< Kembali

Daily Investment Summary 19 May 2020

19 May 2020



Global - Saat ini, kontrak Brent berada di level USD33,72 per barrel dan WTI berada pada USD30,60 per barrel, mengakhiri tren harga kisaran USD20 per barrel sejak Maret 2020 lalu. Dalam wawancaranya pada CBS, Chairman The Fed Jerome Powell mengatakan bahwa ekonomi AS dapat turun hingga 30% pada 2Q20, namun tampaknya tidak berada dalam tahap depresi dalam jangka panjang. Namun, tingkat pengangguran AS diprediksi akan cukup mendekati tahap The Great Depression tahun 1930-an yakni menyentuh 25%. Meski demikian, Powell percaya kekuatan AS dengan system finansial yang kuat akan mendorong AS untuk rebound cukup tajam jika waba ini berakhir, namun diprediksi tidak akan secepat pada akhir tahun. Adapun, Powell memprediksi pertumbuhan AS akan kembali positif pada 3Q20. Bagi Powell, adanya stimulus pemerintah yang menyentuh USD3 triliun untuk mengatasi wabah akan mencegah AS untuk jatuh pada jurang yang sama ketika The Great Depressions. Lagipula, alasan krisis saat ini bukanlah terjadinya “kesalahan” dalam system ekonomi seperti asset bubble pada tahun 2008 atau fundamental ekonomi lainnya, akan tetapi adanya kebijakan-kebijakan pembatasan untuk meredam coronavirus.
 
Asia - Saham-saham di bursa utama Asia bergerak naik pada perdagangan awal pekan (18/05) diawali oleh Dow Futures bergerak naik 200 poin ditengah kenaikan harga minyak WTI dan Brent yang masing-masing naik 4% setelah permintaan terhadap minyak lebih tinggi dibanding yang diperkirakan sebelumnya. Nikkei 225 naik 0,5% kendati Tokyo mengumumkan kontraksi 3,4% YoY pada 1Q20, disusul oleh Kospi dengan kenaikan 0,5%, Shanghai dengan 0,2% dan Hang Seng dengan 0,6%. Meski demikian, kenaikan saham-saham di Asia tampaknya masih cukup volatile mengingat proyeksi The Fed terhadap ekonomi yang sangat bearish.
 
Indonesia - IHSG bergerak naik 0,8% ditengah tren penguatan Rupiah masih terus berlanjut dan menyentuh Rp14,820 per dolar AS. Pemerintah tengah menyiapkan skema the new normal untuk mengembalikan ekonomi. Meski demikian, skema new normal tersebut banyak ditenggapi dingin sebagian warga akibat penangangan covid-19 yang masih belum efektif dan angka pengumuman kasus yang belum juga mencerminkan aslinya.
 








Source: berbagai sumber diolah kembali

Download: PDF