< Kembali

Daily Investment Summary 14 February 2022

14 February 2022



Global - Bursa saham global cenderung turun pada perdangan hari terakhir minggu ini (11/02) menyusul saham-saham Wall Street yang berjatuhan merespon rilis inflasi. Inflasi AS pada Januari 2022 lebih tinggi dibandingkan consensus yakni mencapai 7,5% YoY dibandingkan 7,2% YoY estimasi. Angka ini yang tertinggi sejak tahun 1982. Adapun, secara MoM, angka inflasi naik 0,6% dibandingkan dengan estimasi 0,4%. Sementara itu, angka inflasi inti juga mencapai 6% YoY, dibandingkan dengan estimasi 5,9% YoY. Tingginya inflasi ini salah satunya akibat kenaikan harga energy naik 27% YoY, sedangkan bahan bakar bahkan mencapai 47% YoY.Di sisi lain, angka kenaikan upah justru melambat hanya mencapai 0,1% MoM dengan angka jobless claim mencapai 223.000 atau relative sesuai estimasi. Tekanan inflasi yang tinggi ini mengkhawatirkan pasar, dan membuka peluang The Fed untuk melakukan pengetatan agresif pada Maret 2022 ini. Sehingga, kemungkinan The Fed untuk menaikkan suku bunga 50bps sekaligus menjadi cukup tinggi. Merespon rilis ini, imbal hasil obligasi AS naik mencapai 2%. Sebagian meramalkan, suku bunga akan tetap dinaikkan 25bps namun kenaikan dapat mencapai tujuh kali tahun ini. Akan tetapi, pasar juga berekspektasi bahwa inflasi akan menurun dalam bulan-bulan depan, mengingat tanda-tanda supply yang mulai mengalami perbaikan. Akan tetapi, masih memerlukan waktu agar inflasi berada di level yang terkendali. Namun, merespon kabar ini, Shanghai dan Hangseng melemah masing-masing 0,66% dan 0,07% hari ini, namun secara kumulatif minggu ini menjadi +2,02% dan +4,64%. Sedangkan, indeks-indeks utama Eropa dalam waktu penulisan, diprediksi diakhiri di zona merah.
 
Indonesia - IHSG koreksi 0,12% tetapi dalam seminggu terakhir naik 1,25% namun rupiah ditutup melemah Rp14.381 per dolar AS. Kendati demikian, asing mencatat posisi NET BUY tinggi Rp7,05 triliun di pasar regular dalam sepekan terakhir dengan saham-saham yakni BBRI, TLKM, BBNI dan BMRI. Sepanjang minggu ini, sentiment eksternal membayangi IHSG terutama berkaitan dengan data inflasi AS dan kemungkinan kenaikan suku bunga agresif. Namun, kondisi domestic cenderung berhasil meredam volatilitas pasar, yakni pertumbuhan PDB yang baik yakni pada 4Q21 mencapai lebih dari 5% YoY, walaupun secara 2021, berada dibawah ekspektasi 4%, yakni hanya 3,7% YoY tetapi dianggap baik oleh pasar.
 





Source: berbagai sumber diolah kembali

Download: PDF