< Kembali

Daily Investment Summary 07 Juni 2021

07 June 2021



Global - Bursa saham global cenderung bergerak variatif pada perdagangan minggu ini ditengah wait-and-see pasar terhadap pengumuman data tenaga kerja AS pada bulan Mei 2021 yang akah dirilis pada akhir pekan. Diperkirakan, tenaga kerja yang berhasil diciptakan dapat mencapai 600.000 pada bulan tersebut, sehingga tenaga kerja yang belum terserap dapat turun menjadi 7,6 juta pekerja, namun kami menilai ketidakpastiannya masih cukup tinggi karena banyak pengusaha yang mengeluhkan sulitnya mencari tenaga kerja, namun angka penyerapan masih cenderung lambat, yang menunjukkan indikasi stimulus yang besar justru mendorong penganggur untuk tidak terburu-buru mencari pekerjaan. Di sisi lain, dengan inflasi yang meningkat namun penyerapan tenaga kerja yang pelan justru menciptakan kekhawatiran lebih lanjut dengan adanya stagflasi, karena penyerapan tenaga kerja yang rendah pastinya menghalangi pertumbuhan ekonomi, walaupun saat ini resiko tersebut cenderung kecil karena disatu sisi, AS telah berhasil memvaksinasi separuh populasinya sehingga pembukaan bisnis berlangsung lebih cepat. Imbal hasil obligasi AS naik menjadi 1,632% dan mendorong kenaikan indeks dolar AS. Sementara itu, komoditas minyak cenderung menguat dan brent sempat menyentuh USD72 per barrel ditengah kenaikan inflasi. Adapun, resiko juga datang setelah presiden AS Joe Biden mengumumkan akan merestriksi investasi terhadap perusahaan yang berafiliasi terhadap militer Cina dan bergerak di bidang surveillance.
 
Asia - Nikkei 225 naik 1,37% dalam seminggu terakhir, sedangkan Hangseng turun 0,67%. Kemudian, Shanghai melemah 0,47% sepanjang pekan.
 
Indonesia - IHSG menguat kencang 3,82% dalam seminggu terakhir yang berakhir Jumat (04/06) namun Rupiah cenderung melemah dan bergerak di atas Rp14,300. Asing mencatakan NET BUY yang signifikan sebesar Rp3,97 triliun dengan saham-saham yang menjadi sasaran net BUY adalah BBRI, BBCA, BMRI dan UNTR. Kenaikan IHSG yang tinggi karena pembukaan ekonomi di AS dan Eropa sehingga mendorong harga komoditas yang naik. Sedangkan, dari dalam negeri, Fitch memperkirakan Indonesia dapat tumbuh lebih dari 5% YoY pada 2021 dengan deficit anggaran yang diperkirakan akan lebih turun daripada tahun lalu. Sedangkan, inflasi diperkirakan akan berada pada 2,2% pada tahun ini.
 



Source: berbagai sumber diolah kembali

Download: PDF