< Kembali

Daily Investment Summary 20 September 2021

20 September 2021



Global - AS baru saja merilis data penjualan ritel yang lebih kuat dibandingkan estimasi pada Agustus 2021 mencapai tumbuh 0,7% MoM sedangkan estimasi turun 0,8% MoM. Kenaikan penjualan ritel yang cukup baik ini mengkompensasi rilis data jobless claims yang lebih buruk dibandingkan estimasi. AS mencatatkan jobless claim sebesar 332.000 pada minggu lalu, dibandingkan dengan estimasi 320.000 yang kemungkinan disebabkan efek dari Badai Ida. Namun, untuk continuing claims justru turun ke titik terendah sepanjang pandemic yakni sebesar 187.000 menjadi 2,6 juta. Ditengah resiko yang masih tinggi dan vaksinasi yang cenderung lambat pasar masih dalam mode wait-and- see terutama The Fed untuk tapering. Sebelumnya dalam Beige Book yang dirilis The Fed memprediksi ekonomi AS akan semakin membaik pada kuartal selanjutnya, dan mengakui adanya moderasi kegiatan ekonomi pada Juli-Agustus.
 
Asia - Bursa saham Asia cenderung variatif sepanjang minggu ini yang berakhir Jumat (17/09), dengan Nikkei 225 yang ditutup berhasil mencatat gain 1,64%. Namun, baik Shanghai dan Hangseng sama- sama mencatatkan penurunan masing-masing 2,14% dan 3,09%. Sentimen yang secara dominan mendorong bursa Asia antara lain tindakan pemerintah Cina yang membatasi ruang gerak perusahaan teknologi finansial dan juga gaming. Di sisi lain, pertumbuhan Cina mengalami tanda-tanda pelambatan yang terlihat dari rilis penjualan ritel yang jauh lebih rendah daripada estimasi pada bulan Agustus 2021 karena impact penyebaran Delta yang memaksa pemerintah mengurung wilayah. Pelambatan ekonomi Cina dapat menjadi sinyal yang kurang baik untuk ekonomi global .
 
Indonesia - Kendati bergerak sideways sepanjang minggu ini, IHSG ditutup naik 0,63% dengan Rupiah cenderung melemah menjadi Rp14.226 per dolar AS. Sepanjang pekan ini, asing bertahan pada NET BUY senilai Rp1,48 triliun dengan saham-saham yang menjadi sasaran net BUY antara lain BBRI, BUKA, BBCA, dan ASII. Pergerakkan indeks yang cenderung mendatar secara kumulatif pekan ini akibat dari kurangnya sentiment positif baik terutama dari global dan ketidakpastian yang tinggi. Sementara itu, tapering off yang kemungkinan dilakukan pada 4Q21 dan tanda-tanda pelambatan ekonomi Cina menjadi penyebab stagnannya pergerakkan bursa. Adapun, minggu ini Indonesia mencatatkan surplus neraca dagang yang tertinggi sepanjang sejarah yakni USD4,7 miliar pada Agustus karena kenaikan komoditas.
 





Source: berbagai sumber diolah kembali

Download: PDF