< Kembali

Daily Investment Summary 17 November 2021

17 November 2021



Global - Saham-saham diperdagangkan di bursa global kembali variatif pada Selasa (16/11) setelah Wall Street terkoreksi tipis. Namun, Asia Timur secara umum menguat setelah sentiment positif dari pembicaraan Presiden AS Joe Biden dan Pemipin Cina Xi Jinping yang berlangsung secara virtual berlangsung cukup mulus dan cenderung friendly. Kedua negara juga bersepakat untuk terus meningkatkan komunikasinya, sebagai gesture menurunkan tensi ketegangan yang sering mewarnai situasi geopolitik global.  Selain itu, inflasi tinggi yang terlihat di AS juga masih menjadi kekhawatiran utama, mendorong kenaikan dolar AS dan yield obligasi AS. Ditengah gelombang moneter yang mengetat, disisi lain, ECB berkomitmen untuk terus mempertahankan moneter ultra longgar. Walapun, demikian, BoE diproyeksi akan menaikkan suku bunga pada bulan ini.
 
Asia - Nikkei 225 naik 0,11%. Disusul oleh Hangseng yang juga menguat 1,27% tetapi Shanghai justru turun 0,33%. Selain dari pembicaraan kedua negara yang mulus, pasar Asia juga merespon data ekonomi Cina yang lebih baik dibandingkan ekspektasi yakni kenaikan output 3,5% YoY per Oktober 2021 yang lebih tinggi dibandingkan ekspektasi sebelumnya 3,1% YoY. Sementara itu, penjualan ritel yang meningkat 4,9% YoY pada Oktober 2021 dibandingkan ekspektasi 4,4% YoY, kendati pemerintah Cina masih memberlakukan karantina secara ketat dan kebijakan zero covid policy. Namun, kami menilai faktor utama pemberat bursa Cina untuk menguat lebih lanjut yakni keadaan industri property yang tengah tertekan oleh adanya krisis utang, yang dapat menghambat recovery Cina karena berkontribusi 25-30% terhadap PDB.
 
Indonesia - IHSG rebound 0,53% dengan Rupiah cenderung turun pada Rp14.245 per dolar AS ditengah aksi asing melakukan aksi NET SELL mencapai Rp348,89 miliar di seluruh pasar, dengan saham-saham yang menjadi sasaran antara lain BBRI, BBCA, BUKA dan ADRO. Penguatan IHSG mengikuti sentiment geopolitik yang positif yakni adanya pembicaraan antara AS dan Cina. Selain itu, sentiment positif IHSG berasal dari surplus perdagangan Indonesia yang meningkat USD5,7 miliar pada Oktober 2021 yang masih terimbas penguatan harga komoditas batubara dan juga CPO. Penguatan neraca dagang mempersempit proyeksi defisit transaksi berjalan yang diprediksi dapat mencapai dibawah 1% tahun ini.
 





Source: berbagai sumber diolah kembali

Download: PDF