< Kembali

Daily Investment Summary 18 January 2022

18 January 2022



Global - AS melaporkan penjualan ritel pada Desember turun 1,9% YoY, dan secara penjualan inti juga berkurang 3,1%. Kendati demikian, pelemahan penjualan ritel disinyalir bukan disebabkan oleh pelemahan daya beli namun adanya aktivitas belanja yang dipercepat pada bulan sebelumnya. Pasar masih cukup yakin bahwa konsumsi AS masih kokoh. Di sisi lain, Eropa cenderung tentative bergerak naik. Kemudian, minyak dunia juga masih bullish dengan WTI dan Brent masing-masing mencapai kisaran USD84 dan USD86 per barrel. Pasar AS ditutup pada Senin karena adanya libur nasional.
 
Asia - Bursa Asia bergerak mayoritas menguat pada perdagangan awal pekan (17/01), dengan Nikkei 225 naik 0,74%, diikuti oleh Shanghai yang menguat 0,58%. Namun, Hangseng terkoreksi 0,68%. Penguatan sebagian besar bursa Asia ditopang oleh pertumbuhan ekonomi Cina yang relative sesuai dengan ekspektasi. Cina melaporkan pertumbuhan PDB sepanjang 2021 naik 8,1% YoY, secara YoY cenderung lebih rendah dibandingkan ekspektasi pasar sebesar 8,4% YoY, tetapi jika dilihat pada 4Q21 ekonomi Cina tumbuh 4% YoY, lebih tinggi dibandingkan dengan proyeksi sebesar 3,6% YoY. Kendati demikian, jika dilihat dari segi konsumsi, penjualan ritel Cina cenderung melemah dan hanya mencapai 1,7% YoY dibandingkan ekspektasi diatas 3%.Hal ini juga mendorong PBoC untuk melakukan pelonggaran lebih lanjut dengan memotong suku bunga acuan medium term lending facility sebesar 10bps menjadi 2,85%, untuk melepas lukuiditas 700 miliar Yuan. Dukungan dari moneter ini sesuai dengan harapan pasar, bahkan besaran pemotongan suku bunga lebih tinggi dibandingkan ekspektasi. Kebijakan Cina ini berkebalikan dengan kebijakan The Fed yang telah memulai kebijakan tapering.
 
Indonesia - IHSG ditutup di zona merah -0,72%, tetapi Rupiah cenderung melemah pada Rp14.337 per dolar AS. Meski demikian, catatan NET BUY asing cukup masih berlanjut, mencapai Rp283,07 miliar di pasar regular, dengan saham-saham yang menjadi sasaran BUY antara lain, BBCA, BBNI, ARTO dan ADRO. Kami menilai pergerakkan IHSG cenderung masih sideways karena ketikdakpastian yang tinggi terutama dari perkembangan virus Omicron terutama di Jakarta yang kembali penambahan 1.000 kasus. Sehingga ada sekitar 8.600 kasus aktif covid-19. Di sisi lain, harga komoditas terkoreksi terutama CPO ditengah pelemahan konsumsi di India dan Cina.
 




Source: berbagai sumber diolah kembali

Download: PDF