeksi consensus 50,4. Adapun, score diatas 50 menyiaratkan aktivitas bisnis yang ekspansif. Menurut National Bureau of Statistics, kenaikan PMI Cina tersebut menguat dibandingkan PMI Mei 2020 yang berada pada angkat 50,6, merefleksikan permintaan yang lebih baik seiring dengan pelonggaran aktivitas ekonomi di Negara-negara importir. Meski demikian, Cina sendiri memberikan warning mengenai kemungkinan ketidakstabilan demand kedepannya karena situasi ketidakpastian yang masih sangat tinggi, mengingat pandemic masih belum dapat dikendalikan di banyak Negara.
 
Indonesia - Mengikuti bursa Asia, IHSG bergerak flat, namun Rupiah ditutup melemah setelah menguat menjadi Rp 14,265 dibandingkan pembukaan yang di kisrana Rp14,100-an. Pelemahan Rupiah ini disinyalir setelah The Fed memproyeksik ekonomi AS yang masih lemah, sehingga akan berimbas secara global. Di sisi lain, ketidakpastian pasar masih sangat besar baik dari issue covid-19 hingga konflik AS-Cina, sehingga pasar cenderung bergerak terbatas.
 




Source: berbagai sumber diolah kembali

Download: PDF