< Kembali

Daily Investment Summary 16 September 2020

16 September 2020



Global– Saat ini, pergerakkan pasar saham global merujuk pada angka-angka ekonomi Negara utama seperti AS dan Cina sebagai rujukan arah perekonomian global. Adapula, market akan cenderung sensitive terhadap pergerakkan data ekonomi Cina. Sementara itu, investor juga tengah wait-and-see terhadap angka penjualan ritel di AS yang dijadwalkan akan dirilis pada Rabu (16/09) waktu setempat dan juga rapat FOMC The Fed minggu ini yang diperkirakan tidak berubah dibandingkan kebijakan moneter bulan lalu.
 
Asia - Saham-saham di bursa utama Asia Timur bergerak mixed pada perdagangan Selasa (15/09) dengan Nikkei 225 melemah 0,44% ditengah antisipasi public Jepang terhadap pembentukan cabinet baru setelah Yoshihide Suga terpilih sebagai perdana menteri Jepang yang baru menggantikan Shinzo Abe yang mundur karena alasan kesehatan. Kemudian, Kospi masih rally 0,65%, disusul oleh Shanghai dan Hangseng yang menguat masing-masing 0,51% dan 0,38%. Penguatan bursa Hangseng dan Shanghai ini didorong oleh rilis data ekonomi Cina yang menunjukkan arah recovery yang cukup sustainable. Produksi Cina dan penjualan ritel mengalami penguatan pada Agustus 2020 yang menjadi yang pertama selama tahun ini. Penjualan ritel menguat 0,5% Yoy pada Agustus 2020 dengan penjualan perangkat komunikasi naik tajam 25,1% YoY dan penjualan mobil naik 11,8% YoY. Namun, secara kumulatif sepanjang tahun ini, penjualan ritel masih melemah 8,6% YoY. Sementara itu, angka pengangguran Cina juga membaik dari 5,7% pada Juli 2020 menjadi 5,6% pada Agustus 2020. Sementara itu, produksi industry di Cina tumbuh 5,6% YoY, namun fixed asset investment declined 0.3% dalam setahun terakhir.
 
Indonesia - IHSG bergerak koreksi 1,18% setelah terapresiasi sangat tajam pada dua hari terakhir. Koreksi IHSG dapat dilihat sebagai koreksi teknikal. Sementara itu, Rupiah bergerak stabil dan ditutup Rp14,856 per dolar AS. Asing masih bertahan pada posisi net sell yang mencapai Rp1,11 triliun di seluruh jenis pasar. Asian Development Bank (ADB) memproyeksi ekonomi Indonesia akan tumbuh pada kisaran 5,3% pada 2021 setelah mengalami pukulan berat akibat pandemi Covid-19 tahun ini. Pada 2020, ekonomi Indonesia diperkirakan akan terkontraksi -1,0 persen. Kontraksi ini merupakan yang pertama kalinya sejak krisis finansial di Asia pada 1997-1998. Pandemi Covid-19 menyebabkan hampir seluruh indikator ekonomi Indonesia menurun, termasuk konsumsi, investasi, dan perdagangan. Pasalnya, pandemi menyebabkan aktivitas domestik dan permintaan eksternal menjadi terhambat.
 




Source: berbagai sumber diolah kembali

Download: PDF